Menulis adalah Soal Keberanian, Eh?

Pabila cinta memanggilmu, ikutilah ia walau jalannya terjal berliku-liku. Dan pabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu (The Prophet, Kahlil Gibran)

Suatu malam, aku ditelpon oleh seseorang. Ia seorang blogger yang sebentar lagi bukunya akan diterbitkan oleh sebuah penerbit Jakarta. Tapi apa yang ia sodorkan pada kalimat pertamanya di telpon membuatku mengernyitkan dahi. Untuk memudahkan, kita sebut saja dia dengan panggilan Zus. Begini kira-kira isi telpon si Zus itu:

“Aku nih sebetulnya sedang ketakutan, Mas.”
“Ketakutan?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Bukuku bentar lagi terbit…”
“Lha? Kenapa ketakutan?”
“Nggak bisa ngebayangin, apa kata orang-orang nanti…”
“Lha, gimana kamu ini. Belum-belum kok malah sibuk dengan apa kata orang nanti.”
“Ya nggak tau, takut aja kalau nanti bukuku dicela orang. Hu-hu-hu. Gimana dong, Mas…”
“He, Zus, dengar ya: menulis itu soal keberanian!”
“Keberanian gimana maksudnya?”

Continue Reading »

Datang dan Pergi

Segala sesuatu terjadi karena sesuatu alasan. Karena setiap sebab ada akibat dan setiap akibat ada sebab, entah Anda mengetahuinya atau tidak, pasti ada sesuatu sebab atau sebab-sebab khusus. Tidak ada yang kebetulan (Brian Tracy)

Kemarin siang, di tengah-tengah kesibukan kerja yang teramat ketat (bisa nggak sih orang-orang itu memberi kesempatan kepadaku untuk menarik nafas barang sehela-dua hela?), tiba-tiba masuk sebuah SMS dari seorang kawan. Seorang dosen Universitas Negeri Padang. Ia mengabarkan sebuah berita gembira: bahwa putra pertama mereka baru saja lahir dengan selamat ke bumi. Lengkap dengan waktu, berat bayi, serta nama yang cantik.

SMS tersebut nyaris ku-pending mengingat aku sedang menyelesaikan sesuatu. Tapi karena kebiasaan SMS yang ku-pending balas biasanya bakal kelupaan dan baru ingat nanti saat tengah malam atau pukul 2 dini hari ketika merapih-rapihkan SMS-SMS yang masuk dalam sehari. Maka dengan cepat kutekan saja tombol reply untuk membalas. Sekadar mengucapkan bentuk selamat.

Belum lagi usai merawi kata di SMS, tiba-tiba masuk lagi sebuah SMS. Kali ini dari seorang kawan yang berdomisili di Batu, Malang, Jawa Timur. Begitu membaca SMS yang belakangan masuk, sontak aku terhenyak. Terkelu. Diam tidak bisa berkata apa-apa. Sementara SMS yang satu belum lagi terbalas, kini malah mendapatkan SMS yang membuatku membatu di ruang kerja.

Continue Reading »

Kompas 9 Oktober

Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, hal. 52)

Siapa yang menyimak harian Kompas edisi 9 Oktober 2008 kemarin? Bagaimana menurut Anda? Aku tak begitu suka dengan Kompas edisi tersebut. Bukan, bukan content-nya. Tapi lebih pada ucapan Idul Fitri dari Partai Demokrat yang diletakkan di halaman depan yang terpasang setengah halaman koran penuh berbentuk vertikal.

Memang terkesan unik (aduh, apa jenis iklan koran semacam itu. -Kemana saja ilmu kuliahmu woi!). Setengah halaman vertikal di depan, lantas menyambung ke halaman belakang secara normal. Teks Kompas serta keterangan waktu edisi terbit masih tampak nyata meski berbeda halaman. Namun ya itu tadi, bagiku pribadi cukup mengganggu. Mengganggu?

Ya. Di sana, selain tampak foto Presiden SBY (meski tidak dalam kapasitas presiden), terdapat teks berbunyi: Partai Demokrat Bersama SBY Mengucapkan Mohon Maaf Lahir & Batin. Dilengkapi logo partai plus nomor urut pemilu. Di baliknya, berisi opini orang-orang atas judul pertanyaan Mengapa Rakyat Memilih Partai Demokrat?

Weh, ini jelas koran nasional. Dengan tiras yang tak sedikit tentu. Peletakan ucapan Idul Fitri dari sebuah partai peserta pemilu semacam itu, tidak bisa tidak: jelas mencuri perhatian. Akan berbeda sama sekali jika dipasang di halaman dalam, meski satu halaman penuh sekalipun.

Continue Reading »

Kebiasaan atau Percepatan?

kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, hal. 436)

Dulu aku pernah membuat kartu lebaran dengan konsep halaman depan koran harian. Isinya, meskipun bergaya koran, tetap berupa ucapan lebaran. Kenapa aku bikin seperti itu, alasannya sederhana saja: ingin lain dari yang lain. Siapa nyana, setiap teman yang menerima selalu menilai unik dan suka. Tapi sebetulnya tak ada yang tahu, bahwa aku membuat kartu tersebut dengan teknis yang sangat-sangat manual dan sederhana. Maksudnya?

Aku mengetik di Microsoft Word (atau mungkin Amipro? Lupa!), setelah itu aku print, lalu aku tempel di sebuah karton manila ukuran A2. Ditempel sesuai format halaman koran plus ditempeli foto. Begitu selesai, aku potret, jepret! Lalu aku cetak dengan ukuran 4R atau 5R. Kuperbanyak sesuai kebutuhan sebagai kartu lebaran. Tak ada yang tahu, kartu lebaran berupa foto itu kubuat dengan teknik mounting yang sangat-sangat manual. Orang hanya tahu dalam bentuk jadinya saja.

Beberapa saat sejak masa itu, bermunculan program DTP atau desktop publishing: Pagemaker. Olala!! Bahwa apa yang kubuat dengan kartu lebaran kemarin itu bisa dengan mudah di-lay out di Pagemaker. Bahkan juga di Corel. Hhh! Aku memang tidak pernah mengalami masa Quack Express, salah sebuah program DTP juga (menurut seorang kawan designer, hingga saat ini masih ada penerbit yang menggunakan Quack Express).

Continue Reading »

If I Could Be Where You Are…

Where are you this moment
Only in my dreams
You’re missing, but you’re always
a heartbeat from me

I’m lost now without you
I don’t know where you are
I keep watching,
I keep hoping,
but time keeps us apart

Is there a way I can find you?
Is there a sign I should know?
Is there a road I could follow,
to bring you back home?

Continue Reading »

Next Page »