Archive for April, 2001

Surat Untuk Siti Maemunah

 

matahari menggelumbang bagai sassus yang mengekor

pada setiap perjunjungan di bumi manapun

manusia hidup dan beranak

aku melenguh di sini memilin penderitaan sejak

Salemba, Nusa Kambangan, Buru, atau manalagi?

antara kerja paksa, dianiaya, dicekik, ditendang, diludahi,

dan dihantam popor senjata hingga gendang telingaku rusak

hih, mereka nampaknya mau mencukil mataku, Mae?

hmmm… apa kabarmu istriku, Mae?

aku kirim layang ini mesti tak tentu kan kah sampai juga

ke tanganmu yang lembut itu

bagaimana dengan busur-busur kita, Mae?

kutau pasti kau dengan cinta selalu mengasahnya

seperti malam-malam ketika kau membantuku

mengoreksi naskah tulisan

ah, betapa rinduku, Mae, pada gemulai pijitanmu

aku tau betapa bagaimana perasaanmu

ketika api membumbung tinggi

di belakang rumah Rawamangun kita

kau tertegun lemas melihat banyak lelaki berbaju loreng

berpesta-pora

membakar tumpukan buku dan kertas dari perpustakaan

vandalisme, Mae, vandalisme!

apalah aku ini, bertahun-tahun tak melumuti senyumanmu

dan hancurlah kebangganku

buku-bukuku dilarang, dilarung, dan dibuang

harta, emas, perhiasan, perabotan, dan naskah-naskah mentah

lenyap sudah tak mereka pulangkan

hingga es mambo, kue-kue, dan pakaian

jadi dagangan keseharianmu di Utan Kayu

oalah, Mae, begitu rusuhnya jalan pikiran penguasa

di bumi Hindia Belanda ini

apalah yang ditakutkan mereka dariku, Mae?

toh aku kan bukan bandit

kalau iya, mana mungkin kau mau kuperistri

dan kuberi makan tulisan, ya toh, Mae?

aku ingat malam itu

aku diserbu gerombolan pemuda

pada 13 Oktober 1965, pukul 21.00 WIB

hingga berhujan darah mereka melempariku dengan batu

lalu, terdengar tembakan

kubawa semua pekerjaanku, juga mesin ketik

dari atas mobil kulihat pemuda-pemuda itu mengejekku

sambil tangannya mangayun-ayunkan pedang terhunus

lebih tragis lagi, mereka menyiksaku sebegitu puas hati

bukankah aku ini belum lagi maling kan, Mae?

terkadang aku berpikir,

alangkah sulit mendongengkan penderitaan

di luar batas yang telah kualami

aku tau betapa bagaimana perasaanmu

ketika busur-busur kita diteriaki dan diumpat

: sebagai anak PKI, sebagai antek komunis!

tidak, Mae, tidak! tidak tahan aku mendengarnya

bukankah kau tau ku t’lah ditawari dan menolaknya

kau kan aku tidak bisa memerintah dan diperintah,

bukan begitu, Mae?

tak bisa diterapkan disiplin pada diriku yang kesepian ini

kini, di sini aku menikmati masa tuaku

bersama penderitaan dan kebanggaan itu sendiri

bukuku tetap saja difoto-kopi dan diperebutkan

tapi itulah lencana-lencana kebesaran

yang gagah menempel di dadaku

tidak perlu Magsaysay atau Nobel sekalipun

karena mereka takut dan tak siap menghadapinya

mereka bukan manusia yang siap menerima perbedaan pendapat

mereka takut dan ngeri pada orang-orang yang berpikir merdeka

merekalah peternak-peternak begundal

istriku Siti Maemunah

cukupkan saja penderitaan ini

bawalah busur-busur kita itu pada penampannya

sekolahkan dan yakinkanlah mereka bahwa

bapaknya bukanlah seorang

Marxisme atau Leninisme atau Komunisme

bukan seorang begundal atau bandit

karena bagaimana mungkin ada sebuah pengadilan

kalau jaksa dan hakimnya tidak paham dan terlalu bodoh

dengan isme-isme seperti itu

bagaimana ada sebuah pengadilan

kalau aku sendiri tidak pernah mempelajari

isme-isme semacam itu

akanlah menjadi sebuah pengadilan bebodoran tampaknya

hmmm… namun tetap saja sepi menyengat hidupku

kepedihan dan keterasinganlah

yang membuatku menjadi penyendiri yang sepi

hidupku begitu sarat dengan perampasan demi perampasan

penindasan dan penjarahan

aku tidak pernah merasa bahagia dalam hidupku yang buncit ini

hanya karena melupakan adalah suatu seni tersendiri

yang tidak setiap orang bisa melakukannya

itulah sebabnya, aku berpesan pada anak-anakku

kalau aku mati, tidak usah ada pengumuman

lupakan saja, bakar saja, dan abunya dibuang di mana saja

begitulah, Mae!

 

Dari suamimu tercinta dan terkasih

Bandung, April 1999

Maukah Kalian Kumadu?

 

kawanku berkata; kau tidaklah begitu pantas disebut cantik

aku mengakuinya; ya, kau memang cukuplah manis, lagi menarik

kau menggoda, seksi, penuh, bahkan mengagumkan

setidaknya menurut kejantananku

tapi, Is, betapa gila hidup di republik ini

centang perentang kisruh belum lagi tandas

warna-warni partai saling adu omong, apalagi jotos

padahal pemilu masih lagi diwanti-wanti

malah bekas presiden lama meragukan kemurniannya

lho, apa dulu dia lupa, kalau masa jayanya

dia mengenyahkan apa itu jurdil!

ah, untungnya ada sensual bibirmu, Is

karena paling tidak, hidup ini tak begitu penat adanya

gila mungkin aku ini, Is

semalam aku mimpi menyelimuti tubuhmu

yang basah berkeringat di springbed warna biru

padahal cincin emas lima gram tunanganku

masih lagi melingkar di jari manis kananku

mestikah aku berbohong,

memang aku menyukaimu atau bahkan

berani mencintai dan kadang membayangkan

hidup memperistri dirimu dengan segala kecintaan

tapi, lihatlah, Is, partai-partai masih saja beromong-omong besar

berpeluh ideologi, platform, dan retorika semacamnya

di tv-tv, di koran-koran, di masjid-masjid, di kampus

dan di lapangan olah raga

padahal kamu tau, Is

kurikulum kita berantakan akibatnya

sekolah dan kuliah berpendek-pendek dan tak tentu waktunya

namun, lagi-lagi namun

karena paling tidak kehidupan demokrasi di republik kita

barulah lahir menjelma jadi jabang bayi

yang diam-diam yakin merangkak

karena ibunya punya anak 48 biji tali pusar

bagaimana menyusuinya, Is?

Is, gila lama-lama aku ini

kau terlalu idealis untuk kupacari

tetapi bau parfummu melunasi hidung rinduku

kau kadang begitu memperhatikanku

lain waktu mungkin malah bertanya; siapa namaku?

gilanya aku tetap saja dan bahkan makin sayang padamu

kemarin, gara-gara rasa sayang itu juga

nyaris aku lupa mendaftar diri untuk pemilu di hari paling akhir

padahal aku tak peduli waktu ketua RW-ku mengomentari

; awas jadi golput!

heh, tau apa dia tentang golput?

sekarang saja dia melengking reformasi

padahal dulu begitu kalang kabut

takut warganya tidak sesuai dengan pesanan

; Bapak Lurah, Bapak Camat, Bapak Bupati, Bapak Walikota, Bapak Gubernur,

Bapak Menteri, Bapak Ketua MPR, barulah Yang Mulia Bapak Presiden;

Sang Raja Indonesia !

oalah Is, masih saja aku ragu untuk menyatakan cinta di bibirmu

apalah jadinya tunanganku, jika mengerti benar isi perasaanku

mana mau dia dimadu, hanya karena kau lebih menggairahkan, Is

kutau kalian sama-sama idealis dan ketus

sama-sama berprinsip dan punya sikap

barangkali bedanya,

kau lebih demokrat, moderat atau bahkan sedikit liberal

sedang dia, bagitu konservatif lagi ortodok

hanya itu, Is, hanya itu!

tidakkah dapat kalian berkoalisi saja?

menyamakan frame tanpa adu jotos dan pendapat

toh tujuan kalian sama

; berebut bersuamikan aku, berebut menjadi istriku,

menggelembungkan perut dan melahirkan anak-anakku dan kita

hmm… alangkah penatnya hidup di republik ini

karena setiap orang begitu bernafsu ingin jadi presiden

lalu, siapa dan mana yang disebut rakyat itu sendiri?

atas nama rakyat! mengemban amanat rakyat!

hati nurani rakyat! jika permintaan rakyat!

oalah… begitu sungguh menggelikan rasanya kuping ini

masih lebih nyaman mendengar bisikan mesramu saja

bukankah aku toh mesti punya sikap kan, Is?

maka; maukah kalian kumadu?

 

Bandung, 22 April 1999 | 08.40

Surat Untuk Chaterine

 

aku duduk di sini menunggu semilir tubuhmu

maka sekeranjang senyum dan segepok rindu

kan kau titipkan sejak pintu pertama datang

adalah sebuah pelaksanaan kata-kata

bahwa gembok-gembok itu membumbui habitatku

tanpa janji tanpa cumbuan yang ada

o, Chaterine

apa yang kau cari dari lelaki sehebat aku?

cinta? rindu? kasih sayang? atau kekuasaan?

aku tak punya!

BMW, HP, atau kafe dan resto malam?

ah, aku bukan para ganjen seperti itu!

bukankah di sini kita merajut cumbu

memasang jaring-jaring kesadaran

malarung nafsu, keinginan dan menguliti jiwa

sementara di luar sana kawan-kawanku berpeluh payah

dari jalan ke jalan, dari pertemuan ke pertemuan

sejak Cilacap, Majenang, Bogor, Yogya, Situbondo, Jakarta

atau manalagi?

seisi berebutan mencari tempat

manciumi wangi rambut yang tak pernah terurai

maka orang-orang berteriak: PKI…! PKI…!

padahal tangan mereka berlumuran darah pembantaian atas bangsanya sendiri

mulut mereka belepotan dengan krim kue nasional

kantong mereka pepak dengan upeti rebutan

bahkan bapakku sendiri pun difitnah sebagai eks tapol PKI

O, Chaterine, apa yang kau cari dari lelaki sehebat aku?

aku duduk di sini memadati buku-buku berkutu

mengelap kaca mata minus dengan kaos berbaju

padahal Xanana mulai mengajakku mempesonakan lukisan terbarunya

lihatlah, seisi rimba ini bersorak sorai

ada natal dan tahun baru di sini

ada buka puasa tanpa makan di sini

maka Pramoedya Ananta Toer berseru-seru:

“majulah anakku. majulah wahai jiwa muda tanpa pengecualian!di Utan Kayu aku menunggumu menjadi penjulang

dari kata pemimpin itu sendiri

anakku, hidupmu barulah dimulai. setapak sudah kau tempuh

larung saja bumi Hindia Belanda ini

mulai pejabat Algemeene Secretaire, pegawai pamong praja, ulama,

totok, peranakan, pribumi, sampai gubernur jendral sekalipun, sama saja!

ayo anakku, jangan sampai apa yang aku rasakan di Buru terulang padamu

bukankah kewajiban manusia adalah menjadi manusia, kata Multatuli

bukan untuk menjadi binatang atau ternak piaraan”

dan aku mulai menitikkan air mata Chaterine

padamu, pada perjuangan itu sendiri

Chaterine, oh, Chaterine

betapa ingin aku hadir di hari kesarjanaanmu

membawakan mawar, kartu, dan peluk rindu

menaburkan keplokan tangan atas gelar doktermu

dan kau masih saja duduk genit di sampingku

sejak Rabu dan Minggu seperti tak peduli pada waktu

pernahkah kau berpikir tentang arti sebuah pernikahan, bunga melatiku?

lima, sepuluh, tiga belas tahun, mana yang tentu?

apa yang kan kau persembahkan pada anak-anak kita kelak, sayangku?

nilai-nilai sosial demokrat? militan? radikal? atau melawan ketidakadilan?

jangan kau sertakan sebagai cerita menjelang tidur

pengalaman indah kita selama melumut di sini

aku hanya ingin mereka begitu bangga punya bapak sehebat aku

ah, Chaterine sayangku, Chaterine matahariku

lambung dan nadiku perih

mulut dan jiwaku masam

aku mulai muntah darah

cairan tanpa sisa makanan saja yang berhamburan

aku muntah dari lagi, Chaterine

darah dan cairan tanpa ada sisa makanan

Chaterine … Chaterine …

kawan-kawan menggedor-gedor pintu kamar no 1 depan blok III

suhu badan dan kakiku dingin menggigil

tapi aku belum dan tak akan pernah menyerah sampai detik ini pun

Chaterine … Chaterine …

manisku, sayangku, bunga matahariku

mana bau tubuhmu sayang

mana indah bibirmu

mana cahaya matamu

mana genggaman jemarimu

butuhku pada semua itu

kita memulai di sini dan begitulah seterusnya

dan, oh, ibuku menitipkan pesan

tinta penanya berlumuran tetesan air mata

sambutlah beliau, Chaterine, sambutlah!

kecuplah kedua pipi merahnya

peluk dan ciumlah kerudung kebesarannya

jangan biarkan muara air mata itu terus berbanjir

seperti perjuanganku saat ini

kaulah penghibur gantinya

kini, aku melulu termenung-menung

terngiang gesekan biola dalam sebuah serenade Schubert

atau Brandernburg Concerto Johan Sebastian Bach

bahkan malah Four Season Vivaldi yang megah

semua itu pembalut luka yang tak pernah kering, Chaterine

semua mewujud pada dirimu yang luruh terjangkar

bukankah di sini kita merajut cumbu

memasang jaring-jaring kesadaran

melarung nafsu keinginan dan menguliti jiwa

padamu aku mengadu

pada kenyataan hidup yang tak pernah tuntas

pada permainan rendah dan kotor para intelejen

pada harum semilir tubuhmu itu sendiri

buai aku, Chaterine!

peluk cium mesra

 

Dari seorang yang begitu mencintaimu

LP Cipinang, Jakarta, 11 April 1999 | 15.30 wib