Surat Untuk Chaterine
aku duduk di sini menunggu semilir tubuhmu
maka sekeranjang senyum dan segepok rindu
kan kau titipkan sejak pintu pertama datang
adalah sebuah pelaksanaan kata-kata
bahwa gembok-gembok itu membumbui habitatku
tanpa janji tanpa cumbuan yang ada
o, Chaterine
apa yang kau cari dari lelaki sehebat aku?
cinta? rindu? kasih sayang? atau kekuasaan?
aku tak punya!
BMW, HP, atau kafe dan resto malam?
ah, aku bukan para ganjen seperti itu!
bukankah di sini kita merajut cumbu
memasang jaring-jaring kesadaran
malarung nafsu, keinginan dan menguliti jiwa
sementara di luar sana kawan-kawanku berpeluh payah
dari jalan ke jalan, dari pertemuan ke pertemuan
sejak Cilacap, Majenang, Bogor, Yogya, Situbondo, Jakarta
atau manalagi?
seisi berebutan mencari tempat
manciumi wangi rambut yang tak pernah terurai
maka orang-orang berteriak: PKI…! PKI…!
padahal tangan mereka berlumuran darah pembantaian atas bangsanya sendiri
mulut mereka belepotan dengan krim kue nasional
kantong mereka pepak dengan upeti rebutan
bahkan bapakku sendiri pun difitnah sebagai eks tapol PKI
O, Chaterine, apa yang kau cari dari lelaki sehebat aku?
aku duduk di sini memadati buku-buku berkutu
mengelap kaca mata minus dengan kaos berbaju
padahal Xanana mulai mengajakku mempesonakan lukisan terbarunya
lihatlah, seisi rimba ini bersorak sorai
ada natal dan tahun baru di sini
ada buka puasa tanpa makan di sini
maka Pramoedya Ananta Toer berseru-seru:
“majulah anakku. majulah wahai jiwa muda tanpa pengecualian!di Utan Kayu aku menunggumu menjadi penjulang
dari kata pemimpin itu sendiri
anakku, hidupmu barulah dimulai. setapak sudah kau tempuh
larung saja bumi Hindia Belanda ini
mulai pejabat Algemeene Secretaire, pegawai pamong praja, ulama,
totok, peranakan, pribumi, sampai gubernur jendral sekalipun, sama saja!
ayo anakku, jangan sampai apa yang aku rasakan di Buru terulang padamu
bukankah kewajiban manusia adalah menjadi manusia, kata Multatuli
bukan untuk menjadi binatang atau ternak piaraan”
dan aku mulai menitikkan air mata Chaterine
padamu, pada perjuangan itu sendiri
Chaterine, oh, Chaterine
betapa ingin aku hadir di hari kesarjanaanmu
membawakan mawar, kartu, dan peluk rindu
menaburkan keplokan tangan atas gelar doktermu
dan kau masih saja duduk genit di sampingku
sejak Rabu dan Minggu seperti tak peduli pada waktu
pernahkah kau berpikir tentang arti sebuah pernikahan, bunga melatiku?
lima, sepuluh, tiga belas tahun, mana yang tentu?
apa yang kan kau persembahkan pada anak-anak kita kelak, sayangku?
nilai-nilai sosial demokrat? militan? radikal? atau melawan ketidakadilan?
jangan kau sertakan sebagai cerita menjelang tidur
pengalaman indah kita selama melumut di sini
aku hanya ingin mereka begitu bangga punya bapak sehebat aku
ah, Chaterine sayangku, Chaterine matahariku
lambung dan nadiku perih
mulut dan jiwaku masam
aku mulai muntah darah
cairan tanpa sisa makanan saja yang berhamburan
aku muntah dari lagi, Chaterine
darah dan cairan tanpa ada sisa makanan
Chaterine … Chaterine …
kawan-kawan menggedor-gedor pintu kamar no 1 depan blok III
suhu badan dan kakiku dingin menggigil
tapi aku belum dan tak akan pernah menyerah sampai detik ini pun
Chaterine … Chaterine …
manisku, sayangku, bunga matahariku
mana bau tubuhmu sayang
mana indah bibirmu
mana cahaya matamu
mana genggaman jemarimu
butuhku pada semua itu
kita memulai di sini dan begitulah seterusnya
dan, oh, ibuku menitipkan pesan
tinta penanya berlumuran tetesan air mata
sambutlah beliau, Chaterine, sambutlah!
kecuplah kedua pipi merahnya
peluk dan ciumlah kerudung kebesarannya
jangan biarkan muara air mata itu terus berbanjir
seperti perjuanganku saat ini
kaulah penghibur gantinya
kini, aku melulu termenung-menung
terngiang gesekan biola dalam sebuah serenade Schubert
atau Brandernburg Concerto Johan Sebastian Bach
bahkan malah Four Season Vivaldi yang megah
semua itu pembalut luka yang tak pernah kering, Chaterine
semua mewujud pada dirimu yang luruh terjangkar
bukankah di sini kita merajut cumbu
memasang jaring-jaring kesadaran
melarung nafsu keinginan dan menguliti jiwa
padamu aku mengadu
pada kenyataan hidup yang tak pernah tuntas
pada permainan rendah dan kotor para intelejen
pada harum semilir tubuhmu itu sendiri
buai aku, Chaterine!
peluk cium mesra
Dari seorang yang begitu mencintaimu
LP Cipinang, Jakarta, 11 April 1999 | 15.30 wib


Setelah hampir 10 tahun, perasaan nggak pernah nyebut-nyebut lagi Catherine ya?
Gara-gara udah gak di LP lagi kah? Hihi…
Baru tau, ternyata sudah aktif menganyam sejak lama ya…
Semakin kesini, semakin terasa halus anyamannya lho…
Ratnas last blog post..You Read More, I Entertain You!