Maukah Kalian Kumadu?
kawanku berkata; kau tidaklah begitu pantas disebut cantik
aku mengakuinya; ya, kau memang cukuplah manis, lagi menarik
kau menggoda, seksi, penuh, bahkan mengagumkan
setidaknya menurut kejantananku
tapi, Is, betapa gila hidup di republik ini
centang perentang kisruh belum lagi tandas
warna-warni partai saling adu omong, apalagi jotos
padahal pemilu masih lagi diwanti-wanti
malah bekas presiden lama meragukan kemurniannya
lho, apa dulu dia lupa, kalau masa jayanya
dia mengenyahkan apa itu jurdil!
ah, untungnya ada sensual bibirmu, Is
karena paling tidak, hidup ini tak begitu penat adanya
gila mungkin aku ini, Is
semalam aku mimpi menyelimuti tubuhmu
yang basah berkeringat di springbed warna biru
padahal cincin emas lima gram tunanganku
masih lagi melingkar di jari manis kananku
mestikah aku berbohong,
memang aku menyukaimu atau bahkan
berani mencintai dan kadang membayangkan
hidup memperistri dirimu dengan segala kecintaan
tapi, lihatlah, Is, partai-partai masih saja beromong-omong besar
berpeluh ideologi, platform, dan retorika semacamnya
di tv-tv, di koran-koran, di masjid-masjid, di kampus
dan di lapangan olah raga
padahal kamu tau, Is
kurikulum kita berantakan akibatnya
sekolah dan kuliah berpendek-pendek dan tak tentu waktunya
namun, lagi-lagi namun
karena paling tidak kehidupan demokrasi di republik kita
barulah lahir menjelma jadi jabang bayi
yang diam-diam yakin merangkak
karena ibunya punya anak 48 biji tali pusar
bagaimana menyusuinya, Is?
Is, gila lama-lama aku ini
kau terlalu idealis untuk kupacari
tetapi bau parfummu melunasi hidung rinduku
kau kadang begitu memperhatikanku
lain waktu mungkin malah bertanya; siapa namaku?
gilanya aku tetap saja dan bahkan makin sayang padamu
kemarin, gara-gara rasa sayang itu juga
nyaris aku lupa mendaftar diri untuk pemilu di hari paling akhir
padahal aku tak peduli waktu ketua RW-ku mengomentari
; awas jadi golput!
heh, tau apa dia tentang golput?
sekarang saja dia melengking reformasi
padahal dulu begitu kalang kabut
takut warganya tidak sesuai dengan pesanan
; Bapak Lurah, Bapak Camat, Bapak Bupati, Bapak Walikota, Bapak Gubernur,
Bapak Menteri, Bapak Ketua MPR, barulah Yang Mulia Bapak Presiden;
Sang Raja Indonesia !
oalah Is, masih saja aku ragu untuk menyatakan cinta di bibirmu
apalah jadinya tunanganku, jika mengerti benar isi perasaanku
mana mau dia dimadu, hanya karena kau lebih menggairahkan, Is
kutau kalian sama-sama idealis dan ketus
sama-sama berprinsip dan punya sikap
barangkali bedanya,
kau lebih demokrat, moderat atau bahkan sedikit liberal
sedang dia, bagitu konservatif lagi ortodok
hanya itu, Is, hanya itu!
tidakkah dapat kalian berkoalisi saja?
menyamakan frame tanpa adu jotos dan pendapat
toh tujuan kalian sama
; berebut bersuamikan aku, berebut menjadi istriku,
menggelembungkan perut dan melahirkan anak-anakku dan kita
hmm… alangkah penatnya hidup di republik ini
karena setiap orang begitu bernafsu ingin jadi presiden
lalu, siapa dan mana yang disebut rakyat itu sendiri?
atas nama rakyat! mengemban amanat rakyat!
hati nurani rakyat! jika permintaan rakyat!
oalah… begitu sungguh menggelikan rasanya kuping ini
masih lebih nyaman mendengar bisikan mesramu saja
bukankah aku toh mesti punya sikap kan, Is?
maka; maukah kalian kumadu?
Bandung, 22 April 1999 | 08.40


Is menjawab; Dirimu mau kumadu, kah ?
hehehehe
kamu punya cara yang aneh untuk curhat kekesalan pada politik dan keadaan negara DM
Di madu?
Hmm…
Coba jika aku kembalikan pertanyaan itu padamu
yessy muchtar, terakhir menulis Demi Cinta