Surat Untuk Siti Maemunah
matahari menggelumbang bagai sassus yang mengekor
pada setiap perjunjungan di bumi manapun
manusia hidup dan beranak
aku melenguh di sini memilin penderitaan sejak
Salemba, Nusa Kambangan, Buru, atau manalagi?
antara kerja paksa, dianiaya, dicekik, ditendang, diludahi,
dan dihantam popor senjata hingga gendang telingaku rusak
hih, mereka nampaknya mau mencukil mataku, Mae?
hmmm… apa kabarmu istriku, Mae?
aku kirim layang ini mesti tak tentu kan kah sampai juga
ke tanganmu yang lembut itu
bagaimana dengan busur-busur kita, Mae?
kutau pasti kau dengan cinta selalu mengasahnya
seperti malam-malam ketika kau membantuku
mengoreksi naskah tulisan
ah, betapa rinduku, Mae, pada gemulai pijitanmu
aku tau betapa bagaimana perasaanmu
ketika api membumbung tinggi
di belakang rumah Rawamangun kita
kau tertegun lemas melihat banyak lelaki berbaju loreng
berpesta-pora
membakar tumpukan buku dan kertas dari perpustakaan
vandalisme, Mae, vandalisme!
apalah aku ini, bertahun-tahun tak melumuti senyumanmu
dan hancurlah kebangganku
buku-bukuku dilarang, dilarung, dan dibuang
harta, emas, perhiasan, perabotan, dan naskah-naskah mentah
lenyap sudah tak mereka pulangkan
hingga es mambo, kue-kue, dan pakaian
jadi dagangan keseharianmu di Utan Kayu
oalah, Mae, begitu rusuhnya jalan pikiran penguasa
di bumi Hindia Belanda ini
apalah yang ditakutkan mereka dariku, Mae?
toh aku kan bukan bandit
kalau iya, mana mungkin kau mau kuperistri
dan kuberi makan tulisan, ya toh, Mae?
aku ingat malam itu
aku diserbu gerombolan pemuda
pada 13 Oktober 1965, pukul 21.00 WIB
hingga berhujan darah mereka melempariku dengan batu
lalu, terdengar tembakan
kubawa semua pekerjaanku, juga mesin ketik
dari atas mobil kulihat pemuda-pemuda itu mengejekku
sambil tangannya mangayun-ayunkan pedang terhunus
lebih tragis lagi, mereka menyiksaku sebegitu puas hati
bukankah aku ini belum lagi maling kan, Mae?
terkadang aku berpikir,
alangkah sulit mendongengkan penderitaan
di luar batas yang telah kualami
aku tau betapa bagaimana perasaanmu
ketika busur-busur kita diteriaki dan diumpat
: sebagai anak PKI, sebagai antek komunis!
tidak, Mae, tidak! tidak tahan aku mendengarnya
bukankah kau tau ku t’lah ditawari dan menolaknya
kau kan aku tidak bisa memerintah dan diperintah,
bukan begitu, Mae?
tak bisa diterapkan disiplin pada diriku yang kesepian ini
kini, di sini aku menikmati masa tuaku
bersama penderitaan dan kebanggaan itu sendiri
bukuku tetap saja difoto-kopi dan diperebutkan
tapi itulah lencana-lencana kebesaran
yang gagah menempel di dadaku
tidak perlu Magsaysay atau Nobel sekalipun
karena mereka takut dan tak siap menghadapinya
mereka bukan manusia yang siap menerima perbedaan pendapat
mereka takut dan ngeri pada orang-orang yang berpikir merdeka
merekalah peternak-peternak begundal
istriku Siti Maemunah
cukupkan saja penderitaan ini
bawalah busur-busur kita itu pada penampannya
sekolahkan dan yakinkanlah mereka bahwa
bapaknya bukanlah seorang
Marxisme atau Leninisme atau Komunisme
bukan seorang begundal atau bandit
karena bagaimana mungkin ada sebuah pengadilan
kalau jaksa dan hakimnya tidak paham dan terlalu bodoh
dengan isme-isme seperti itu
bagaimana ada sebuah pengadilan
kalau aku sendiri tidak pernah mempelajari
isme-isme semacam itu
akanlah menjadi sebuah pengadilan bebodoran tampaknya
hmmm… namun tetap saja sepi menyengat hidupku
kepedihan dan keterasinganlah
yang membuatku menjadi penyendiri yang sepi
hidupku begitu sarat dengan perampasan demi perampasan
penindasan dan penjarahan
aku tidak pernah merasa bahagia dalam hidupku yang buncit ini
hanya karena melupakan adalah suatu seni tersendiri
yang tidak setiap orang bisa melakukannya
itulah sebabnya, aku berpesan pada anak-anakku
kalau aku mati, tidak usah ada pengumuman
lupakan saja, bakar saja, dan abunya dibuang di mana saja
begitulah, Mae!
Dari suamimu tercinta dan terkasih
Bandung, April 1999

