Archive for September, 2001

Di Jalanan

 

di jalan kau tertidur lelah

di sampingku kau terlelap

kenapa selalu kau ceritakan suka duka kenangan dan bahagia

padahal kau dulu rajin menjemputku di beranda luar

di sampingku kau ceritakan tentang dirimu, diriku dan dia

kenapa selalu saja dengan tembang yang sama

padahal kita bisa duduk berdua di taman yang temaram

mendendangkan lagu riang penanda kegelisahan yang hilang

di bahuku kau tertunduk lemas akan tingkahmu sendiri

bukankah layar perahu tak akan pernah lepas dari kaitnya

sementara nelayan yang pulang pergi mencari muatan

penuh dengan perhitungan aljabar yang mendalam

di jalanan dan di sampingmu aku merindu

pernahkah terlintas olehmu

sebuah bulan madu seperti kebanyakan pengantin yang genit?

padahal kita bisa melumut satu di muara*

 

September 1999

* dari sajak Toto ST Radik

Di Kafe Sore Hari

 

aku membayangkan sebuah pertemuan yang asyik

berisi kau dan aku

duduk berhadap-hadapan kita

meniup lilin pertambahan

dan bertepuk menjawil bangir hidungmu

kau rebah di talam-talam kuningan

meneguk piala kasih

mengecap cicipan dengan sebegitu lezat

lalu tertidur bertumpuk salad dan air mineral

memesan se-mug kopi susu sebagai penghangatan

kerudungmu terkibar-kibat mesin pemutar angin

sebuah elusan kau rajukkan padaku

kau melenguh!

kemudian tersentak dan terpana

: siapa yang bertanggungjawab akan bill sore itu?

aku membayangkan sebuah pertemuan yang asyik

di kafe sore hari

 

September 1999

Mas Kawin

 

sebuah mas kawin tunai dihaturkan sebagai peduli

aku membayangkan persembahan sajak pada dirimu yang ayu

atau kau menginginkan bentuk buah sastra lainnya?

aku menyanggupinya dan mengumpulkan

huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat

hingga terangkai sudah kesepakatan panggung pertunangan ini

tunai dan lunas di sore hari

menyeruput kopi kental di malam hari

dan terengah-engah di padang terik buta

namun itulah esensi hidup

sebagai menghormatan seorang manusia

bukan karena nikmat atau sengsara

tapi akan satu hal: kehormatan hakekat manusia

aku persembahkan sajak ini buat mas kawin

di panggung akad nikah nanti

dan kau akan membacanya di setiap hari

hingga anak cucu kita mencatatnya dalam sejarah

 

September 1999

Pantai Pangandaran

 

di busa ombak laut selatan aku bermain-main labirin

menyapu segala luka dan buang jangkar jauh-jauh

kau begitu dahaga dan berkelebatan seperti menangkap makna

aku mencoba berombak ruah memaknai senyumanmu

mari kuajak kau berenang lagi

memasuki rahasia samudra dan hidup

kenapa juga kau basahi kerudung kebesaranmu itu

padahal dengan suka cita kan kuselimuti kedinginanmu

ayolah, mari kuajak kau menyeberangi lautan ini dengan sampan

dan melihat bintang gemintang di dasar laut sana

serta merta kubuatkan api unggun untuk pipi telurmu

dan kan kudadarkan sewajan penuh untuk kelak sarapan pagi

di bibir pantai kau menengadahkan tangan

aku terkesiap malu berdiri di belakangmu

ingin kumerengkuh dirimu di sauh yang telah jauh terbuang

dan menenggelamkan segala rasa yang terbit di tenggorokan hati

sejujurnya:

aku tak pernah minta untuk menjadi sayang padamu seperti ini!

 

September 1999

Pertemuan

 

aku mengenalmu di halte bis kota

di persimpangan jalan

di perempatan terminal atau di traffic light yang angkuh

aku tidak mengenalmu di resto seafood

tidak di meja fakultas, di kolong ranjang

atau di rak buku yang berdebu

di sanalah, aku mencoba menyapamu dengan tulisan

bukan dengan bahasa lisan seperti orang akad nikah

pagi-pagi benar aku bangun untuk terus tidur lagi

begitulah seterusnya yang terjadi

bertemu tak bertemu

jadi pengertian tak penting lagi*

dimana kutemukan tukang patri yang setia mengobati

andai saja kau ijinkan, aku sudah sakaw akan kamu

tapi siapa nyana, senyum punya makna*

memaknai apa aku tak tahu

karena aku mengenalmu di bis kota yang melenguh

kapankah pernah sampai di terminal yang riuh

karena aku tak tau jurusan yang kuambil

kau berteriak manja

dan aku tak mendengar apa-apa

sudikah kau buatkan aku secangkir teh manis

yang kau seduh dengan sebiji pohon asam

sebagai penawar rindu pada

sawah, gunung, sungai, kerbau, dan pelangi

aku rindu orkesta Vivaldi di pematang

dan melihat kau membawakan bakul nasi tak berkesudahan

pernah kita makan nasi di warung pinggir jalan

dan kau melenggangkan bebunyian yang tak nampak rimbanya

aku tak membawa kompas atau pendulum calculus

itulah mengapa, aku kerap kali bertanya akan lintasan bis kota

tak sekadar terpampang di papan pengumuman

tapi langsung menaiki dan berangkat ke tempat tujuan

tapi bukankah aku mengenalmu di halte bis kota

di persimpangan jalan

di perempatan terminal atau di traffic light yang angkuh

aku tidak mengenalmu di resto seafood

tidak di meja fakultas, di kolong ranjang

atau di rak buku yang berdebu

di sanalah aku mencoba menyapamu

tapi kali ini sudah dengan lisan seperti orang akad nikah

 

September 1999

* dari sajak Heri H. Harris

Purnama

 

di bulan empat belas kau menelpon aku

mengabari tentang kuning telur yang merindu

tak kah kau, aku pun menikmati auranya di genting rumah

aku mengkhayal bahwa kau pun mencumbui seperti mataku

sukmaku terbang terbawa sinar lelembutnya

pergi mengikuti kemanapun kau pergi

menjaga dirimu hingga batas waktu yang tak tertentukan

mengancani tidurmu yang lelap di samping ranjangmu

dan masuk ke dalam tubuhmu yang manja

terus saja begitu tak berkesudahan

sampai kapan kubegini…

 

September 1999

Sarapan Pagi

 

kau mengeluh penatnya pantat ini akan kursi kuliah yang kacau

dan terhuyung-huyung tak kenal arah mata angin

mendapati diriku kikuk di depan kantor pos pinggir jalan

sudahkah kau sarapan pagi, tanyamu

dompetku tertinggal, jawabku

bersaudarakah dompet dan sarapan pagi? protesmu

tentu saja tidak, tapi menangkap ikan tanpa jaring?

tentu saja dengan pancing! Senyummu mengembang

maka dua mangkuk bubur ayam terkepul di meja saji

kau menyeruput seduhan teh yang tak hangat lagi itu

merajuk kau minta cerita pengalaman Sabtu malam kemarin

olala, sudah berapa purnama, kulewati malam jagat itu dengan kelabu

tak kah kau, kenapa tidak kau undang aku

untuk duduk di tamanmu, berdua kita melagukan rindu

mengusir malam jagat agar tak pernah kelabu

 

September 1999