aku mengenalmu di halte bis kota
di persimpangan jalan
di perempatan terminal atau di traffic light yang angkuh
aku tidak mengenalmu di resto seafood
tidak di meja fakultas, di kolong ranjang
atau di rak buku yang berdebu
di sanalah, aku mencoba menyapamu dengan tulisan
bukan dengan bahasa lisan seperti orang akad nikah
pagi-pagi benar aku bangun untuk terus tidur lagi
begitulah seterusnya yang terjadi
bertemu tak bertemu
jadi pengertian tak penting lagi*
dimana kutemukan tukang patri yang setia mengobati
andai saja kau ijinkan, aku sudah sakaw akan kamu
tapi siapa nyana, senyum punya makna*
memaknai apa aku tak tahu
karena aku mengenalmu di bis kota yang melenguh
kapankah pernah sampai di terminal yang riuh
karena aku tak tau jurusan yang kuambil
kau berteriak manja
dan aku tak mendengar apa-apa
sudikah kau buatkan aku secangkir teh manis
yang kau seduh dengan sebiji pohon asam
sebagai penawar rindu pada
sawah, gunung, sungai, kerbau, dan pelangi
aku rindu orkesta Vivaldi di pematang
dan melihat kau membawakan bakul nasi tak berkesudahan
pernah kita makan nasi di warung pinggir jalan
dan kau melenggangkan bebunyian yang tak nampak rimbanya
aku tak membawa kompas atau pendulum calculus
itulah mengapa, aku kerap kali bertanya akan lintasan bis kota
tak sekadar terpampang di papan pengumuman
tapi langsung menaiki dan berangkat ke tempat tujuan
tapi bukankah aku mengenalmu di halte bis kota
di persimpangan jalan
di perempatan terminal atau di traffic light yang angkuh
aku tidak mengenalmu di resto seafood
tidak di meja fakultas, di kolong ranjang
atau di rak buku yang berdebu
di sanalah aku mencoba menyapamu
tapi kali ini sudah dengan lisan seperti orang akad nikah
September 1999
* dari sajak Heri H. Harris