Archive for October, 2001

Bila Malam Marah Pada Malam

Oleh Daniel Mahendra

MALAM ITU suasana di desa Kacek nampak sunyi. Tidak ada seorang manusia pun yang melintas di jalanan. Udara dingin, sepi, lagi mencekam. Barangkali orang-orang lebih memilih mendengkur di atas ambin atau bercengkrama bersama keluarga, ketimbang nongkrong di warung atau pos ronda. Malam betul-betul terasa hening serta, tentu: mencurigakan.

Desa Kacek terletak di pesisir pantai selatan di sebuah kecamatan P., di Kabupaten J. Hampir seluruh penduduknya menggantungkan hidup dari laut: jadi nelayan, pembuat terasi, pemilik lokalisasi “legal”, atau pelacur. Hanya pendatang yang menempati posisi seperti guru, polisi hutan, mantri, atau pegawai kelurahan. Continue Reading »

Ngeratap

 

ngerasai apa tak pernah sampai

jati hati berpindah-pindah tetap

sampai pagi terus begini

meratapi susah selalu saja sama

ngesali hati pada siapa?

siapa ngesali siapa

yang bisa tau toh sahabat

sahabat satu lecet semua

rumah marah jalanan marah

polisi tidur kantongi duit

aku marah ngeratapi siapa

siapa mau ngeratapi siapa

susah lapar tak pernah labuh

terus berhembus beribu layar

lebih baik kubawa pergi

 

Bandung, 17 Oktober 1995 | 03.39 wib

Pisah

 

sebagaimana telah kau maui

kita akhiri cerita tiga tahunan

tidak ada isakan sangat yang mengesalkan

untuk buai dirimu seperti lalu-lalu

cukup air mata cukuplah sudah

tak terasa bedanya

kau sakitiku sakiti kau,

tidak pernah ada yang salah

jalan baik merubah keadaan

kucoba berombak ruah

telah ribuan hari seharusnya terlewatkan

kau milikku milik kau

juga tiada ada bedanya

kau menangku menang telah

tidak juga ada yang kalah

sesali aku tak cepat kau kuajak berdayung

melendiri laut lewat janji

sesali aku tak cepat kau kuajak pergi

kemana dimana kita bahagia

seharusnya kau milikku, juga nikahimu

biar semuanya terjadi

seperti yang selalu kita khayali

toh tak merubah keadaan

jalan baik mungkin, tak sudah sampai

tambatkan perahumu sewaktu-waktu

pelabuhanku ada di mana-mana

penati muatan tumpuki cinta tumpah ruah

karena aku tetap cintaimu

masih mengharapkan melumut kita jadi satu

di mulut muara tetap bedua

janjilah padaku!

 

Bandung, 17 Oktober 1995 | 02.00 wib

Pengadilan Daniel, Oh…

Surabaya Post, Bewara, Selasa, 9 Oktober 2001

Oleh Frino Bariarcianur

Judul Buku : Selamat Datang di Pengadilan

Penulis : Daniel Mahendra

Penerbit : MALKA

Cetakan : September 2001

Tebal : 107 + xvii halaman

Dalam sebuah cerpen jarang sekali pembaca bisa mengetahui kegiatan sehari-hari seorang penulis, tapi tidak untuk kumpulan cerpen satu ini yang dibuat oleh Daniel Mahendra. Dalam kumpulan cerpen Selamat Datang di Pengadilan kita dapat melihat secara jelas seperti apa kehidupan seorang penulis tersebut.

Continue Reading »

Bila Senja Tak Kunjung Malam

Cerpen Daniel Mahendra

Mirna gadis bu Surtini tak ditemukan di rumah ketika bu Surtini pulang dari pasar. Itu berarti malapetaka. Mirna memang pernah kabur sekali. Tapi bisa ditemukan, karena ada seorang tetangga yang memergoki. Tapi kini, di mana Mirna?

Bu Surtini mulai cemas. Ingin menangis saja rasanya. Rumah kosong melompong begini. Dua adik Mirna masih di sekolah. Ia keluar rumah. Berlari kesana-kemari. Ke rumah tetangga kanan-kiri. Tak ada yang melihat. Beberapa warga dan hansip sontak mendekat demi mendengar keributan kecil pagi itu. Continue Reading »

Pulang

 

pulang adalah desahan

pulang juga berarti igauan

yang tak berkesudahan

pulang berarti kembali dari awal

berarti kembali tertatih-tatih lagi

pulang bukan kata pulang itu sendiri

bukan pulang sesungguhnya yang diimpikan

seperti pulang menemui

kasih sayang dan kebahagiaan

pulang berarti menghabiskan rindu

yang tak pernah ada

pulang berarti kalah

aku tak mau pulang!

 

Bandung, 5 Oktober 1995

Stasiun pagi-pagi…