Bila Senja Tak Kunjung Malam
Cerpen Daniel Mahendra
Mirna gadis bu Surtini tak ditemukan di rumah ketika bu Surtini pulang dari pasar. Itu berarti malapetaka. Mirna memang pernah kabur sekali. Tapi bisa ditemukan, karena ada seorang tetangga yang memergoki. Tapi kini, di mana Mirna?
Bu Surtini mulai cemas. Ingin menangis saja rasanya. Rumah kosong melompong begini. Dua adik Mirna masih di sekolah. Ia keluar rumah. Berlari kesana-kemari. Ke rumah tetangga kanan-kiri. Tak ada yang melihat. Beberapa warga dan hansip sontak mendekat demi mendengar keributan kecil pagi itu.
“Ada apa?”
“Mirna hilang!”
“Ha, Mirna hilang?”
“Ya!”
“Kapan?”
“Ya ndak tahu!”
“Waduh, terus… terus…?”
“Terus-terus! Bukannya mikir gimana, malah terus-terus!”
“Ya kan kepingin tahu, kejadiannya gimana!”
“Udah-udah ndak usah ribut. Lihat bu Surtini mau pingsan tuh!”
Maka beberapa warga memapah bu Surtini ke rumahnya. Beberapa hansip bergegas pergi, mencoba mencari Mirna barangkali belum lagi kabur terlalu jauh dari komplek.
MIRNA. GADIS secantik dia memang mudah melesat menjadi bunga kampus. Cantik, lincah, dan mudah bergaul. Usia? Duapuluh tahun! Ai… lagi ranum-ranumnya bukan! Banyak lelaki yang menyukainya. Tak terlewat dosen muda (lagi genit!) di kampusnya: terkadang ikut iseng menggoda. Semua terkaing-kaing melihat dahsyatnya kecantikan Mirna. Mirna sendiri? Ia kalem-kalem saja. “Lelaki memang begitu!” seloroh Mirna suatu hari.
Mirna memang tak peduli. Sama tak pedulinya pada godaan pria-pria yang sok pasang aksi jika kebetulan Mirna melintas di depan mereka. Sama tak pedulinya pada kawan-kawan perempuan yang diam-diam dalam hati terbit rasa iri: kenapa selalu Mirna yang digoda para pria. Mirna betul-betul tak peduli.
Tapi roda kehidupan tak pernah tak peduli. Ia peduli dengan nasib hidup manusia. Kadang ia mengangkat ke atas. Namun acapkali membantingnya ke bawah. Seperti suatu malam ketika Mirna pulang sedikit larut sehabis nonton bioskop. Ia dicegat Hartop hitam di pengkolan jalan yang sepi. Ia diseret masuk. Lima pria muda mencekalnya. Membawanya ke sebuah rumah entah di mana. Mirna meronta-ronta. Tapi apa arti ronta dibanding lima pemuda yang tak peduli neraka. Ini kehidupan nyata. Bukan film laga yang jagonya bisa merobohkan lima orang jika sedang dikroyok!
Mirna tak sadarkan diri. Begitu bangun ia mendapati kamarnya. Di sekelilingnya nampak wajah mama, dua adiknya, seorang dokter, dua orang polisi, dan beberapa tetangga. Mata-mata mereka nampak sembab. Mereka tak mengira mendapati Mirna diketemukan di sepetak sawah, jauh di pinggiran kota dan dalam keadaan telanjang bulat. Pakaiannya teronggok di sisi tubuhnya. Ya, malam itu Mirna diperkosa. Beramai-ramai. Tidak secara bergantian, tapi sekaligus. Ini memang gila. Tapi ini dunia nyata. Bukan film atau berita kriminal yang sengaja mengemis empati orang.
Kemaluannya rusak, tubuhnya penuh cakaran, dan wajahnya lebam; membekas bertalu-talu pukulan. Polisi kelabakan. Sulit mengindentifikasi pelakunya. Tempat kejadian dan tempat diketemukan korban betul-betul membuyarkan pengendusan. Polisi mencoba menyelidiki pakaian yang Mirna kenakan, selain menunggu Mirna siuman dari tidur mengerikan siang itu.
Mirna, bahkan mengangkat kepala pun ia tak mampu. Dalam pikirannya terlempar-lempar bayangan saat ia tiba-tiba dicegat, lantas diseret ke dalam Hartop. Matanya ditutup serta dibawa entah ke mana dan oleh siapa. Dimasukkan ke dalam rumah. Dibanting ke karpet. Dilucuti pakaiannya. Ditampar, dipukul, dan digagahi beramai-ramai!
Mirna menjerit. Orang-orang yang merubungi tempat tidurnya sontak terbelalak. Mirna menjerit-jerit. Menjerit-jerit dan terus menjerit-jerit. Mirna dibawa ke psikiater, lantas dinyatakan: gila!
BU SURTINI mulai menangis. Ketakutan akan kaburnya Mirna kini terjadi lagi. Dulu ketika pertama kali Mirna lepas dari rumah sontak menimbulkan banyak masalah. Mirna mengganggu anak kecil. Melempar kaca rumah orang. Mengejar tukang sayur dengan sebilah kayu. Tapi untung belum begitu jauh. Tapi kini, di mana Mirna?
Bu Surtini betul-betul merasakan pedihnya hidup yang ditanggungnya. Suaminya yang guru SD telah lama meninggal. Meninggalnya pun untuk ukuran logika termasuk tak wajar. Di perutnya ditemukan paku, pecahan kaca, jarum, dan kalajengking. Tak kuat menahan nyeri yang teramat sangat, suami bu Surtini meninggal tanpa pamit. Lantas bu Surtini menghidupi ketiga anaknya dengan tunjangan istri seorang pegawai negeri, serta bantuan ala kadarnya dari beberapa sanak famili. Tapi betapa pun, ketiga anaknya tetap dapat bersekolah. Meski untuk itu ia mesti utang sana-sini.
SEMINGGU, DUA minggu. Sebulan, dua bulan. Setahun, dua tahun: Mirna tak pernah lagi diketemukan. Entah di mana dia. Setiap habis shalat, bu Surtini selalu menangis. Dua anaknya tak berani lagi menyinggung perihal Mirna. Itu hanya akan menggerogoti perasaan ibunya. Tetangga-tetangga sudah tidak pernah menanyakannya lagi. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa pada keluarga bu Surtini. Kawan-kawan Mirna di kampus seolah lupa bahwa pernah ada seorang gadis cantik, seorang kembang kampus, yang kini telahlah gila, dan entah berada di mana. Maka bu Surtini menangis dan menangis. Namun menangis tidaklah menjadikan apa-apa. Rasa kasihan atau berempati hanyalah bermegah-megah dengan perasaan; jika tidak ada sesuatu apa pun yang diperbuat. Maka berhentilah menangis!
Ya, bu Surtini berhenti menangis. Ia mencoba menghadapi kenyataan: bahwa Mirna telahlah tiada. Ia seolah menganggap Mirna merantau ke suatu tempat, jauh. Dan suatu saat nanti bisa bertemu: di sorga!
WAKTU BERJALAN. Dan sang nasib pun turut berjalan. Kedua anak bu Surtini telahlah dewasa. Satu menikah dan ikut suami ke Magelang. Satu masih lagi kuliah di Semarang. Kehidupan tetap berjalan seperti seharusnya. Kadang di atas, kadang di bawah. Klise? Memang! Tapi itulah kehidupan. Lihatlah, sudah beberapa kali kursi presiden bergiliran diduduki dengan nama dan kelakuan yang berbeda-beda. Kadang menggelikan, kadang mengkhawatirkan. Tapi, tetap saja belum ada yang memuaskan. Ha, namanya juga hidup, mana ada yang memuaskan. Kalau sudah puas, lantas mau apalagi? Bukankah kesempurnaan bisa membunuh hidup itu sendiri? Tapi bu Surtini tetaplah bu Surtini. Usianya mulai menjelang senja. Gerak irama jalannya sudah tak selincah dulu lagi. Kini ia sudah berkacamata. Setiap melihat gadis cantik apalagi muda, ia selalu teringat anaknya yang gila dan entah di mana. Tragis memang bu Surtini. Tapi apa manusia musti kalah dengan ketragisan? Istri dan anak para tahanan politik Orde Baru juga mengalami ketragisan. Tahanan politik jaman Hindia Belanda, atau para Digulis pun mengalami ketragisan. Bedanya, tapol jaman Hindia Belanda dijajah bangsa asing, tapi tapol Orde Baru: dijajah penguasa bangsa sendiri!
Dan bu Surtini sudah tidak tau, apa hidupnya tragis atau tidak. Meski untuk itu, ia mesti utang sana-sini buat menyambung hidup. Untuk makan sehari-hari. Untuk bayar listrik yang sering mati. Bayar air yang tak pernah tertib dalam pencatatan. Bayar telepon yang tarifnya naik terus. Bayar PBB (Pajak Bumi Bangunan). Bayar iuran keamanan. Bayar iuran sampah. Bayar uang kuliah anak bungsunya. Bayar arisan. Dan bayar uang sewa tanah pemakaman bagi almarhum suami.
Bu Surtini memang tak bisa tak berhutang. Tunjangan istri pegawai negeri, serta bantuan tak seberapa sanak famili tak bisa terus-terusan diandalkan. Biaya hidup makin menjepit. Dan orang-orang makin menjerit. Ini bukan cerita sahibul hikayat. Tapi begitulah riwayat orang kebanyakan di republik ini dalam beberapa tahun terakhir. Partai politik pontang-panting ke sana-kemari, hasilnya: melancong ke luar negeri, utang! Memangnya ada partai politik yang peduli kehidupan rakyat? Ha, mengkhayal saja! Itu kan hanya terjadi saat propaganda pemilu.
Maka tak heran jika mendapati bu Surtini terhenyak betapa menyadari utangnya telah bertumpuk-tumpuk.
“Bu Surtini, Ibu mau ambil utang lagi? Yang lima bulan lalu saja cicilanya belum lunas!” bu Maryatno, tetangga komplek, merasa keberatan.
“Ndak ada pilihan, Bu. Hutang saya ada di mana-mana. Dan semua belum lagi lunas.”
“Lha, sekarang mau utang lagi. Untuk apa sih, Bu?”
“Anak saya Bu, yang di Magelang sekarang tinggal di sini. Suaminya di-PHK. Ndak kerja. Anaknya dua, kecil-kecil. Tolong saya, Bu!”
Bu Maryatno betul-betul tak bisa bilang apa-apa. Bu Surtini? Apalagi!
TAK DIDUGA, tak dinyana. Suatu hari ketika bu Surtini sedang terseok-seok pulang sehabis mencari utangan, di Jalan Thamrin ia melihat seorang perempuan kumal, kotor, hitam, dan bersisik. Di tubuhnya banyak bekas luka koreng. Rambutnya gimbal, rusak tak terurus. Giginya sudah tak dapat disebut kuning lagi. Matanya jalang melirik tajam. Naluri seorang ibu tak bisa terbohongi: itu pasti Mirna, batinnya. Ia mengejarnya. Memburunya. Mendekatinya.
“Mirna!! Mirna!! Aku mamamu, Mirna!!” bu Surtini mengguncang-guncang tubuh perempuan dekil itu.
“Mirna!! Ya Allah… seperti ini kamu sekarang, Nak?” tangisnya mulai menyeruak.
Orang-orang merinding melihatnya. Ada yang tertawa, namun sebagian ada yang terenyuh. Yang lain malah pura-pura tidak tahu.
Bu Surtini menaikkan perempuan itu ke atas becak. Perempuan itu menurut saja. Tidak menolak, tidak mengiyakan. Hanya si tukang becak yang merasa segan mendapat penumpang orang gila seperti itu.
Sesampai di rumah ia membawa perempuan itu masuk. Memandikannya. Membersihkannya. Menggosok kulitnya. Menggunting rambutnya. Menyuruh makan sepuas-puasnya. Pokoknya memanusiakannya!
Sebentar saja berita kedatangan Mirna menyeruak juga ke telinga tetangga. Mereka berduyun-duyun datang ke rumah bu Surtini. Dan betul saja, begitu perempuan kumal itu dibersihkan sebisanya, nampak kini bahwa ia memanglah Mirna. Mirna anak bu Surtini. Mirna si cantik kembang kampus itu. Mirna gadis malang yang jadi gila gara-gara diperkosa. Mirna yang… bu Surtini telahlah lupa dengan predikat-predikat itu. Ia terlalu gembira dengan semua ini.
Mirna berkicau semaunya. Sekehendak hatinya. Karena ia masihlah tetap gila. Bedanya, kini ia tidak seliar dulu. Ia lebih banyak diam dan memandangi orang-orang yang memperhatikannya. Hampir tiga tahun entah sudah berpetualang kemana saja dia. Dan tiada seorang pun tahu selain Mirna sendiri yang, tentu saja, sudah tak bisa ditanya-tanya lagi.
Yah… hidup memang kadang di atas, kadang di bawah. Lho, apa parameternya? Ada yang bisa menjawab?
BISA MENJAWAB atau tidak, bu Surtini nampak begitu gembira dengan kembalinya Mirna. Sebulan sudah Mirna tinggal di rumah. Kali ini betul-betul dijaga seketat-ketatnya. Dua adiknya hanya trenyuh melihat kebahagiaan bu Surtini. Hanya keponakan dari anak kedua bu Surtini saja yang merasa asing (kalau tidak bisa dibilang takut) dengan adanya Mirna.
Tapi kehidupan tetaplah menuntut haknya. Ia berjalan dan tetap terus berjalan. Maka suatu hari bu Surtini mulai curiga melihat beberapa kelakukan Mirna yang kerap berguling-giling sembari memegangi perut. Terkadang muntah di sembarang tempat. Itu terjadi selama beberapa saat lamanya. Tidak kuat dengan kecurigaannya, ia memanggil tetangganya yang dokter. Setelah didiagnosa, bukan kepalang kaget serta terhenyaknya keluarga bu Surtini demi mendengar hasil pemeriksaan dokter.
“Apa?! Mirna hamil?!!” teriak bu Surtini tidak percaya.
Dan gemparlah berita itu bagi seluruh tetangga komplek.
Sudah gila, hamil pula. Entah siapa yang menghamilinya. Barangkali sesama orang gila, tapi entah di mana. Bu Surtini yang nampak mulai tua itu, yang kekeriputan mulai menyapanya, yang kacamatanya terkadang sudah tak cocok lagi, tidak kuasa menahan tangisnya. Entah apa yang sedang dihadapinya dalam hidup ini. Saat anak-anaknya mulai beranjak dewasa, suaminya tewas disantet orang. Lantas anak sulungnya, Mirna, diperkosa dan menjadi gila. Hilang hampir tiga tahun lamanya. Anak keduanya setelah menikah, kembali ke rumah dengan dua anak, karena suaminya di-PHK. Kini setelah Mirna ditemukan, tiba-tiba kedapatan hamil dan entah anak siapa yang dikandungnya.
“Lalu apa lagi?! Apa lagi?!” isak bu Surtini tidak pada siapa-siapa.
“Tenang, Ma, tenang!” bisik anak bungsu bu Surtini mencoba meredakan tangis ibunya.
YA, MIRNA hamil. Kini sudah sembilan bulan bayi itu dikandungnya. Ibunya tetap saja gila. Begitu dilahirkan, bukan kepalang cantiknya bayi tak berdosa itu. Mungil, manis, dan menggoda. Keluarga bu Surtini mau tak mau menyambutnya. Mengucapkan selamat datang pada warga baru keluarga. Warga baru dunia. Entah siapa bapak anak itu, tetap Mirna juga ibunya. Mirnanya, tetap saja gila. Meski gila, tak berarti anaknya musti gila toh? Jangan selalu menganggap kalau bapak komunis, anaknya pasti turut komunis pula. Padahal waktu nuduh bapaknya komunis, tanpa pengadilan sama sekali.
Begitulah. Keluarga bu Surtini sedang kedapatan anggota baru dalam keluarga. Bayi itu belum tersempat diberi nama. Belum terpikirkan! Mirna tetap seperti sediakala. Dan barangkali tiada menyadari bahwa ia telahlah menjadi ibu dari seorang anak tak berbapak. Namun ada yang diherani dari keluarga bu Surtini: sejak dilahirkan, bayi itu sama sekali tak kedapatan menangis. Ya, bayi itu tidak pernah menangis. Mengeluarkan suara pun tidak. Ditunggu sejam-dua jam. Sehari-dua hari, tetap bayi itu tak memecahkan suara tangis. Maka, keluarga bu Surtini yakin, bahwa bayi itu: bisu!
MIRNA MASIH tergolek di tempat tidur rumah sakit ketika seluruh keluarga bu Surtini menengok bayi lucu yang bisu itu. Tiada seorang pun yang mengetahui kalau Mirna mengendap-endap bangun dan kabur dari rumah sakit.
He, Mirna kabur lagi! Keluarga bu Surtini tak bisa berkata apa-apa lagi. Bu Surtini jatuh pingsan. Dan musti dirawat di rumah sakit. Entah apa kini yang musti dijual untuk pembiayaan semua ini. Semua barang di rumah satu demi satu bisa ludes. Anak bungsu bu Surtini sudah kehilangan rasa untuk menuntaskan skripsi. Anak kedua dan suaminya hanya bisa pasrah. Dan bayi itu… bayi itu… ia tak tahu dan tak bisa berkata apa-apa.
SEBULAN KEMUDIAN tiba-tiba datang petugas rumah sakit Dr. Karyadi dan dua orang dari kepolisian ke rumah bu Surtini. Mengabarkan tentang diketemukannya mayat Mirna mengambang di Kali Garang. Di tubuhnya ditemukan banyak tusukan benda tajam. Menurut petugas itu, keluarga boleh mengambil jenazah korban setelah otopsi selesai dilakukan.
Bu Surtini hanya terdiam mendengar itu semua. Ia hanya menoleh pada bayi cantik mungil yang jelas tak tahu apa yang sedang terjadi.
ESOKNYA, KETIKA gerimis dengan lantun membasahi bumi, Mirna dimakamkan di Berguta. Bersebelahan dengan pusara bapaknya, suami bu Surtini. Bapak-anak itu kini bersemayam dalam damai. Warga komplek bu Surtini tak dapat mengucapkan apa-apa lagi. Karena entah apalagi yang musti diucapkan meski sebagai rasa empati sekalipun. Bu Surtini hanya diam dan termenung. Ia hanya memandangi cucu dalam gendongannya. Anak Mirna. Yang masih bayi, yang cantik, yang mungil, yang menggoda, yang bisu!
Ia tak tahu, adakah kematian jawaban untuk Mirna?
MANUSIA DATANG dan pergi. Menyetubuhi hidup: ada yang bahagia, ada yang menderita. Satu persatu memilih peran. Naik ke panggung, mendapat tepukan penonton, atau disoraki disuruh turun. Tapi panggung tetap mementaskan cerita. Mau lakon senang atau sedih, mau ada penonton ataupun tidak, panggung tetap mementaskan cerita. Bila senja tak juga kunjung malam, adakah jawaban dari itu semua?
* * *
Rumah Malka Bandung, 8 Oktober 2001
Senin, 03.00 WIB

