Bila Malam Marah Pada Malam
Oleh Daniel Mahendra
MALAM ITU suasana di desa Kacek nampak sunyi. Tidak ada seorang manusia pun yang melintas di jalanan. Udara dingin, sepi, lagi mencekam. Barangkali orang-orang lebih memilih mendengkur di atas ambin atau bercengkrama bersama keluarga, ketimbang nongkrong di warung atau pos ronda. Malam betul-betul terasa hening serta, tentu: mencurigakan.
Desa Kacek terletak di pesisir pantai selatan di sebuah kecamatan P., di Kabupaten J. Hampir seluruh penduduknya menggantungkan hidup dari laut: jadi nelayan, pembuat terasi, pemilik lokalisasi “legal”, atau pelacur. Hanya pendatang yang menempati posisi seperti guru, polisi hutan, mantri, atau pegawai kelurahan.
Kehidupan di desa ini keras. Meski perlakuan pada sesama atau pendatang nampak ramah, namun karakteristik mereka tegas serta berwibawa. Barangkali itu yang membuat pendatang terlihat segan serta menghormati sungguh penduduk daerah ini.
Dan tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam di desa kini dihinggapi suasana sepi yang teramat sangat. Senja tadi hujan baru saja pamit pulang. Digantikan bulan mungil yang menyembul di timur. Suasana betul-betul mencekam sehingga makin terasa mencurigakan.
“Rasanya malam ini sepi sekali, Pak!” keluh bu Ndari.
“Hmmm… Itu hanya perasaanmu.” ujar pak Kirno sembari membersihkan laras revolver di ruang tamu rumah dinas mereka. “Kau menyesal tidak bisa ke J. karena hujan sore tadi ‘kan?”
“Sudah lama nggak menjenguk anak-anak di J.”
Pak Kirno hanya tersenyum mendapati rasa rindu yang melumuti istrinya. Mereka berdua memang ditempatkan di desa terpencil ini. Karena kantor pusat di J. melihat potensi tanah subur di daerah P. Lantas memberi kepercayaan pada pak Kirno untuk memegang areal hutan berhektar-hektar di kawansan P. Anak-anak mereka yang tiga orang bersekolah di J.
Bu Ndari menutup jendela kayu itu. Merapatkan mantel dan duduk berseberangan dengan suaminya.
“Nggak seperti biasanya.”
“Sudahlah… Barangkali kau hanya kangen sama anak-anak. Tidur sana!”
Bu Ndari tak bereaksi. Ia mengamati suaminya yang mengeluar-masukkan kain pembersih di moncong revolver tua.
“Pelurunya masih lengkap?”
“Yah… tadi siang hanya menakut-nakuti. Sekedar memberi peringatan pada pencuri kayu.”
“Hati-hati, Pak!”
“Hmmm… Tidurlah!”
Bu Ndari bangkit. Menyeret sandal jepit masuk ke kamar yang hanya ditutupi korden. Membuka kelambu dan mencoba memejamkan mata. Pak Kirno masih kerasan mengutak-atik revolver setianya, sembari mengepulkan berbatang-batang kretek serta menyeruput kopi kental. Suasana tetap sunyi menyengat. Dan bulan di atas menunaikan tugasnya.
TIBA-TIBA anjing menyalak dengan serak di tengah malam. Gonggongnya menebar kecurigaan. Sayup-sayup terdengar sorak-sorai orang dari kejauhan. Seperti jerit kemenangan. Sontak pak Kirno loncat dari kursinya. Berjingkat di lantai kayu. Membuka korden dan,
Astaga!
Matanya menangkap seorang muda berumur duapuluh limaan, digiring beramai-ramai ratusan orang: ditendang, dijambak, didorong-dorong, diludahi, dan dihantam punggung clurit. Seperti kebiasaan penduduk desa ini jika menangkap maling yang sedang sial.
Pak Kirno sudah keluar menuju beranda rumah kayunya.
Sorak sorai, umpatan, serta caci maki makin jelas saja. Makin kentara mendekat. Jangan ditanya keadaan pemuda itu. Ai, kepalanya sudah berlumuran darah. Jalannya makin terseok-seok. Tapi orang-orang tetap saja memukulinya. Menghajarnya. Dan diarak di sepanjang jalan. Di depan rumah dinas pak Kirno.
“He, ada apa?!” cegat pak Kirno pada orang-orang yang mulai melintas.
Penduduk di sini segan pada pak Kirno. Karena pak Kirno polisi hutan di kawasan ini. Kerap menangkap pencuri kayu hutan atau pemburu liar.
“He, ada apa?!” teriak pak Kirno lagi. Ia sudah menuruni tangga rumahnya.
“Dia, Pak! Dia! Dia yang selama ini kita curigai. Dia yang selama ini mencuri ternak-ternak kita. Yang memperkosa gadis-gadis di sini. Sekarang giliran dia!” seru salah seorang penggiring.
“Lho, kenapa nggak dibawa ke kantor polisi?!” teriak pak Kirno.
“Hah?! Kantor polisi?! Lantas diapakan dia? Digebuki juga toh? Lantas dilepas lagi. Sama saja! Mending dibunuh saja!!”
“Ya… ya… bunuh saja!!!” timpal pengarak yang lain mengakuri.
“Pateni… pateni…!!!” yang lain tak mau kalah.
Masyaallah! Pak Kirno ingin mencegah. Tapi massa nampak sudah semakin beringas dan buas. Jumlah mereka ratusan.
Sontak malam yang sepi itu pecah ditingkahi ribuan caci maki. Orang-orang yang tadi mendekam di dalam rumah, serta merta melongokkan kepala dan keluar dari rumah. Ikut menyoraki apa yang disoraki orang-orang yang melintas. Bahkan beberapa sudah ada yang ikut melempari wajah pemuda itu dengan batu. Suasana betul-betul mengerikan.
TIBA-TIBA rombongan penggiring berhenti di depan sebuah rumah tua. Memanggil-manggil pemiliknya. Orang-orang yang mengerubung makin menggelumbang saja. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak muda, anak-anak, nenek-nenek, juga pak Kirno.
Pemuda tadi sudah tidak berdaya. Tapi setiap akan rubuh, orang-orang memaksanya untuk berdiri lagi. Menamparnya. Memukulinya. Sadis!
Seorang bertubuh gempal, berkumis tebal maju dan berbicara pada si tuan rumah dalam bahasa Jawa pasar: “Maaf, ini, anakmu!!” lengannya mencekal bahu si pemuda.
Si tuan rumah tidak mengira kalau keadaan anak lelakinya sudah babak belur seperti itu (menyeramkan untuk ditulis di sini).
“Kami kembalikan. Tapi situ sing tanggung jawab!!” seru orang itu lagi.
“Ndak!! Ndak!!” jawab si tuan rumah dalam Jawa pasar pula. “Itu memang anakku. Tapi terserah kalian mau diapakan. Kami sudah ndak mau menerimanya lagi. Bajingan seperti itu bukan anakku lagi!”
“Jadi terserah?! Yakin?!”
“Terserah!!”
Sontak sorak-sorai kembali memecahkan telinga. Mereka seperti mendapat restu dari orangtua si pemuda untuk memperlakukan apa saja pada seseorang yang mereka tuduh peresah desa itu. Mereka kembali mengaraknya. Menjambaknya. Memukilinya. Menendangnya. Menghajarnya. Dan si pemuda dipaksa untuk tetap berdiri dan berjalan. Tidak sedikit pun dibolehkan rubuh ke tanah. Kejam!
Rombongan penggiring kembali berjalan menuju utara sambil terus menghajar habis-habisan si pemuda.
PEMUDA ITU bernama Raswan. Ia jarang tinggal di desa. Kalau pulang tidak pernah lama, dan selalu mabuk-mabukkan. Suatu saat ia pergi lima tahun lamanya. Begitu kembali ada saja kericuhan terjadi di desa. Memang ia tidak pernah lama tinggal. Namun setiap kemunculan dirinya, selalu saja ada ternak hilang, gadis diperkosa, atau perampokan. Penduduk desa memang tidak pernah memergokinya. Tapi kecurigaan muncul begitu saja. Seperti angin yang berdesau-desau mengirimkan kabar busuk di senja hari. Menggelumbang bagai sassus. Tidak pernah terbuktikan. Dan ketika kerugian demi kerugian sudah begitu menyesakkan penduduk desa, seperti jatuh dari langit: penduduk lantas menuduhnya si biang keresahan!
PEMUDA ITU sudah setengah mati. Entah kemana setengahnya lagi. Darah sudah bermuncratan dari tubuhnya. Orang-orang seperti tidak peduli. Terus saja menyiksanya sebegitu senang hati. Seperti mendapat restu untuk berlaku sesuka hati terhadap sesama manusia, sejenis mereka juga.
Pak Kirno gopah-gapah berlari kembali ke rumah. Ia sudah tidak bisa melerai ratusan massa yang beringas. Ia bergegas menaiki tangga rumah kayunya. Menanggalkan sarung, mengenakan celana gunung, menyabet mantel, dan menyelipkan revolver.
“Mau kemana, Pak?” tiba-tiba bu Ndari terbangun mencegatnya.
“Hah? Ah, cari rokok sebentar!” ia menyembunyikan wajahnya. Dalam hati ia bertanya-tanya: kenapa istrinya tidak terbangun saat ramai-ramai tadi? Tapi ia urung menceritakan kejadian tadi demi melihat istrinya tertidur kembali.
Ia menuruni anak tangga kayu itu. Ia menyesal kenapa sore tadi tidak mengisi baterai HT-nya. Ia nyalakan motor tuanya. Dan berkejaran dengan waktu menuju kantor polisi di kecamatan.
RIWAYAT PEMUDA tadi? Lebih baik tak perlu dideskripsikan terlalu jelas. Jangankan untuk menuliskannya, membayangkannya pun, kalau tak kuat benar, bisa bikin muntah. Teramat sangat menyeramkan, kalau tidak dapat disebut menjijikkan.
Di sebuah tempat terbuka. Sedikit lebih jauh dari rumah penduduk desa, Raswan dikelilingi orang-orang bersenjata tajam. Setiap orang boleh memperlakukan apa saja pada tubuh si pemuda. Entah hukum apa yang berlaku di desa ini. Yang jelas seperti ini bukan hukum adat. Rasanya tidak ada hukum adat yang semena-mena seperti ini. Menangkap serta menyiksa orang tanpa ada pengadilan bagi dirinya. Siapa nyana, pemuda itu bersalah atau tidak. Terbukti atau tidak. Siapa yang nyana? Dan orang-orang kembali memukulkan senjata-senjata mereka: balok kayu, besi tumpul, alat penumbuk padi, popor senapan angin, serta punggung clurit mampir di wajah, tubuh, lengan, kaki, serta kemaluan. Pemuda itu sempoyongan, namun dipaksa untuk tetap berdiri. Orang-orang yang tidak siap atau tidak membawa alat, hanya bisa melempari dengan bongkahan-bongkahan batu yang dipunguti di jalanan. Hanya bisa, sekali lagi hanya bisa! Ya Tuhan!
Tiba-tiba empat orang maju. Merentangkan tangan mencoba menghentikan penyiksaan yang tengah terjadi. Empat orang bersenjata clurit. Yang dua memegangi Raswan agar tetap berdiri. Supaya tidak roboh ke tanah. Raswan sendiri sudah tidak bisa melihat apa-apa. Kedua bola matanya sudah hancur. Entah oleh apa. Oleh lemparan batu, atau tertusuk bilah bambu tajam. Tubuhnya sudah bermandi darah. Kemaluannya nyaris putus, karena ditarik dengan kail pancing.
“He, enak?! Ha?! Enak?!” seru satu dari empat orang yang mengelilinginya.
“Ngomong goblok!!” orang kedua memukul mulutnya dengan punggung clurit.
“Itu rasanya kalau anak orang diperkosa. Itu rasanya kalau sapinya dicuri. Itu rasanya kalau hartanya dirampok! Sekarang sudah merasakan?!” hardik orang ketiga.
“Ini untuk perbuatanmu!!!” CRAT! Orang keempat mengibaskan cluritnya dan menancap di ubun-ubun kepala Raswan. Raswan sontak menjerit, namun tertahan karena mulutnya telahlah hancur. Mau tidak mau roboh juga ia ke tanah.
Dua dari empat orang itu kembali memaksanya berdiri. Raswan sudah tidak mampu. Ia sempoyongan kesana-kemari. Orang kedua membacok perutnya. Dagingnya tercabik. Darahnya muncrat. Raswan meronta. Orang ketiga mencabik mukanya. Raswan mengerang. Orang keempat menebas batok kepalanya. Ya Tuhan, sungguh tidak pantas untuk ditulis di sini, tapi, mulai dahi hingga kepala bagian belakang sudah berpisah bagian. Raswan sudah tak berpatok kepala. Otaknya berhamburan. Ketika tubuhnya hendak ambruk, orang pertama sudah menebas lehernya, BLESS!!!
Raswan ambruk. Tanah memangkunya. Raswan berkelojotan. Namun sudah tidak mengerang lagi. Sudah tidak menjerit lagi. Sudah tidak bisa memanggil ibunya seperti tadi: “Mak… mak…!”
Raswan mati. Empat orang bersenjata clurit tadi mengibas-ngibaskan senjatanya ke udara. Meminta sorak kemenangan pada ratusan orang yang merubunginya. Lantas clurit-clurit itu membabi buta mencabik-cabik tubuh Raswan. Mencincang seperti pada binatang. Bau amis darah menyengat kemana-mana.
Orang-orang bersorak-sorai. Seperti meneriakan pekik kemenangan. Kemenangan entah atas apa. Meski sudah tidak bernyawa, orang-orang masih lagi melempari tubuh Raswan dengan batu. Seperti tidak percaya, kalau Riswan telahlah mati.
Ya, Raswan sudah mati. Dan tubuhnya disorong ke jurang. Orang-orang kembali berteriak gembira dalam amarah. Satu persatu bubar dan kembali ke rumah. Sebelum pulang, bebarapa orang iseng (atau sadis?) menaburi darah Raswan yang tercecer di jalanan dengan abu gosok dan jeruk nipis. Entah apa maksudnya. Kata orang-orang, itu akan membuat si arwah menjerit kepedihan. Entahlah benar tidaknya. Namun tetap saja beberapa orang melakukan itu.
Orang-orang kembali ke rumah. Diselingi cerita-cerita heroik atas apa yang telah mereka lakukan pada seseorang yang dituduh sebagai: peresah desa.
JALANAN KEMBALI sunyi. Meski tak sesenyap tadi, namun suasana seolah tak terjadi apa-apa. Pak Kirno nampak termenung di beranda rumah kayunya. Hari belum lagi subuh. Biasanya pak Kirno tak bisa tak merokok. Tapi kini bungkus kretek itu tergolek begitu saja di meja kayu beranda rumah. Ia termenung. Terdiam sembari mengutuki dirinya yang tak dapat berbuat apa-apa saat pembantaian itu terjadi. Mencoba berlari ke kantor polisi, toh baru bisa datang pagi ini. Saat Raswan sudah tak bernyawa lagi. Dan yang tak kalah ngeri: Raswan dihukum dan disiksa tanpa secuil pengadilan pun. Tanpa diberi kesempatan membela sedetik pun. Dituduh dan dihukum dengan tanpa kemanusiaan.
Saat petugas merunut kronogis kejadian di tempat kejadian perkara, empat orang bersenjata clurit yang semalam menjadi aktor pembunuh Raswan telah menghilang dan pergi entah kemana. Bahkan beberapa pria pun seperti tak nampak di desa itu. Petugas kebingungan. Entah apa yang musti dilakukan kalau sudah seperti ini.
Pak Kirno masih termenung-menung di beranda rumahnya. Ketika adzan subuh mulai berteriak-teriak, bu Ndari bangun dan terhenyak mendapati suaminya duduk lesu di beranda rumah.
“Lho, Pak?”
Pak Kirno menoleh. Menyuruh istrinya duduk. Dan ia pun mulai bercerita tentang kejadian tengah malam yang menurut bu Ndari terasa sepi itu.
Bu Ndari terhenyak. Ia pergi ke belakang rumah. Berbasuh dengan wudhu. Setelah salat, ia pergi memetik beberapa kembang di pekarangan rumah. Kemudian ia menaburi darah yang tercecer di sepanjang jalan tadi dengan kekembangan. Wangi menyengat menebar keharuman. Entah kenapa, amis darah seperti tersapu oleh wewangian kembang. Bu Ndari terus dan terus menaburi darah yang tercecer dengan kembang di tangannya. Terus hingga ke pinggir jurang, tempat mayat Raswan dibuang.
KETIKA MATARI menyembul, orang-orang yang sedikit punya rasa peduli berkumpul dan berniat mengangkat mayat Raswan. Mereka sepakat tidak menggunakan keranda masjid guna mengangkat tubuh Raswan. Tidak sudi! pikir mereka. Mereka lebih memilih membikin tandu dari bambu ketimbang menggunakan keranda masjid. Bahkan ketika bu Ndari memberikan kain jarik untuk menutupi mayat Raswan yang telah tercincang-cincang, orang-orang melarangnya.
“Lho, ini saya berikan cuma-cuma!”
“Tidak! Jangan! Lebih baik Ibu pulang!” seru orang-orang itu.
Dan orang-orang menutupi mayat Raswan yang hancur dengan berlembar-lembar daun pisang. Persis seperti binatang!
Mayat Raswan digotong dan ditelakkan di depan rumah orangtuanya. Dibiarkan begitu saja tanpa ada seorang pun yang peduli terhadapnya. Dirubung lalat namun herannya, tidak menebarkan aroma amis darah serta daging yang tercincang.
Mayat di atas tandu bambu yang dibuat buru-buru itu, yang ditutupi berlembar daun pisang itu, dibiarkan orang-orang sejak pagi hingga matahari bertengger di tengah titik kulminasi.
Orang-orang di rumah keluarga Raswan tidak peduli dan seolah merasa tidak terjadi apa-apa atas kejadian yang menimpa anggota keluarganya. Mereka seperti tidak mau tau bahwa mayat Raswan, bagian dari mereka, teronggok busuk di depan rumah dan dikerubungi lalat.
Ya, Raswan telahlah mati. Mati dengan tuduhan, dengan hukuman, tanpa pengadilan, tanpa masa tahanan.
MALAM ITU suasana di desa Kacek nampak sunyi. Tidak ada seorang manusia pun yang melintas di jalanan. Udara dingin, sepi, lagi mencekam. Barangkali orang-orang lebih memilih mendengkur di atas ambin atau bercengkrama bersama keluarga, ketimbang nongkrong di warung atau pos ronda. Malam betul-betul terasa hening serta, tentu: mencurigakan.
Dan setiap dari semua warga yang baru memiliki anak, bayi mereka menangis tersedu-sedu tanpa sebab, tanpa alasan. Mereka menangis, dan terus menangis.
Suasana memang betul hening, sunyi, namun juga mencekam.
“Rasanya malam ini sepi sekali, Pak!” keluh bu Ndari.
“Hmmm… Itu hanya perasaanmu, Bu.” ujar pak Kirno sembari (kali ini hanya) memandangi revolver tua yang tergeletak di meja ruang tamu rumah dinas mereka.
* * *
Lembang, 25 Oktober 2001
Kamis, 00.44 WIB


Hi mas……..
nice cerpen…