Archive for November, 2001

Curahan Seorang Aktivis

Jumpa, Edisi 20/Th.XI/2001

Oleh G. Kuswara

Judul Buku : Selamat Datang di Pengadilan

Penulis : Daniel Mahendra

Tebal : 107 + xvii halaman

Penerbit : Malka

Ada luka meninggalan rezim yang berkuasa selama 32 tahun. Luka yang diderita sebagian besar rakyat negeri ini, yang terus menggumpal menjadi gundukan kemarahan massalh anak bangsa. Terlebih ketika roda reformasi semakin melenceng keluar jalur. Tidak adanya penanganan hukum yang serius terhadap berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh penguasa-penguasa rezim Orde Baru dan kroni-kroninya.

Continue Reading »

Sebuah Cerita Tentang Bangsa Timor

 

aku menikahimu bukan karena sejuk paras anggunmu

juga bukan molek gemulai tubuh yang kau tawarkan

terlebih lagi harta tertumpuk warisan leluhurmu, apalagi

semua tak tersisa padamu

wangi tubuhmu porak poranda dimakan kesombongan

jaman kolonialisme

sejak itulah kau mengaduh dan minta dirayu

sebagai lelaki yang tau akan kejantanan

aku menemuimu di halte bis kota tanpa jurusan

lihatlah tetangga kita yang sombong dan jumawa

melenguh akan komunisme masa lalu

dan hei, aku si pembuat sejarah;

marilah sayang, menikahlah denganku!

kan kuberi segala harum parfum impor hasil utangan

kan kudirikan istana megah di tanah tandusmu yang becek

kupersembahkan mas kawin dengan seribu wangi dupa

yang asapnya mengepul-ngepul di atasnya

Itulah sebabnya,

aku merangkulmu sebagai istri yang kedua puluh tujuh

dimana utang para cukong kugantungkan padamu

pernahkan terpikirkan kau melahirkan anak-anak mungil

dari hasil perkawinan kita yang diperjodohkan ini?

atau memberikan kepuasan lahir batin

pada suamimu yang poligami ini?

itulah istriku,

aku panggul senjata guna merayumu

untuk tunduk pada semua titahku

aku hujani kau dengan emas apkiran

agar kau tampak gemerlap meski hatimu menangis

puluhan tahun kita, seranjang berdua tanpa anak

kini kau merajuk perceraian dari perjodohan ini

lihatlah, kau membiarkan tubuhmu yang genit

kembali dicoreng moreng tangan-tangan pemuda

pinggir jalan

kau mulai mengkoar-koar pada tetangga yang gemas

menggoyangkan pantatmu yang kemayu

dan mereka memburumu sebegitu bernafsu

lalu apa katamu, mantan istriku;

“Pernahkah kau minta aku secara baik-baik

saat menikahiku dulu, hei fasis?”

aku tertegun akan kebodohan diri

pergi menyendiri, belok dan hilang di tikungan jalan!

Hujan Menghapus Jejak Cerita

 

kembali tercium aroma tubuhmu yang gemulai

persimpangan jalan ini semakin berujung

ketika kau memilih mulusnya jalan raya

ketimbang bergandengan tangan

di jalan setapak, yang kerap ditimpa hujan

tersempat kita semeja menikmati hidangan malam

bercerita kau tentang jalan raya yang hendak dibangun

aku memilih jalan setapak penuh becek dan belukar

sementara kau mengeluhkan takut terinjak duri

kau berbisik masih lagi menginginkanku

aku pun masih sangat mencintaimu

tapi aku tak punya kendaraan untuk melunasi jalan rayamu

tempatku di bukit ini, di tengah ladang luas

di sebuah gubuk, yang menimbulkan bau romantis

ketika hujan datang bertamu

kalau memilih berjalan kaki di jalan rayamu

bisa tumpah kata-kata yang sudah tersusun di kepala

mengapa tidak kita lantunkan tembang rindu di malam hari

sembari bersenandung tentang anak-anak kita yang tak pernah ada

perpisahan ini memang menyakitkan

tapi seperti yang sudah-sudah:

hujan menghapuskan jejak-jejak cerita

yang menempel di kertas-kertas penuh sajak

 

Jember, 28 Nopember 2001

Pernikahan yang Dibanggakan

Cerpen Daniel Mahendra

APA MUNGKIN aku ini setan? Atau setan yang berbentuk manusia? Atau pula manusia yang dimasuki makhluk bernama setan? Mana tahulah! Tapi aku merasa masih punya akal. Punya pikiran. Mungkin hanya nurani yang sudah tak bersemayam dalam diriku. Bagaimana tidak, dia sudah lagi bersuami. Bahkan anak, lima tahun umurnya. Duh!

Apa sebetulnya yang kucari dari dia? Adalah pikiran gila kalau mengkhayal ia kan menceraikan suaminya lantas kawin denganku. Mau ditaruh di mana muka ini? Memang tidak ada soal cinta di sini. Ini bukan lapangan cinta, yang selalu saja meresahkan setiap manusia. Yang banyak membuat manusia yang sok mengagung-agungkan maknanya, terperosok juga karenanya. Prek tentang segala pemaknaan cinta! Ini cuma gara-gara dia bersebelahan denganku di kereta Mutiara Timur sejak Surabaya-Banyuwangi dan menyeberang ke Bali. Continue Reading »

Kampus dan Tradisi Sastra di Bandung

Pikiran Rakyat - Minggu, 18 November 2001

Oleh Beni R. Budiman

Pertumbuhan sastra Indonesia, terutama setelah era 50-an, hampir tak bisa dilepaskan dari dunia kampus. Sungguhpun kampus tak memberi andil secara langsung dalam perkembangan sastra tersebut, tapi paling tidak ada beberapa hal yang membuat mengapa kesusastraan dan sastrawan lebih banyak hidup dalam kampus, antara lain: pertama, kampus yang sering disebut sebagai center of exelence telah memungkinkan munculnya penghargaan atas intelektualisme. Lebih jauh lagi dengan itu, kampus memungkinkan munculnya tradisi kritis yang erat hubungannya dengan tradisi literat. Atau meminjam istilah A Teeuw sebagai keberaksaraan.

Continue Reading »

Bila Surat Tanpa Alamat Surat

Oleh Daniel Mahendra

Lama sudah kami tak bertemu. Tahunan lamanya. Terakhir kali bertemu saat aku musti pergi (lebih tepatnya kabur?) ke Belanda. Saat itu tak ada pilihan lain bagiku selain pergi ke luar negeri.

Penguasa kala itu sudah menjadikanku “buronan” dengan tuduhan subversif terhadap pemerintah. Aku pengecut? Mungkin saja! Tapi itulah jalanku satu-satunya untuk menyelamatkan diri serta membangun kekuatan dari luar. Dan dia menggenggam bahuku. Memelukku begitu erat. Malam itu di terminal bis Arjosari, Malang: Continue Reading »