Bila Surat Tanpa Alamat Surat
Oleh Daniel Mahendra
Lama sudah kami tak bertemu. Tahunan lamanya. Terakhir kali bertemu saat aku musti pergi (lebih tepatnya kabur?) ke Belanda. Saat itu tak ada pilihan lain bagiku selain pergi ke luar negeri.
Penguasa kala itu sudah menjadikanku “buronan” dengan tuduhan subversif terhadap pemerintah. Aku pengecut? Mungkin saja! Tapi itulah jalanku satu-satunya untuk menyelamatkan diri serta membangun kekuatan dari luar. Dan dia menggenggam bahuku. Memelukku begitu erat. Malam itu di terminal bis Arjosari, Malang:
“Biar aku antar sampai bandara, War!” pintanya.
“Aduh, tolong Ru, jika kita terlihat bersama, itu akan membahayakanmu!” aku tak kuasa menatap matanya yang meminta.
Ndaru adalah sahabatku. Pahit getir selalu kami lantunkan bersama. Kalau ada secuil kegembiraan, ia selalu membaginya. Tentang apa pun itu. Tentang pergerakan organisasi. Tentang perjuangan hidup yang tak pernah tuntas. Begitu pun tentang sekelumit dongeng percintaan yang selalu saja meresahkan. Terkadang kami memang berbeda pendapat, namun tak lebihlah sebatas adu argumen. Dan ia mulai membuka kalung dog tag-nya. Memberikan satu lempeng untukku, dan satu lempeng lagi untuknya sendiri. Keduanya beridentitaskan namanya. Uh, aku tak kuasa menatapnya. Aku peluk dirinya. Mataku mulai digerimisi air.
Itulah pertemuan terakhir. Dan kini, setelah melewati tahun-tahun persembunyian yang suram, penuh perjuangan, tiba-tiba sepucuk surat muncul di hadapanku. Memaksaku memicingkan mata demi membaca judulnya: Surat yang Tertunda.
Maka, begini bunyi surat itu:
Gawar, sahabatku.
Apa kabarmu? Maafkan aku jika baru kali ini dapat menulis surat padamu. Aku tau, kau tak dapat dengan mudah menghubungiku. Meski dengan nama samaran sekalipun. Musti kucari akal benar agar surat ini betul sampai di tanganmu. Seluruhnya akan kau ketahui melalui seseorang yang telah mengantarkan surat ini padamu. Tolong sampaikan ribuan terimakasihku padanya.
Gawar, bagaimana dengan penghidupanmu sendiri? Aku ingin mendengar semua tentangmu, War. Namun kini, biarlah aku bercerita tentangku terlebih dahulu.
Di umurku yang lebih dari seperempat abad ini, entah apa yang sudah aku lakukan. Aku mengelinding dan terus menggelinding. Orang menamainya proses. Namun apakah tetap dinamai proses jika kita belum lagi tahu kemana arah tujuannya?
Aku belum lagi tahu, apakah kamu tahu tentang keadaanku. Baiknya kuceritakan saja.
Kamu ingat pertemuan terakhir kita di terminal Arjosari Malang, War? Seminggu setelah itu aku ditangkap. Ceritanya begini:
Saat itu jam 21.00, aku sedang menyusuri Jalan K., sendirian. Tiba-tiba muncul sebuah sedan serta dua jip menghadang. Penumpangnya yang rata-rata berbadan tegap berhamburan turun. Semua berpakaian preman. Aku terkesiap mendapat serbuan seperti itu. Saat itu juga, tanpa permisi, sepucuk pistol langsung ditempelkan di kepalaku, sepeti ciuman seorang gadis yang rindu pada pacarnya.
Kamu Gawar?! bentak seseorang dari mereka.
Bukan! Saya Ndaru Chandra!
Bohong!!
Betul, saya bukan Gawar. Saya Ndaru!
Sudah ikut saja!! sentak orang itu lagi.
Aku merasa, berpucuk-pucuk pistol menempel di pinggangku. Aku dimasukan ke dalam salah satu jip, dan dibawa entah kemana. Aku meminta mereka menunjukkan surat penangkapan, tapi mereka malah menutup mataku dengan kain hitam. Tidak ada surat-suratan…! bentak mereka. Bahkan tak sedetik pun mereka melepaskan pistolnya dari keningku.
Pertanyaanku tak mereka hiraukan saat kutanya dari kesatuan mana mereka. Mobil meluncur kencang. Berputar-putar, seperti sengaja keliling kota Malang. Dalam hati aku berkata, ‘Ndaru… kalau kamu harus mati, matilah dengan keberanian…’ Dan aku menjadi tidak sabar untuk menanti kejadian selanjutnya yang menimpa diriku.
Sekitar dua jam kemudian, mobil serasa memasuki perkampungan dan akhirnya berhenti pada sebuah jarak. Aku dituntun turun dan mataku tetap mereka tutup. Tiba-tiba aku mendengar suara gembok dibuka: sebuah sel? Aku didorong masuk ke dalam. Mereka membuka penutup mataku. Ya, sebuah sel! Entah di mana. Entah kesatuan apa. Tapi mungkin masih di kota Malang. Tak taulah. Malam itu aku mendekam di sel sendirian. Tas ransel dan segala perlengkapanku sudah entah di mana. Dan jangan tanya, apakah aku bisa memejamkan mata malam itu.
Pagi-pagi benar mereka mendatangiku. Menyuruhku makan nasi bungkus dan segelas air. Setelah selesai, mereka kembali menutup mataku dan aku dituntun keluar. Dimasukkan kembali ke dalam mobil. Dan alangkah lamanya perjalanan kali ini. Berjam-jam kiranya. Aku menebak ini perjalanan ke luar kota. Aku tak bisa apa-apa dengan mata tertutup seperti itu. Lagi pula tanganku diborgol. Aku betul-betul sudah seperti bajingan yang ditangkap tanpa basa-basi.
Mobil berjalan seharian dengan kecepatan tinggi. Baru kira-kira pada tengah malam mobil berhenti dengan segala kelelahannya. Penutup mataku dibuka. Mataku mengerjap-ngerjap. Mereka menyuruhku turun. Tampak olehku orang-orang berbaju preman berbaris di kiri-kanan. Rata-rata dari mereka membawa pistol yang diselipkan di pinggang. Orang-orang itu tidak semuanya berpotongan tentara. Banyak di antaranya yang posturnya biasa-biasa saja, bahkan layaknya mahasiswa. Aku mencoba menyapa mereka, tapi tak mereka gubris. Ada juga yang malah kaget melihat tampangku, seolah-olah mereka tidak tahu siapa yang telah mereka tangkap.
Begitulah. Aku dibawa ke sebuah ruangan. Mereka mendudukkanku di sebuah kursi dan berhadap-hadapan dengan orang-orang yang tak jelas siapa. Tiba-tiba, salah seorang di antara mereka berbicara keras kepadaku.
Gawar… gimana nih, revolusimu gagal…! katanya sambil tertawa mengejek.
Aku Ndaru. Ndaru Chandra. Bukan Gawar! sergahku tak kalah cepat.
Tapi mereka tak menghiraukan ucapanku.
Lalu datang seseorang memasuki ruangan, menghampiri dan langsung duduk di depanku.
Ini Gawar? hmmm…, well, masih muda. Gimana petualangan politikmu? Tentu seru ya! Yah… sebagai anak muda kamu harus berani bertanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap semua yang telah kamu lakukan… Soal benar atau salah, kalah atau menang, itu lain persoalan…
Pada mulanya, aku tidak mengetahui siapa gerangan orang yang berbicara di depanku itu. Wajahnya agak berbau Arab. Baru sejenak kemudian aku menyadari bahwa orang tersebut adalah Mayjen I.M., salah seorang petinggi di intelejen. Aku pun segera menyadari di mana keberadaanku dan kesatuan apa yang telah menangkapku. Persis sebuah anekdot yang mengisahkan bagaimana tentara menangkap seekor serigala yang lari ke hutan. Hanya dalam waktu singkat, aparat keamanan sudah keluar dari hutan dengan menenteng seekor kelinci, dan berkata, “Ini serigalanya sudah kami tangkap!” Dan kelinci yang sudah babak belur itu kembali dihajar sehingga berteriak-teriak, “Ya Pak, ya Pak, saya serigalanya!”
Tapi aku bukan kelinci itu. Aku tak pernah mengakui sesuatu yang tidak kuperbuat, secanggih apa pun skenario yang dibangun untuk menjeratku. Dan sejak saat itulah, aku mulai mengalami interogasi dami interogasi panjang. Malam pertama, aku diinterogasi selama kurang lebih 20 jam dan malam-malam berikutnya sekurang-kurangnya 15 jam. Interogasi-interogasi panjang itu terfokus pada soal-soal seputar jaringan organisasi, jaringan nasional, juga jaringan internasional. Dan jangan ditanya apa saja teror serta siksaan fisik yang mereka lakukan di samping interogasi-interogasi yang melelahkan itu: jambakan rambut, ditampar, ditempeleng, dipukul, dan ditendang sudah setiap saat mereka lakukan. Yang membuatku tak kuat adalah jika mereka sudah menindih kuku dan jari-jari tanganku dengan kaki kursi, sementara mereka duduk di atasnya. Begitulah gambaran wajah tentara republik ini dalam kurun waktu, yang katanya, modern.
Para interogator juga banyak mengorek soal program dan garis politik organisasi. Juga yang bersifat ideologis serta teoritis. Sejak itulah kehidupan penjara mulai memasuki agenda perjalanan hidupku. Entah penjara mana saja sudah kusinggahi. Sudah berapa ribu jam interogasi aku jalani. Dan dari kesemua itu, aku tak diijinkan mengontak seorang pun di luar sana. Aku betul-betul tercerabut dari kehidupan luar. Tidak ada proses verbal. Tidak ada habeas corpus. Tidak ada pengadilan. Dan sudah barang tentu tak ada pembelaan. Aku sudah dianggap bukan lagi manusia yang memiliki hak. Kehidupanku hanya menjalankan kewajiban demi kewajiban, yang barangkali lebih pantas disebut paksaan. Manalagi aku tahu apa statusku kini: Tahanan politik? Penjahat? Nggak tahulah!
Ya, aku mengembara dari penjara ke penjara. Interogasi demi interogasi seperti tak ada habisnya. Entahlah, untuk apa semua itu. Toh tak pernah ada bahan bagiku untuk diajukan ke pengadilan. Lantas jambakan, tamparan, pukulan, dan tendangan kembali mampir di tubuhku. Juga aku tak tahu untuk apa itu semua. Kadang aku mereka telanjangi dan jadi bulan-bulanan tinju. Setelah itu baru aku diijinkan membasuh tubuh. Mandi di bawah pancuran. Dan dimasukkan kembali ke dalam sel.
Soal makanan? Ha, lebih baik jangan dibayangkan! Nasi yang disodorkan padaku begitu keras karena dimasak seperti kurun waktu jaman purba. Aku dengar dari tahanan lain (tentu dengan cara mencuri-curi, karena aku tak diijinkan berkomunikasi dengan tahanan lain), petugas dapur menuangkan beras dari karung ke dalam sebuah tong, kemudian mengisinya dengan air melalui sebuah selang. Baru dimasak di atas api. Kalau hari itu ada sayur kol, ai, itu berarti hari mujurku. Sementara lauknya diselang-seling antara tempe atau ikan asin. Tiap hari? Tentu tidak. Tidak setiap hari aku dapat lauk. Aku bukan tidak terbiasa dengan menu seperti itu. Yang membuatku ngeri adalah cara memasaknya: jauh dari syarat kesehatan! Sementara tidurku, minim dari syarat kelayakan. Ruang tahananku tak lebih dari 2×1 meter. Maka lantai semen adalah alas tidurku. Setiap malam! Terkadang jika malam-malam sehabis interogasi yang panjang, setelah teror dan siksaan fisik kutunaikan, aku merasakan kesepian yang teramat sangat. Aku ingin berbuat sesuatu tapi entah apa. Setiap jam aku selalu merasakan ketakutan. Bagaimana tidak, karena semua tak lebih berisi siksaan demi siksaan. Kerap terngiang-ngiang dalam petualangan pikiranku; Sebetulnya untuk apa aku ini dilahirkan? Untuk siapa? Untuk di mana? Untuk bagaimana? Pertanyaan seperti itu jika mampir di pikiran orang normal lagi waras, bisa jadi adalah sebuah pertanyaan yang konyol. Tapi aku? Setiap malam selama lima tahun lamanya! Lima tahun! Lima tahun dalam kehidupan normal, yang menjalankan rutinitas harian: adalah hal biasa. Tapi lima tahun dalam penindasan seperti ini? Lima tahun tanpa persentuhan kontak dengan seseorang dari dunia luar? Betul-betul sebuah ajang perampasan hak individu untuk merdeka, baik pikiran maupun perbuatan. Betul-betul sebuah penderitaan!
Dan tahukah kamu, apa yang membuatku ingin mati saja rasanya: kematian mamaku. Ini kuketahui saat pada akhirnya aku dibebaskan. Ya, dibebaskan. Tapi kematian mamaku telah berlalu dua tahun lamanya. Berarti pada masa tahananku menginjak tahun ketiga. Dan tak ada seorang manusia pun yang memberitakan padaku atas kematian mamaku. Sungguh betapa biadabnya mereka! Yang kutemui hanyalah segunduk tanah makam.
Ya, sejak kepergianku yang tak seorang pun tahu kemana, mamaku jatuh sakit. Praktis mama hidup sendiri sejak itu. Mama sudah tak tahu lagi musti kemana mencariku. Semua jalan sudah ditempuhnya. Dan kanker mulai menggerogoti rahimnya. Sungguh berat penderitaan mamaku. Sejak aku kecil, suaminya diculik oleh sepasukan tentara di suatu malam buta dengan gun terkokang di kepala. Lantas menghilang-lang… tak diketahui rimbanya. Belum ditambah dengan kepergianku yang tanpa kejelasan perkara. Mamaku seperti ditantang oleh sebuah pertanyaan: ‘inikah hidup yang sebenarnya?’ Sungguh sulit melukiskan semua perasaanku saat itu.
Maka setelah pada akhirnya aku dibebaskan, aku dibekali secarik surat: ‘tidak terlibat organisasi terlarang apapun’. Secarik! Hanya secarik! Lima tahun mendekam dalam siksaan, penindasan, dan penderitaan: hanya dibekali secarik surat semacam itu! Lantas apa arti lima tahun mendekam tanpa kejelasan selama ini? Aku betul-betul mengumpat. Betul-betul mengumpat dalam arti sebenarnya. Tapi apalah arti umpatan dari seekor coro seperti aku, yang bisa diperlakukan semaunya oleh tangan-tangan penguasa. Dan mereka, mereka yang mengaku tahu dan pernah belajar ilmu hukum itu, beralasan menahanku hanya karena aku anak seorang aktivis organisasi terlarang “Golongan B”. Mereka mengatakan bapakku seorang aktivis yang cukup berpengaruh. Itulah alasan mereka menahanku. Mereka seperti tidak pernah mempelajari sejarah. Atau kalau memang mempelajari sejarah, tentulah sejarah yang kacau. Yang faktanya sudah dijungkirbalikkan sedemikian rupa. Kalau sudah demikian, apa arti lima tahun dengan memaksakan diriku bernama Gawar? Bukankah praktis selama ini namaku menjadi Gawar? Ai, dengan mudah mereka mengedepankan sebuah argumen: salah tangkap! Sebuah alasan yang sungguh sulit dinamai tanggung jawab.
Maka ketika aku bebas dan dikembalikan ke kota Malang, aku tak tahu musti berbuat apa. Pengertian bebas itu sendiri pun bukan dalam arti sebenarnya. Aku dikenai wajib lapor 1 kali seminggu ke kodim setempat. Aku kembali ke rumahku. Kosong melompong seperti rumah keong. Tak ada apa-apa. Sepertinya sejarah hidupku hendak dihapus hingga sekecil-kecilnya. Aku riskan untuk membangun kontak dengan tetangga, apalagi dengan orang-orang di luaran. Bagaimana perasaan itu tidak terbit pada diriku setelah penindasan selama lima tahun di penjara. Semua itu membuatku takut bertemu dengan orang lain. Ada pikiran guna mengumpulkan kekuatan untuk menuntut mereka semua yang telah memperlakukanku dengan semena-mena. Tapi itu perlu waktu, perlu tenaga, dan perlu biaya. Dan kini, dengan tubuh ringkih ini, dengan diri penuh bekas siksaan, sundutan rokok, dan luka dalam, aku musti mengembalikan kesadaranku pada tingkat normal. Adalah memang beruntung aku tidak gila setelah keluar dari penjara. Karena kudengar, orang-orang yang diculik dan dipenjara tanpa pengadilan sepertiku ini, tak sedikit yang menjadi gila, atau yang lebih parah adalah: mati bunuh diri.
Dan masih ingatkah kau pada Maryani? Ya, Maryani gadisku itu, kudengar ia telah menikah dan memiliki seorang anak. Aku bisa memaklumi. Mana ada seorang gadis yang kuat ditinggal selama lima tahun tanpa kejelasan perkara. Maka jika ia memutuskan menikah, itu memang baik untuknya. Adalah mutlak baginya untuk mendapatkan kebahagiaan yang ia impikan. Seperti impian kebanyakan gadis di atas bumi ini.
Maka mulailah aku kembali belajar mengenal siapa diriku. Sebab itu pula, terawilah surat ini padamu, War, sahabatku. Aku cukupkan surat ini hingga di sini. Sungguh sangat aku menunggu kabar darimu, itu pun jika memungkinkan.
Berjuang dan berjuanglah tanpa mengenal kata menyerah, War! Teriring do’a serta keselamatan untukmu.
Jabat erat.
Sahabatmu,
Ndaru Chandra.
BEGITULAH SURATNYA. Surat yang ditujukan padaku, setahun lalu, namun baru sekarang ini dapat kubaca, karena dia sendiri, juga kawan-kawannya, tiada mengetahui keberadaanku di mana.
“Mas Gawar, maaf, Mas sudah selesai membaca surat itu?” tanya Yatno, kawan Ndaru temanku.
“Hah? Oh iya, sudah.” Aku tergagap karena menyadari diri melamun.
“Maaf, Mas. Tapi ini musti kusampaikan,” hati-hati Yatno bicara. “Mas Ndaru sudah meninggal, Mas.”
“Meninggal?!!” Aku kembali tergagap. Terbata-bata.
“Ya, Mas. Sudah setahun yang lalu, selepas dari penjara. Sejak itu aku dan kawan-kawan yang lain selalu mencari keterangan tentang Mas. Dan baru sekarang inilah dapat bertemu.”
Aku lemas dibuatnya. Mataku mulai berkaca-kaca.
“Tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan Mas. Jadi entah musti kami kirim ke mana surat itu. Hingga sekaranglah ketika aku ada kesempatan ke Belanda, kucari keterangan tentang Mas.”
“Ya Tuhan! Bagaimana ceritanya, No?”
“Kemungkinan terbesar paru-paru basah, Mas. Ia tidak tampak sakit sebelumnya. Bahkan tidak pernah terdengar mengeluh apa-apa.
Pagi-pagi di bulan Desember tahun lalu, kami mendapati Mas Ndaru tergolek di atas meja. Dan ketika kami sadari, surat di tangan Mas itulah yang ada di meja tersebut.”
Aku terpekik!
Aku menundukkan kepala menghormati mendiang sahabatku. Betapa berat hidupnya. Ditelannya sendiri segala bebannya. Dan aku, aku yang merasa hidup dalam persembunyian, yang merasa sok berjuang dalam hidupku, tak lebihlah dari seorang pengecut yang tak berani menghadapi hidup itu sendiri.
Kuraba lempengan kalung dog tag berpatri nama Ndaru di dadaku. Kurasakan pipiku dilelehi air mata.
“Kapan kamu pulang ke Indonesia, No?”
“Lusa, Mas!”
Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
* * *
Rumah Malka Bandung, 08 November 2001
Kamis, 19.39 WIB

