Kampus dan Tradisi Sastra di Bandung
Oleh Beni R. Budiman
Pertumbuhan sastra Indonesia, terutama setelah era 50-an, hampir tak bisa dilepaskan dari dunia kampus. Sungguhpun kampus tak memberi andil secara langsung dalam perkembangan sastra tersebut, tapi paling tidak ada beberapa hal yang membuat mengapa kesusastraan dan sastrawan lebih banyak hidup dalam kampus, antara lain: pertama, kampus yang sering disebut sebagai center of exelence telah memungkinkan munculnya penghargaan atas intelektualisme. Lebih jauh lagi dengan itu, kampus memungkinkan munculnya tradisi kritis yang erat hubungannya dengan tradisi literat. Atau meminjam istilah A Teeuw sebagai keberaksaraan.
Kedua, masih berhubungan dengan pernyataan di atas, kampus sering diposisikan sebagai tempat tumbuhnya berbagai ilmu pengetahuan. Karena kondisi tersebut, tak heran pula jika kesusastraan sebagai bagian dari kerja intelektual, secara otomatis diposisikan sebagai salah satu keilmuan. Dan itu dibuktikan dengan hadirnya fakultas-fakultas sastra. Ketiga, masyarakat kampus sering dipandang pula sebagai kelompok yang selalu memberi inspirasi perubahan, agent of change. Gagasan akan perubahan menjadi hal yang mendapat perhatian penting. Pada wilayah ini sastra sering dianggap banyak memberi inspirasi akan perubahan-perubahan. Karena itu pula sastra kemungkinan besar bisa lebih hidup di dunia kampus.
Dan keempat, kampus sering dijadikan tempat bagi persemaian gagasan atau ideologi gerakan. Banyak aktivisme yang menyuarakan ideologi tertentu tumbuh dan dimulai dari kampus. Atas dasar itu semua, sastra sering dipandang sebagai alat yang ampuh untuk penyebaran ideologi tertentu. Di Indonesia kenyataan tersebut telah menjadi persoalan klasik, seperti bisa dilihat dalam perseteruan Lekra dan Manikebu.
Tulisan ini hanya akan memberi gambaran serba singkat sejauh mana dan bagaimana perkembangan sastra tumbuh dalam kampus, terutama di Bandung. Penulis tak bermaksud membuat pendikotomian antara sastra kampus dan di luar kampus. Tulisan inipun tidak dimaksudkan bahwa para sastrawan kampus saja yang memberi arti bagi perkembangan sastra di Indonesia. Penulis tak hendak menapikan peran para sastrawan yang berada dan hidup di luar kampus. Selain itu, tulisan inipun tak hendak memberi justifikasi bahwa para sastrawan yang berada di luar kampus jauh dari intelektualisme, tradisi kritus, atau anti literat.
Memang tidak semua sastrawan Indonesia lahir di kampus, atau menempatkan kampus sebagai tempat persemaian kesusastraannya. Taruh, misanya Chairil Anwar, Pramudya Ananta Toer, Ajip Rosidi, dan lain-lain. Tapi sejarah juga mencatat ada cukup banyak pula sastrawan pendahulu kita, atau sastrawan perintis, lahir dalam tradisi kampus, terutama pada masa setelah Chairil Anwar dan Idrus atau para sastrawan yang masuk dalam generasi 60-an. Hampir semua sastrawan dari generasi ini lahir dari kampus.
Kita bisa mencatat nama-nama, seperti Rendra, Umar Kayam, Supardi Djoko Darmono, Subagio Sastrowardoyo, Toety Heraty, Goenawan Muhamad, dan banyak lagi. Lebih muda lagi dari generasi tersebut Taufik Ismail, Kuntowijoyo, Sutardji Calzoum Bachri, Linus Suryadi, Darmanto Jatman, Bakdi Sumanto, Slamet Sukirnanto, dan lain-lain. UI dan UGM menjadi tempat bagi tumbuhnya sastrawan generasi ini. Hanya beberapa sastrawan saja lahir di luar kedua kampus ini.
Begitu pula dengan kesusastraan Indonesia yang hidup di Bandung/Jawa Barat. Memang tidak semua sastrawan Bandung, terutama sastrawan perintis atau pendahulu, terlahir di kampus. Nama-nama seperti Ajip Rosidi, Utuy Tatang Sontani, Achdiat Kartamihardja, Trisnoyuwono, dan Toto Sudarto Bachtiar tidak tumbuh dalam tradisi kampus. Tapi rekan-rekan lainnya seperti Yus Rusyana, Jacob Sumardjo, Saini KM, Wing Kardjo, Suyatna Anirun, Sanento Yuliman, dan lain-lain tumbuh dan besar dalam kampus. Nama-nama tersebut bisa dibilang sebagai Founding Father dalam sastra Indonesia di Jawa Barat. Merekalah yang menyimpan tradisi sastra di hampir seluruh kampus di Bandung, seperti Unpad, IKIP, ITB, dan STISI/ASTI. Dari nama-nama inilah kemudian lahir para sastrawan yang lebih muda.
Pada mulanya hanya dua kampus saja yang kuat dalam penyebaran sastra di Jawa Barat, yaitu Unpad dan IKIP Bandung. Pada era awal 70-an ITB mulai terlibat tatkala lahar penyair Sanento Yuliman, Suyatna Anirun, dan Jeihan. Namun kemudian ITB mampu melahirkan generasi sastra yang kuat. Tercatat, misalnya Mamannoor, Juniarso Ridwan, Krisna Murti, Agus Sachari, Rul Sandre (empat nama ini merupakan tokoh dari Puisi Bebas), Acep Zamzam Noor, Nirwan Dewanto, Fazrul Rachman, Sujiwo Tedjo, Sigit Haryoto, Gaus Surachman, Hermawan Aksan hingga Anton Kurnia. Anton merupakan generasi 90-an atau generasi terakhir yang datang dari kampus ITB yang sekarang tak lagi nampak regenerasinya. ITB dan GAS (Gabungan Apresiasi Sastra)-nya yang dulu sangat populer kini tak lagi terdengar gaungnya.
Unpad dan IKIP merupakan kampus yang regereasi sastranya hampir tak pernah putus. Kedua kampus ini diuntungkan oleh adanya Fakultas Sastra atau Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Karenanya sastra menjadi bagian dari proses belajar yang formal dan selalu dikaji secara ilmiah. Ini tentu saja sangat menguntungkan bagi penerusan dan perkembangan tradisi sastra, sungguhpun menjadi tidak segala-galanya. Memang banyak sastrawan besar lahir dari proses belajar yang formal dari jurusan sastra. Tapi tidak sedikit pula sastrawan sebesar lahit bukan dari tradisi sastra yang formal dan ilmiah tersebut. Perlu digarisbawahi bahwa keilmuan formal dalam sastra tak memberi jaminan bagi kesastrawanan dan kreativitas sastra.
Dari IKIP Bandung kita bisa mencatat nama-nama seperti Yus Rusyana, Saini KM, Jacob Sumardjo, Karna Yudibrata. Nama-nama ini merupakan sastrawan yang memberi tonggak bagi tradisi sastra di kampus IKIP Bandung. Setelah nama diatas banyak lahir nama-nama lain seperti Usep Romli, Godi Suwarna, Eddy D. Iskandar, Taufik Faturahman, Tetet Cahyati, Ajang Budiman, Sigit Sulistyo, cecep Burdanyah, Hadi AKS., Agus S. Sarjono, Cecep Syamsul Hari, Ahid Hidayat, Rahmad Budi Santosa, Erwan Juhara, Eryandi Budiman, Nenden Lilis A., Deden A. Aziz, Tateng Gunadi, Wan Anwar, Doddy Ahmad Fauwdzy, Rina Daryani, Herwan FR, dan banyak lagi. Dan yang menarik nama-nama ini masih terus berlanjut hingga generasi paling kini yang aktif di ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra), seperti Nyi Ida Nurlaela, Iis Wiati, Moch. Syarif Hidayat, Lukman Asya, Arif Senjaya, Ujianto Sadewa, dan lain-lain.
Sementara itu, kita bisa mencatat nama-nama yang memberi inspirasi bagi perkembangan sastra di kampus Unpad. Nama-nama seperti Sutardji Calzoum Bachri, Wing Kardjo, Wilson Nadeak, Ade Kosmaya, Aam Amilia, Etty RS., sekalipun tak langsung merupakan sastrawan yang banyak memberi inspirasi bagi pertumbuhan sastra di kampus Unpad. Dari kampus ini pula lahir nama-nama, seperti Yessi Anwar, Diro Aritonang, Miranda Risang Ayu, Lea Pamungkas, Hikmat Gumelar, Acep Iwan Saidi, Deni A. Fajar, Dian Hendrayana, Tedy A. Muhtadin, Kartawi, Haryawan, Mudita K. Lani, Eryanti Nurmala Dewi, Moch. Syafari Firdaus, Mona Silviana, Taty Haryati, dan banyak lagi. Untuk lebih jelasnya kita bisa mencatat dari antalogi Ombak Pajajaran (1993). Kampus ini pun tak berhenti dalam regenerasi sastranya yang dilakukan melalui GSSTF, Rawayan, dan kelompok diskusi lainnya. Generasi terkini antara lain Nizar Machyuzar, dan Pandu Abdurahman Hamzah.
Selain itu STSI/ASTI merupakan kampus berikutnya yang cukup banyak memberi kontribusi bagi perkembangan sastra. Keberadaan Saini KM, Jakob Sumardjo, dan Suyatna Anirun sebagai pengajar sekaligus pendiri di kampus ini telah memberi motivasi yang sangat besar bagi pertumbuhan sastra. Karenanya dari kampus ini beberapa nama sastrawan potensial, terutama penyair, lahir, antara lain: Beni Yohanes, Joko Kurnaen, Rachman Sabur, Diro Aritonang, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Ipit S. Dimyati, Uki F. Marzuki, Aendra H. Medita, dan lain-lain. Berdasarkan informasi terkini, dari kampus inipun tercatat nama-nama baru, seperti Diva Galuh Purba, Doni Muhamad Nur, dan lain-lain yang diharapkan bisa memberi kontribusi yang baik bagi perkembangan sastra di kampusnya.
Awalnya perkembangan sastra di Bandung/Jawa Barat hanya tumbuh di kampus-kampus yang memiliki jurusan sastra dan bahasa lebih jauh lagi jurusan seni, seperti Unpad dan IKIP, selanjutnya ITB dan STSI/ASTI. Namun yang menarik sekarang ini, pertumbuhannya semakin menyebar hingga ke kampus-kampus yang tidak memiliki jurusan seni/sastra dan yang tidak memiliki tradisi sastra secara ajeg.
Biasanya kampus-kampus ini tumbuh dari imbas pertumbuhan sastra di luar dari kampusnya. Hal ini, misalnya terjadi pada kampus IAIN, Unisba, STIKOM, Uninus, dan STISI. Kampus-kampus ini mendapat pengaruh atau motivasi dari para sastrawan yang kebetulan memberikan ceramah-ceramah atau pertemuan informal dalam dunia kepenulisan.
Hal ini bisa dicatat dari kampus IAIN, Unisba, dan STIKOM. Ketiga kampus ini tumbuh gairah sastranya setelah setelah banyak sastrawan di luar kampusnya hadir berdiskusi tentang proses kreatif atau dari pementasan sastra yang bersifat apresiasi. Apresiasi yang terus dilangsungkan secara intens inilah yang memungkinkan tumbuhnya gairah akan kesusastraan di kampus-kampus ini.
Dari pertemuan kesusastraan inilah kemudian pada akhir tahun 80-an di IAIN Sunan Gunungjati muncul nama Matdon. Ia merupakan penggerak sastra pertama di kampus tersebut, dan memberi pula gairah bersastra kepada generasi selanjutnya. Selain itu, media kampus pun ikut memberi andil bagi lahirnya para penulis tersebut. Berikutnya muncul nama-nama seperti Nandang Darana, Bambang Q. Annes, Dedi Ahimsa, dan lain-lain. Kampus ini banyak mengundang para sastrawan, seperti Saini KM, Kuntowijoyo, Jakob Sumardjo, Acep Zamzam Noor, Juniarso Ridawan, filsuf Bambang Sugiharto, Soni Farid Maulana, Nenden Lilis A., Ahmad Syubbanuddin Alwy, dan lain-lain.
Hal yang sama terjadi pada kampus Unisba. Sebelum lahir nama-nama seperti Yus R. Ismail, Katherina, kampus ini tak melahirkan pengarang. Setelah kedua penyair ini baru kemudian muncul nama lain seperti Daniel Mahendra, terutama mereka yang menulis di media kampusnya. Kampus ini cukup aktif pula mengundang para sastrawan dari luar, seperti Rendra, Abdul Hadi, Putu Wijaya, dan para sastrawan dari Bandung.
Begitu juga yang terjadi dengan kampus STIKOM Bandung. Kampus ini sebenarnya hanya memfokuskan pada dunia komunikasi, dengan jurusan Jurnalistik dan Public Relations. Kehadiran para pengajar yang cenderung merupakan pengarang telah mengubah kampus ini menjadi begitu dekat dengan sastra. Sungguhpun kampus ini terbilang muda, bahkan bisa disebut kampus kecil, dibanding kampus-kampus seperti Unpas, Unisba, Uninus, IAIN, dan yang lainnya, tapi kampus ini dianggap yang kini paling aktif dan banyak menghasilkan pengarang dan penulis kebudayaan yang cukup potensial. Bisa dicatat antara lain: MD. Yasir, Iman Abda, Budi Rachmat, Agus Hadiyana, Jhon Hendra, Farra Ebtiwiningsih, Evi Larasati, Wagiyo, Dwi Setiadi, Dadang Suherman, dan banyak lagi. Tercatat ada 71 penulis dari kampus ini yang kini kebanyakan menjadi wartawan.
Namun kembali pada persoalan pentradisian sastra di kampus, ternyata tak semua nama-nama tersebut hadir dalam pentas sastra yang lebih luas. Banyak diantara mereka akhirnya cukup hidup dalam ruang kampusnya yang kecil dan sempit. Dari sekian nama tersebut hanya beberapa nama saja yang bisa muncul ke permukaan sastra yang lebih luas. Bahkan banyak di antara mereka yang hilang dan meninggalkan dunia sastra. Tentu saja banyak alasan yang membuat kenapa mereka meninggalkan sastra, dan pada tulisan ini saya tak perlu menjelaskannya.
Akhirnya, lewat tulisan ini, kita berharap kehadiran para pengarang tersebut, bisa lebih membuka diri dan mensosialisasian karya secara lebih luas lagi. lebih jauh lagi akan tumbuh para sastrawan baru dari kampus-kampus lain yang belum terdengar sedikitpun gaungnya. Dari nama-nama di atas, kita bisa tahu bahwa kampus ternyata bisa banyak memberi kemungkinan bagi perkembangan sastra. Tentu saja kita tak hanya butuh banyak sastrawan dari kampus. Tapi kita butuh dari kampus muncul sastrawan-sastrawan yang lebih berkualitas.
*Beni R. Budiman, penyair, alumnus sastra Perancis IKIP Bandung.


iya gak sih
aku pikir itu salah satu tulisan penting dari penyair yang telah meninggal. mesti ditulis kelanjutannya. tentu oleh esais yang masih hidup. siapa?
apa kabar bung daniel?
hari yang indah.
adakah penerbit yang mau menerbitkan novel atau kumpulan puisi secara gratis?
kalau bung tahu beri saya info.
kalau ada naskah saya siap diterbitkan
untuk para pembaca duafa sedunia.
Sebuah tulisan yang harus saya simpan sebagai dokumentasi pribadi maupun zaman. Terima kasih kang Beni dan Mas Daniel.
(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)
Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
(Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain
FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).
JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.
Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.
Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?
Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).
YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).
Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.
SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).
Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.
Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).
Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.
SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).
Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.
Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).
Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.
SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).
BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)
Qinimain Zains last blog post..Strategi (R)Evolusi Sistem Ilmu Pengetahuan (+)