Cerpen Daniel Mahendra

APA MUNGKIN aku ini setan? Atau setan yang berbentuk manusia? Atau pula manusia yang dimasuki makhluk bernama setan? Mana tahulah! Tapi aku merasa masih punya akal. Punya pikiran. Mungkin hanya nurani yang sudah tak bersemayam dalam diriku. Bagaimana tidak, dia sudah lagi bersuami. Bahkan anak, lima tahun umurnya. Duh!

Apa sebetulnya yang kucari dari dia? Adalah pikiran gila kalau mengkhayal ia kan menceraikan suaminya lantas kawin denganku. Mau ditaruh di mana muka ini? Memang tidak ada soal cinta di sini. Ini bukan lapangan cinta, yang selalu saja meresahkan setiap manusia. Yang banyak membuat manusia yang sok mengagung-agungkan maknanya, terperosok juga karenanya. Prek tentang segala pemaknaan cinta! Ini cuma gara-gara dia bersebelahan denganku di kereta Mutiara Timur sejak Surabaya-Banyuwangi dan menyeberang ke Bali.

Ia memperkenalkan diri sebagai koordinator pemasaran sebuah industri pakaian terkenal di Bandung. Tinggal di Surabaya. Memegang lalu-lintas penjualan di Jawa Timur dan Bali. Sebulan sekali musti rapat ke Bandung. Cantik memang. Bertubuh sedang. Ramping, bukan kurus. Berkarakter, namun selalu nampak murung. Dan aku? Aku memperkenalkan diri sebagai apa? Pengarang? Ai, sudah pantaskah predikat itu dilekatkan padaku? Kepergianku ke Bali tak lebih diundang sebagai pembicara pada diklat jurnalistik di Denpasar. Namun sejak itulah kami berkenalan. Sebuah pembukaan yang klise.

Ia mengaku: merasa tak pernah mencintai suaminya (sebuah penuturan yang terlalu tergesa-gesa), karena dijodohkan orangtuanya. Tepatnya ibunya. “Kenapa menerima begitu saja?” tanyaku. Ibunya sudah tak sabar ingin melihat anak bungsunya segera kawin. Sebelum dinikahkan, ia memang sedang pacaran dengan seorang pemuda. “Seorang pengarang!” akunya. Ha! Tapi tiga tahun masa pacaran, tak kunjung tiba aroma lamaran. “Ibuku bosan. Toh apa yang bisa diharapkan dari seorang pengarang, kata ibuku!” Ai! Aku tersenyum kecut dalam hati.

Ia bercerita dan terus bercerita. Kereta menembus pedesaan, pesawahan, perkebunan, terowongan, dan menyeberang secuil selat. Maka kepalanya mulai rebah di bahuku saat bis mulai membelah malam menuju Denpasar. Sebegitu cepat? batinku. Dan seperti sudah kukatakan tadi: aku ini manusia atau apa, karena menurut saja ketika pada akhirnya ia ingin sekamar denganku di hotel pesanannya. Duh! Memang tidak ada cinta di sana. Tidak ada seks. Namun jelas kami tidur berdua.

HARI PERTAMA kami disibukkan acara masing-masing. Ia mengecek penjualan di beberapa pusat pertokoan, sementara aku menjadi pembicara di Unud. Baru malam hari kami bertemu kembali di hotel. Kami keluar, makan malam, dan minum di sebuah kafe.

“Kamu suka minum juga?” tanyaku ketika menyadari ia sudah memesan botol kedua. Ia hanya tersenyum. “Pasti ini tak kau lakukan di Surabaya!”

“Minta digantung apa?”

Maka mulailah ia bercerita soal ibunya. Ibunya? Ya, ibunya!

Ibuku memang keras. Punya sikap, punya pendirian, dan musti diindahkan oleh setiap anaknya. Aku anak terakhir dari enam bersaudara. Ketika kakak lelakiku menikah (jelas hasil perjodohan), ia tinggal di rumah bersama kami. Jangan kau tanya seperti apa perasaan menantu pertamanya itu. Ia musti menuruti semua peraturan ibuku. Dari hal-hal kecil seperti berpakaian, bersolek, bertutur kata, hingga masalah melayani suami pun ibuku turut menentukan. Akhirnya mereka berusaha keras memiliki rumah sendiri hanya agar bisa sedikit jauh dari ibu. Tapi itu bukan berarti ibuku diam saja. Kini pun, ketika mereka sudah memiliki rumah sendiri, hidup sederhana, bahagia dengan tiga anaknya, ibuku tetap memaksa dan memaksa mereka untuk menambah satu anak lagi. Alasannya, biar ada yang menemani si bungsu. Begitulah ibuku.

Kakakku yang kedua perempuan. Sama halnya denganku: dijodohkan! Saat itu memang bisa apa. Yang terjadi, ia tak pernah diperkenalkan dengan kata (apalagi rasa) cinta. Ia baru tau seperti apa tampang calon suaminya pun saat beberapa menit akan dilangsungkan akad nikah. Menyeramkan! Lantas anak ketiga, lelaki. Ibuku melarangnya buru-buru menikah, sebelum betul-betul diterima sebagai pegawai negeri. Ya, mungkin kau kaget: masih ada orang yang berpikir seperti itu di jaman sekarang ini. Pegawai negeri! Hanya karena dulu dianggap sebuah golongan terpandang. Ndoro. Para priyayi. Padahal tak lebih dari pemakan gaji gubermen. Celakanya budaya itu dibawa hingga sekarang. Rasanya kalau lelaki sudah kerja sebagai pegawai negeri: di mata ibuku orang itu nyaris tanpa cacat. Ya, sempurna! Ibuku memang suka pada hal-hal yang bersifat pengabdian. Maka begitupun kakak keempatku, kelimaku, dan seperti itulah jadinya aku: semua hasil perjodohan.

Oya, mantan pacarku dulu tinggal di Jakarta. Kata koran dia pengarang. Dan memang karangannya ada di koran-koran. Ibuku tak pernah mau membaca. Karena baginya, seseorang yang mencari nafkah dari mengarang: penghasilannya tak pernah jelas! Kecuali setelah menikah ia mau tinggal di Surabaya. Tidak memboyongku ke Jakarta. Jelas pacarku mulai membaca: tidak ada anak apalagi menantunya yang sedia tinggal serumah dengannya. Padahal satu kota. Hanya karena: ibuku terlalu correct, terlalu membuat aturan, terlalu musti diindahkan, dan terlalu dalam mencampuri kehidupan rumah tangga anak-anak serta menantunya.

Tentang ayahku? Ha, dia lelaki hebat di matanya sendiri. Pensiunan pejabat negeri. Satu istri, enam anak, dan: tidak pernah bicara dengan keluarga. Ia hanya tahu kerja, kerja, dan kerja. Pagi pergi kerja, pulang sore masuk kamar kerja. Tidur di kamar kerja. Dan besok pagi, begitu seterusnya. Ia hanya menaruh gaji bulanan di atas lemari pakaian kamar ibu. Cukup tidak cukup, itu uang yang ia berikan. Ia tidak ingin tahu anak-anaknya kelas berapa. Sampai di mana nilai-nilainya. Yang ingin ia tahu: anak-anaknya harus sekolah agama. Apapun yang terjadi: harus sekolah agama. Bahkan sampai kuliah pun: harus bidang agama. Jika tidak: lebih baik tak usah sekolah! Hmmm… Ia memang pandai mengaji. Sholat siang malam, dan: tak pernah bicara dengan keluarga. Maka bisa kau bayangkan, aku dan suamiku tinggal bersama mereka berdua. Serumah!

“Jadi, kamu tidak pernah merasa mencintai suamimu?”

“Aku tidak berkata seperti itu. Tapi kalau mau jujur, seperti itulah yang terjadi.”

Aku termenung-menung memikirkan kalimatnya. Membayangkan sebuah pernikahan tanpa didasari rasa cinta. Weh! Padahal selama ini, kalau aku punya cinta tidak pernah berakhir dengan pernikahan. Beberapa kali pacar-pacarku meninggalkan aku dan memilih menikah dengan orang lain. Maka aku memilih tutup buku dengan segala hal yang beraroma cinta yang mendayu-dayu seperti itu. Jadi mana yang benar: memulai cinta dan berakhir dengan pernikahan? Atau sebuah pernikahan, baru mencoba menumbuhkan rasa cinta itu sendiri? Huh! Prek dengan semua itu! Tapi perempuan di depanku memang cantik tak membosankan. Tutur katanya mudah memikat lawan bicara. Nampaknya ia seorang yang cerdas. Punya wawasan setebal perpustakaan, serta pintar memasuki karakter orang lain. Maka malam pun makin turun tak terbendung. Botol demi botol juga berbatang filter makin menggelitiki kami. Deburan ombak sesekali sayup-sampai dari kejauhan.

MAKA GARUDA Wisnu Kencana membuyarkan mataku. Monumen dewa pemelihara bumi ini dibangun di atas tanah seluas seratus hektar. Seluruh bangunannya mampu menampung dua puluh ribu pengunjung. Dengan ketinggian 260 meter, bangunan ini dilengkapi menara, sehingga pengunjung dapat naik-turun menggunakan lift. Nyoman Nuarta memang sungguh dahsyat. Di Bandung aku sering menikmati galerinya, dan menyeruput cappuccino di kafenya. Namun bukan Bukit Ungasan ini yang menggoda pikiranku. Aku belum lagi bisa melupakan kejadian semalam.

Memang pada awalnya kami hanya tidur berdua. Tidur dalam arti sesungguhnya. Tapi semalam, duh, sebaiknya tak kuceritakan di sini. Apapun alasannya, aku telah “tidur” dengan istri orang. Dan tidur dengan istri orang, apapun alasannya, tetap saja dikatakan: kurang ajar! Barangkali betul tak ada cinta. Tapi sudah ada seks di sana. Jadi sebetulnya bagaimana? Sudah tanpa cinta, tanpa pernikahan lagi! Prek! Samber gledek!

“Kamu masih membayangkan semalam, ya?” godanya manja.

“Aku membayangkan berapa lama kita di Bali.”

“Haha… kamu menyembunyikan sesuatu. Bagaimana kalau digenapkan seminggu?” Ai!

“Lantas menyusullah suamimu!”

“Lha kenapa? Jangan khawatir, aku tidak mempermasalahkan tentang semalam. Juga tentang nanti malam. Besok malam, atau lusa malam!” Duh! Dan lengannya mulai menggelayut manja di bahuku.

“Wit, sorry,” hati-hati aku bertanya, “Kalau kamu tidak bertemu denganku, apa tetap akan seperti ini acaramu di Bali?”

Tiba-tiba ia melepas rangkulan tangannya dengan sontak. Matanya menghujam tajam, “Kamu pikir aku perempuan apa?!” Suaranya meledak menggelegar. “Aku suka sama kamu! Maka aku ingin berakrab denganmu. Kalau aku tidur denganmu, itu tidak berarti aku bisa tidur dengan setiap lelaki!!” Ia berlalu meninggalkanku.

“Wit.” Ia mempercepat jalannya.

Tiba-tiba ia berhenti, “Laki-laki, selalu seperti itu budayanya. Rendah!!”

“Wit, dengar dulu…”

“Kamu tidak pernah mempelajari kesetaraan, heh? Apa kamu pikir hanya kalian yang bisa melecehkan perempuan?”

“Wit, ini bukan permasalahan… aduh, dengar dulu… Aku hanya ingin mengatakan, di antara kita tidak ada cinta, tapi semua bisa terjadi seperti sampai hari ini.”

Ia tetap terus berjalan. Namun nampak merenungkan kata-kataku. Beberapa menit kami berdiam diri.

“Kamu pikir cinta membuat manusia bahagia?” ia mulai nampak tenang. “Semua anak-anak ibuku menikah tidak dengan rasa cinta. Aku menikah dan mempunyai anak, juga tidak diawali dengan rasa cinta. Tapi semua tetap terjadi. Hidup terus berjalan. Dan cinta bagi keluarga kami hanya ada di angan-angan. Mungkin hanya ada di cerita-cerita pengarang picisan, macam mantan pacarku, macam kamu. Tapi hidup toh tetap berjalan. Yang membedakan adalah kenyataan serta khayalan.”

Aku terbelalak dibuatnya.

“Kamu hanya harus memilih salah satu dari dua hal itu. Kenyataan atau khayalan. Tapi kamu tidak bisa memilih keduanya. Kalau kamu memilih kenyataan, lupakan khayalan. Juga jika kamu memilih khayalan, jangan harap kamu hidup di dunia nyata. Seperti kamu menonton film Hollywood di bioskop. Kamu terlena dan terpesona. Tapi setelah selesai, kamu kembali ke dunia nyata.”

Ha, ngomong apa perempuan yang sedang bersamaku ini?

“Yang terjadi antara kamu dan aku, adalah kenyataan. Aku tau ini salah. Ini dosa! Tapi itu bukan khayalan. Kamu tidak bisa membayangkan seorang perempuan menikah denganmu kalau kamu tidak pernah membawanya ke dunia nyata. Seperti halnya aku. Seperti halnya keluargaku. Aku tidak tau apakah kedua orangtuaku saling cinta. Apakah kakak-kakakku saling cinta. Tapi satu hal, kami sudah tidak hidup di dunia khayal di mana membayangkan hidup bahagia, sejahtera, dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita. Tidak! Kami, aku, hidup di dunia nyata.” ia mulai menitikkan air mata.

Aku menariknya ke dalam pelukanku. Membenamkan kepalanya dalam dadaku. Mengecup keningnya. Dan kutuntun ia demi menghargai perasaan yang sedang melanda.

Duh manusia. Betapa rupa-rupa pemaknaan mereka terhadap hidup dan cinta.

MONCONG KERETA mulai memasuki stasiun Gubeng. Nyaris seminggu kami di Bali. Kini saatnya pulang. Ia ke Surabaya, sementara aku meneruskan perjalanan ke Bandung. Dan aku masih belum lagi bisa membedakan mana khayalan, mana kenyataan. Adakah seminggu kemarin khayalan? Sementara kini, perpisahan ini, merupakan kenyataan? Duh!

“Sebulan sekali aku musti rapat ke Bandung. Mau kamu menemuiku?” pintanya.

“Hmmm… kamu yakin kita bakal ketemu lagi?”

“Tergantung kamu, apa masih mau menemuiku. Tapi firasatku, kita bakal sering bertemu!” tukasnya manja.

Dan penumpang berdesakkan turun sehebat orang-orang di bawah yang berebutan naik ke kereta.

Aku berjalan di belakangnya. Seperti permintaannya, begitu turun dari kereta, aku musti seolah-olah tak mengenalnya. Aku harus pura-pura tidak kenal dengan orang yang seminggu penuh tidur denganku? Ya ampun!

Tapi betul saja. Tampak dari kejauhan seorang lelaki menggandeng anaknya. Si anak berlari-lari menghambur dalam pelukan ibunya. “Mama… Mama…!” teriak anak itu. Aku melintas di sebelahnya ketika si lelaki mengambil alih tas kopor di tangannya sambil berkata, “Perjalananmu menyenangkan?”

“Seperti biasanya Mas!” jawabnya pendek.

Ketiganya berjalan beriringan sembari bergandengan tangan. Di depan mataku…

* * *

Denpasar, 26 November 2001

Senin, 07.00 WITA