Hujan Menghapus Jejak Cerita
kembali tercium aroma tubuhmu yang gemulai
persimpangan jalan ini semakin berujung
ketika kau memilih mulusnya jalan raya
ketimbang bergandengan tangan
di jalan setapak, yang kerap ditimpa hujan
tersempat kita semeja menikmati hidangan malam
bercerita kau tentang jalan raya yang hendak dibangun
aku memilih jalan setapak penuh becek dan belukar
sementara kau mengeluhkan takut terinjak duri
kau berbisik masih lagi menginginkanku
aku pun masih sangat mencintaimu
tapi aku tak punya kendaraan untuk melunasi jalan rayamu
tempatku di bukit ini, di tengah ladang luas
di sebuah gubuk, yang menimbulkan bau romantis
ketika hujan datang bertamu
kalau memilih berjalan kaki di jalan rayamu
bisa tumpah kata-kata yang sudah tersusun di kepala
mengapa tidak kita lantunkan tembang rindu di malam hari
sembari bersenandung tentang anak-anak kita yang tak pernah ada
perpisahan ini memang menyakitkan
tapi seperti yang sudah-sudah:
hujan menghapuskan jejak-jejak cerita
yang menempel di kertas-kertas penuh sajak
Jember, 28 Nopember 2001

