aku menikahimu bukan karena sejuk paras anggunmu

juga bukan molek gemulai tubuh yang kau tawarkan

terlebih lagi harta tertumpuk warisan leluhurmu, apalagi

semua tak tersisa padamu

wangi tubuhmu porak poranda dimakan kesombongan

jaman kolonialisme

sejak itulah kau mengaduh dan minta dirayu

sebagai lelaki yang tau akan kejantanan

aku menemuimu di halte bis kota tanpa jurusan

lihatlah tetangga kita yang sombong dan jumawa

melenguh akan komunisme masa lalu

dan hei, aku si pembuat sejarah;

marilah sayang, menikahlah denganku!

kan kuberi segala harum parfum impor hasil utangan

kan kudirikan istana megah di tanah tandusmu yang becek

kupersembahkan mas kawin dengan seribu wangi dupa

yang asapnya mengepul-ngepul di atasnya

Itulah sebabnya,

aku merangkulmu sebagai istri yang kedua puluh tujuh

dimana utang para cukong kugantungkan padamu

pernahkan terpikirkan kau melahirkan anak-anak mungil

dari hasil perkawinan kita yang diperjodohkan ini?

atau memberikan kepuasan lahir batin

pada suamimu yang poligami ini?

itulah istriku,

aku panggul senjata guna merayumu

untuk tunduk pada semua titahku

aku hujani kau dengan emas apkiran

agar kau tampak gemerlap meski hatimu menangis

puluhan tahun kita, seranjang berdua tanpa anak

kini kau merajuk perceraian dari perjodohan ini

lihatlah, kau membiarkan tubuhmu yang genit

kembali dicoreng moreng tangan-tangan pemuda

pinggir jalan

kau mulai mengkoar-koar pada tetangga yang gemas

menggoyangkan pantatmu yang kemayu

dan mereka memburumu sebegitu bernafsu

lalu apa katamu, mantan istriku;

“Pernahkah kau minta aku secara baik-baik

saat menikahiku dulu, hei fasis?”

aku tertegun akan kebodohan diri

pergi menyendiri, belok dan hilang di tikungan jalan!