Archive for December, 2001

Di Atas Becak di Katamso

di atas becak kita menikmati Katamso

memberi kabar pada alamat surat yang tak pernah pasti

terus berputar tanpa pernah terpikirkan

berapa anak si tukang pengayuh di belakang kita

yang pagi ngantri di stasiun depan Kertanegara

siang makan di warung tujuh ratusan

sore mandi di kali dan malam menawarkan

penginapan murah plus penghangat badan

 

di atas becak kita menikmati Katamso

harga lima ribu pun masih kita tawar seribu perak

bijaksanakah kita?

melihat turis berpesta pora dengan duit satu dolar

sementara kita, dengan nominal yang sama

bisa mati di negeri orang

tapi itulah yang terjadi

si tukang pengayuh tetap saja mencumbui peluh

dari jalan-ialan yang terseokan

meski sebelum dibawa ke istri di Turen

tetap saja duit hari itu lari marathon di meja judi

meski begitu tetap saja begitu

di atas becak kita menikmati Katamso

 

Malang, 1995

Di Hotel Pelangi

 

di hotel Pelangi semeja kita sarapan pagi

menikmati politik ekonomi sosial dan pornografi

ada nasi goreng tanpa bumbu

ada cincang daging tak ber-ktp

ada dadar telur setengah mentah

yang dipaksa matang

ada sup tak berkuah

dan negara yang difasiskan

sementara kau memilih secangkir teh minus gula

semua tersaji wangi di nampan prasmanan

tinggal disantap sebagai kembang hiasan

bertanya aku tentang pengalaman semalam

kau mendengus malu

di hotel Pelangi semeja kita sarapan pagi

lengkapkah menu kali ini hingga siang nanti?

padahal janin dalam perutmu mulai lagi bertanya:

kan disuapi apalagi bayi dalam kandunganmu ini, ma?

 

Malang, 1995

Malam di Terminal Arjosari

 

malam-malam pukul sebelas di sebuah terminal yang malu

menggendong ransel aku berkejaran dengan bis ekonomi yang gengsi

sejak Jember habis mana lagi?

terlunta-lunta dengan lempengan koin di balik telpon

sekarang mau apa gerangan?

maragu. merindu. susah hati gelisah badan

terus saja memperhatikan bis-bis ekonomi yang ogah capek

sementara si patas sudah melenguh ngorok

dengan istrinya yang molek

sungguhkah aku menunggunya?

sibuk aku meragu

di tepi layar seorang tua menjilati daun bekas bumbu pecel

padahal yang muda makin mabuk saja dengan masturbasi

malu aku menyulut batang rokok

karena dompetku begitu tebal hasil ngutang sana-sini

sungguhkah aku menunggumu?

dan kau datang:

“menginap di mana kita malam ini?”

 

Malang, 1995

Di Sebuah Alun-Alun Kota

 

di alun-alun kota Malang termenung-menung aku sendiri

mengakrabi batang demi batang sembari

memperhatikan penjualan hiasan binatang yang dikeraskan,

muda-mudi yang asyik, polisi yang suntuk,

tukang sapu yang murung, dan kota yang kikuk

di alun-alun kota aku memperhatikan

mesjid agung, gereja, hotel dan plaza

yang tak kunjung lenyap dari sergapan ingatan

begitu terus satu demi satu

masih saja lagi terbayang potret-potret tempo hari

yang berkelebatan tak mau menguap tak karuan

wahai si penjara hati,

tau kah kau apa yang kucenungkan saat ini?

lihatlah trotoar-trotoar jalan yang pernah kita lucuti dulu

begitu histeris teriak mereka menyaksikan

asap demi asap yang kukepulkan

lihatlah kubah mesjid itu

begitu murung mengibakan aku

ciumlah kekembangan yang tak harum lagi

karena katupan mataku

dengarlah suara penjual hiasan binatang

yang mulai menyaingin wangi wc umum

seberang kantor pos besar

semua luber jadi satu terbungkus sudah

minta dikapalkan dalam karung-karung

yang siap dibuang ke dasar laut

di alun-alun kota Malang aku termenung-menung sendiri

tiba-tiba kau datang dan duduk di sampingku

tanpa minta diri

bertanya kau tentang kesendirianku

dalam kesepian hati yang begitu sangat,

lidahku meluncur kelu:

tentu saja sedang memikirkanmu!

 

Malang, 1997

Ketika Bulan dan Matahari Berkonspirasi

 

segala apa yang kurasakan adalah merindu

langit bumi sudahlah menyatu

membenam lara tiada membekas

sudah ditanamkan dari asalnya yang paling redam

mucuk kembali karena ingin semestinya

bulan dan matahari sedap sembunyi

menanti kasih tak ternyana

mengasih, merindu, mencinta tiada tara

sejak dini takkan terkira

nembang Jawa menggelayut manja

menemukan kebahagiaan sendiri

sinarnya merasuk menerobos kaca jendela kamar

bulan empat belas tak kuasa mencinta

karena matahari tak enggan menerima

keduanya meraih benang merah yang terciptakan

dari dunianya sendiri

dari keharusannya yang digariskan

mendoa, menduga, tiada tara

selalu saja begitu

melukis lagu-lagu lama

meski terkuak, nikmati saja

toh sudah ditanamkan dari asalnya yang paling redam

nikmati saja, buai saja

mencumbui segala doa, keinginan dan harapan

sujud terpaku pada ketinggian

selami dan terus mabuklah sesukamu

mengasih, merindu, mencinta tiada tara

bulan dan matahari sedap sembunyi

hingga keduanya menemukan kebahagiaannya

 

1998

Capek

 

aku matikan televisi tuaku

karena terlalu banyak kata sabar di dalamnya

aku cabut listrik radio kecilku

karena banyak pengulangan kata sabar anjurannya

aku mengunci kamarku

karena orangtuaku menasehati lagi

tentang arti kesabaran

disuruhnya aku sabar mendengar

buruh dan karyawan diphk

disuruhnya aku sabar merasakan

harga barang sudah tak ketulungan

disuruhnya aku sabar menyaksikan

kerusuhan menyebar kemana-mana

disuruhnya aku sabar melihat

banyak usaha yang amburadul

disuruhnya aku sabar menunggu sabar!

 

1999

Mengerut Waktu

 

kalau kubisa mengerut waktu

mungkin tanah yang kuinjak ini

dibalik saja pada monarki yang kusut

 

kalau kubisa mengerut waktu

barangkali lumpur yang membenam ini

dibalik saja pada pergerakan nasional yang keras

 

kalau kubisa mengerut waktu

bisa jadi becek yang jorok ini

dibalik saja pada proklamasi yang gagah

 

kalau kubisa mengerut waktu

paling pasti debu yang berkarat ini

dibalik saja pada 65 yang merepih

 

kalau kubisa mengerut waktu

jelas yakin mendung yang menggelegar ini

dibalik saja pada pemilu yang korup

 

kalau kubisa mengerut waktu

tak tau pasti, masihkah bisa berusaha

: karena waktu masih lagi berjalan ditopang

Next Page »