di atas becak kita menikmati Katamso

memberi kabar pada alamat surat yang tak pernah pasti

terus berputar tanpa pernah terpikirkan

berapa anak si tukang pengayuh di belakang kita

yang pagi ngantri di stasiun depan Kertanegara

siang makan di warung tujuh ratusan

sore mandi di kali dan malam menawarkan

penginapan murah plus penghangat badan

 

di atas becak kita menikmati Katamso

harga lima ribu pun masih kita tawar seribu perak

bijaksanakah kita?

melihat turis berpesta pora dengan duit satu dolar

sementara kita, dengan nominal yang sama

bisa mati di negeri orang

tapi itulah yang terjadi

si tukang pengayuh tetap saja mencumbui peluh

dari jalan-ialan yang terseokan

meski sebelum dibawa ke istri di Turen

tetap saja duit hari itu lari marathon di meja judi

meski begitu tetap saja begitu

di atas becak kita menikmati Katamso

 

Malang, 1995