di hotel Pelangi semeja kita sarapan pagi

menikmati politik ekonomi sosial dan pornografi

ada nasi goreng tanpa bumbu

ada cincang daging tak ber-ktp

ada dadar telur setengah mentah

yang dipaksa matang

ada sup tak berkuah

dan negara yang difasiskan

sementara kau memilih secangkir teh minus gula

semua tersaji wangi di nampan prasmanan

tinggal disantap sebagai kembang hiasan

bertanya aku tentang pengalaman semalam

kau mendengus malu

di hotel Pelangi semeja kita sarapan pagi

lengkapkah menu kali ini hingga siang nanti?

padahal janin dalam perutmu mulai lagi bertanya:

kan disuapi apalagi bayi dalam kandunganmu ini, ma?

 

Malang, 1995