di alun-alun kota Malang termenung-menung aku sendiri

mengakrabi batang demi batang sembari

memperhatikan penjualan hiasan binatang yang dikeraskan,

muda-mudi yang asyik, polisi yang suntuk,

tukang sapu yang murung, dan kota yang kikuk

di alun-alun kota aku memperhatikan

mesjid agung, gereja, hotel dan plaza

yang tak kunjung lenyap dari sergapan ingatan

begitu terus satu demi satu

masih saja lagi terbayang potret-potret tempo hari

yang berkelebatan tak mau menguap tak karuan

wahai si penjara hati,

tau kah kau apa yang kucenungkan saat ini?

lihatlah trotoar-trotoar jalan yang pernah kita lucuti dulu

begitu histeris teriak mereka menyaksikan

asap demi asap yang kukepulkan

lihatlah kubah mesjid itu

begitu murung mengibakan aku

ciumlah kekembangan yang tak harum lagi

karena katupan mataku

dengarlah suara penjual hiasan binatang

yang mulai menyaingin wangi wc umum

seberang kantor pos besar

semua luber jadi satu terbungkus sudah

minta dikapalkan dalam karung-karung

yang siap dibuang ke dasar laut

di alun-alun kota Malang aku termenung-menung sendiri

tiba-tiba kau datang dan duduk di sampingku

tanpa minta diri

bertanya kau tentang kesendirianku

dalam kesepian hati yang begitu sangat,

lidahku meluncur kelu:

tentu saja sedang memikirkanmu!

 

Malang, 1997