Malam di Terminal Arjosari
malam-malam pukul sebelas di sebuah terminal yang malu
menggendong ransel aku berkejaran dengan bis ekonomi yang gengsi
sejak Jember habis mana lagi?
terlunta-lunta dengan lempengan koin di balik telpon
sekarang mau apa gerangan?
maragu. merindu. susah hati gelisah badan
terus saja memperhatikan bis-bis ekonomi yang ogah capek
sementara si patas sudah melenguh ngorok
dengan istrinya yang molek
sungguhkah aku menunggunya?
sibuk aku meragu
di tepi layar seorang tua menjilati daun bekas bumbu pecel
padahal yang muda makin mabuk saja dengan masturbasi
malu aku menyulut batang rokok
karena dompetku begitu tebal hasil ngutang sana-sini
sungguhkah aku menunggumu?
dan kau datang:
“menginap di mana kita malam ini?”
Malang, 1995

