lelaki setengah abad itu begitu kemayu
menggandeng jemari perawan ting-ting lagi lugu
empat anaknya tak tau musti makan apa;
“Bukankah ibu belum lagi setahun pergi, pak?”
tapi bapakmu? pernahkah kau berpikir tentang aku?
jawab si bapak.
talam-talam diturunkan
ruang tamu dibersihkan
kamar pengantin disiapkan
dan kasur empuk sudah diganti dengan seprei terbaru
anak gadisnya yang tertua bergumam;
umurnya pun tak lebih tua dariku
anaknya yang kedua;
bapak makin sore semakin ganjen saja
anak lelakinya yang ketiga;
sudah lupa jalan pulang ke rumah
anak gadis bungsunya;
sebodo amat! umpatnya.
kakak-kakak dari ibu kandung mereka
tak pernah lagi menginjak lantai rumah
mereka geli sekaligus geram melihat genit adik iparnya
“Belum lagi setahun, adikku?”
tapi Aku? pernahkah kau berpikir tentang aku?
hari dan tanggal baik telah ditentukan
para tetua dikumpulkan sebagai syarat
dan jadilah pesta pora genit akhir abad ini
ketiga anak gadisnya hanya meminum es jeruk kecut
tidak gembira tidak bersedih
kerna anak lelakinya tak pernah lagi ingat jalan pulang
menjelang malam sang bapak pamit masuk kamar
mencicipi seprei terbaru yang belum lagi lama dipasang
tiga anak gadisnya mencuci piring di dapur belakang
sambil membayangkan wajah ibu kandung mereka yang jelita
dan ketika hari menjelang subuh
si anak tertua bermimpi terdatangi ibu kandungnya
; “Siapa dia anakku?”
Ibu… bapak kawin lagi, Bu!
dan sang ibu yang jelita itu
pamit pergi untuk selama-lamanya
menitipkan keempatnya agar lekas-lekas saja dewasa
supaya cepat tak musti berumah dengan keganjenan
lelaki setengah abad itu begitu kemayu
menggandeng jemari perawan ting-ting lagi matang
menjeritlah dia di atas seprei terbaru
pasrah!