Archive for December, 2001

Mengerut Waktu

 

kalau kubisa mengerut waktu

mungkin tanah yang kuinjak ini

dibalik saja pada monarki yang kusut

 

kalau kubisa mengerut waktu

barangkali lumpur yang membenam ini

dibalik saja pada pergerakan nasional yang keras

 

kalau kubisa mengerut waktu

bisa jadi becek yang jorok ini

dibalik saja pada proklamasi yang gagah

 

kalau kubisa mengerut waktu

paling pasti debu yang berkarat ini

dibalik saja pada 65 yang merepih

 

kalau kubisa mengerut waktu

jelas yakin mendung yang menggelegar ini

dibalik saja pada pemilu yang korup

 

kalau kubisa mengerut waktu

tak tau pasti, masihkah bisa berusaha

: karena waktu masih lagi berjalan ditopang

Pacarku Seorang Asisten Dosen

 

aku terima cintamu yang jujur itu kepadaku

waktu dan hari sudahlah bukan jadi soal

yang kutau kamu berlutut di kamarku

meski tak peduli kalau

gajimu cuma cukup buat mengajkku

nonton film-film imporan

di bioskop-bioskop malam

meski tak peduli gelar sarjanamu

yang baru saja kau sandang

beberapa saat yang lalu

kamu merayu kencanku

aku terima cintamu yang jujur itu

meski aku selalu sebel

karena kerjamu cuma masuk ke ruangan

mengabsen kehadiran

dan memberi fotokopian

seperti kamu bilang:

dosen-dosen lain pun seperti itu

kakimu yang nyaris mulus

gemetaran saat harus berdiri

di depan teman-temanku

berbicara ala kadarnya ini-itu

dan teman-teman menertawakanmu

lalu mana wibawamu?

sungguh cinta memang mendahsyatkan

yang kutau kamu memang cantik

dengan rok ketatmu

meski godaan orang-orang

sebagai bayaran konsekuensinya

jadi mana wibawamu?

kamu hanya memandangiku manja

sembari menjawab,

dosen-dosen lain pun seperti itu

ah pacarku, ah asisten dosenku

celana levi’s baru

yang kau hadiahkan untukku

kini telah berubah

menjadi transkip nilai

diktat-diktat yang

sebetulnya malas kau bawa

kini menjadi misteri cinta kita berdua

lalu uang pun bukan lagi

menjadi tujuanmu

cinta dan kasih sayang

yang kau buru

ah, sungguh aku butuh dosen sepertimu

pacarku, asisten dosenku

lalu di mana wibawamu?

Pertunangan Akhir Abad

 

kau pinang dia dengan seribu wangi sesaji

kau pertemukan dua saluran pada sebuah muara kebahagiaan

kau lingkari manis jemarinya dengan kecup janji

kau tunaikan cerita akhir abad ini

dan kau hei, wanitaku ;

tuangkan seduhan teh hangat itu dalam poci kesetiaan

biar diteguknya sari kehangatan cintamu

hingga habis tandas kalau perlu

dan kau tak henti-hentinya menuangkannya kembali

begitulah seterusnya

keduanya telah duduk rapi di meja sesaji

menikmati menu pembuka abad baru

menimba air dari sumur sukacita

selembar pantai tak selamanya surut

namun tiada pernah kita menyana

dalam pasang sekalipun matahari tetap berterik

nikmati saja penganan di teras senja ini

sambil dihiasi cerita dewa-dewi

meski mereka melirik iri,

berilah barang secuil kegembiraanmu itu

dan masukilah rahasia langit serta samudra

dimana kau berdua bertahta di dalamnya.

lantas, seperti apa kalian rawikan riwayat republik ini?

Sebuah Perkawinan Yang Genit

 

lelaki setengah abad itu begitu kemayu

menggandeng jemari perawan ting-ting lagi lugu

empat anaknya tak tau musti makan apa;

“Bukankah ibu belum lagi setahun pergi, pak?”

tapi bapakmu? pernahkah kau berpikir tentang aku?

jawab si bapak.

talam-talam diturunkan

ruang tamu dibersihkan

kamar pengantin disiapkan

dan kasur empuk sudah diganti dengan seprei terbaru

anak gadisnya yang tertua bergumam;

umurnya pun tak lebih tua dariku

anaknya yang kedua;

bapak makin sore semakin ganjen saja

anak lelakinya yang ketiga;

sudah lupa jalan pulang ke rumah

anak gadis bungsunya;

sebodo amat! umpatnya.

kakak-kakak dari ibu kandung mereka

tak pernah lagi menginjak lantai rumah

mereka geli sekaligus geram melihat genit adik iparnya

“Belum lagi setahun, adikku?”

tapi Aku? pernahkah kau berpikir tentang aku?

hari dan tanggal baik telah ditentukan

para tetua dikumpulkan sebagai syarat

dan jadilah pesta pora genit akhir abad ini

ketiga anak gadisnya hanya meminum es jeruk kecut

tidak gembira tidak bersedih

kerna anak lelakinya tak pernah lagi ingat jalan pulang

menjelang malam sang bapak pamit masuk kamar

mencicipi seprei terbaru yang belum lagi lama dipasang

tiga anak gadisnya mencuci piring di dapur belakang

sambil membayangkan wajah ibu kandung mereka yang jelita

dan ketika hari menjelang subuh

si anak tertua bermimpi terdatangi ibu kandungnya

; “Siapa dia anakku?”

Ibu… bapak kawin lagi, Bu!

dan sang ibu yang jelita itu

pamit pergi untuk selama-lamanya

menitipkan keempatnya agar lekas-lekas saja dewasa

supaya cepat tak musti berumah dengan keganjenan

lelaki setengah abad itu begitu kemayu

menggandeng jemari perawan ting-ting lagi matang

menjeritlah dia di atas seprei terbaru

pasrah!

Sebutir Air

 

sebutir air jatuh di kepalaku

begitu deras serta menghujan

lalu dahsyat, banjir !

aku letakan separo jiwaku

di jalan-jalan tanpa alamat surat

nomor rumah sudah pergi tanpa permisi

dari Jember - Bandung - Jember,

atau mana lagi?

dengusan nafas terus saja sibuk di telingaku

dengan bau yang berbeda rupa

dari wangi parfum impor

hingga minyak telon bayi

di ujung tangga masjid aku duduk menyendiri

mengakrabi kepulan asap sambil bertanya;

pernahkah aku minta dihidupkan?

Sekali Lagi Untuk Tyana

 

Ty, ketika mulut-mulut itu menggodamu, mengomentarimu

adalah sungguh aku bertanya: adakah pantas kau digoda?

sepatutnya kau tersaji di singgasana ratu segala jaman

bukan diperlakukan seperti orde baru menuduh setiap orang kiri

tapi, Ty, bukankah kita generasi dari jaman sahibulhikayat

dimana sang pemenang sudah beranjak menjelma rezim baru

dipoles sana-sini agar seolah bibir mereka bergincu

kuyakin kau tiada seperti itu

tapi, Ty, mengapa pula senyummu masih semahal itu?

tidakkah kau tau, penghidupan sebegitu makin sulitnya

: dolar, eksekutif, legislatif melulu saling sumpah serapah

bukankah Tuhan marah dengan lalu lintas bencana terakhir ini?

masih kau mahal akan senyum kesumbamu itu?

tersenyumlah, Ty

: beri republik ini secuil kelembutanmu, kesyahduanmu

biar tuntas melulu penyakit yang bersamayam di hati

biar jaya seperti armada Majapahit atas segala kepulauan

entah hendak menjelma berapa propinsi negara ini

Itulah Ty, dari rahimmu lah terbit cikal-cikal bangsa,

muda-muda bangsa, pemimpin-pemimpin bangsa

: semua anak bangsa!

maka jadilah seorang perempuan sejati

sejati sesejati-sejatinya perempuan!

selamat memasuki abad baru, Ty

gemilang, semebak serta merdekalah di abad mendatang!

« Previous PageNext Page »