Archive for January, 2002

Penulis Itu Belum Mati

Oleh Daniel Mahendra, M. Isa gautama, Rana Akbari Fitriawan

 

Dia masih terpekur di depan layar komputer. Kesepuluh jarinya masih kaku di atas tuts keyboard. Memang, sudah tiga puluh menit berlalu, dan dia belum lagi melakukan apa-apa. Belum lagi menulis apa-apa. Tapi dia belum mati! Dia masih menunggu huruf pertama mendarat di tuts dan meloncat di layar komputer.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia ungkapkan melalui kata-kata. Begitu berjubelnya, hinga sulit baginya untuk sekadar menetapkan skala prioritas: peristiwa apa yang paling mendesak otaknya untuk dipindahkan ke layar monitor; menjadi kata demi kata, menjadi kalimat demi kalimat, puluhan paragraf serta judul demi judul cerita. Padahal hampir kesemuanya telahlah berhasil menguras energinya, terutama energi jiwa dan nuraninya. Menyita hampir seluruh degup detik-detik hidupnya. Continue Reading »

Menjelang Ajal

 

ceritakan padaku apa makna kehidupan

karena aku tak pernah merasa dilahirkan

kalau kau cinta padaku,

bunuhlah aku dengan nyawamu

ceritakan padaku apa makna berduka

karena aku tak pernah menangis

kalau kau sungguh padaku,

tikamlah aku dengan air mata

ceritakan padaku apa makna kebahagiaan

karena aku tak pernah tertawa

kalau kau menginginkan aku,

tinggalkan aku dengan senyuman

 

Bandung, 22 Januari 2002

Pagi di Suatu Senja

 

aku merasa bangun di sore hari

mengapa kehidupan dimulai saat matahari pamit pulang

mustinya kau tikam saja aku dengan wangi mata-Mu

sementara pertemuan di antara kita tak pernah tuntas

aku berjalan di atas malam

menyeruput ombak yang tak pernah letih menggemuruh

labirin menenggelamkanku pada sesuatu yang tak terpahami

ngilu hati ini merasakan kedekatan kita

mustinya aku tau apa judul hubungan ini

ambilah, ambilah aku dan jadikan milkiMu selama-lamanya

biar keluar kata-kata ini secara semestinya

tapi aku tetap saja tidur saat matahari mengetuk pintu

 

Bandung, 22 Januari 2002

Pesan di Pintu Kamar

 

mengetuk aku pada kisi-kisi celah baju-Mu

angin membawa nafas membumbung langit-langit kamar

mengintip pelan hati yang terisakkan

mencuri secuil kedamaian di dalamnya

tertunduk malu pada perlakuanku pada-Mu

telanjanglah aku dalam gelisah

berdua kita tanpa saling curiga

karena kata-kata sudah berserakan tumpah

aku menulis pesan di pintu kamar

telpon aku saat ini juga!

karena aku sudah pasrah polos telanjang

setubuhilah inderaku dengan sentuhan-Mu

 

Bandung, 22 Januari 2002

Negeri Para Petani

Oleh Daniel Mahendra

Di sebuah negeri, ada seorang petani yang terpilih menjadi presiden. Ini terdengar luar biasa. Sebab selama ini, negeri tersebut selalu memiliki presiden yang berasal dari kalangan militer. Setelah masa-masa kediktatoran tersingkir, melalui sebuah perjuangan yang tak sebentar, maka naiklah seorang sipil yang berasal dari kalangan kebanyakan negeri itu: petani!

Bisa dibayangkan, masa-masa awal jabatannya penuh diwarnai dengan atmosfir pedesaan. Karena selama ini ternyata para petani lebih banyak mendiami wilayah pedesaan, ketimbang kota. Entah kenapa! Jadi tidak aneh bila sang presiden begitu memberi perhatian khusus pada masalah pertanian. Continue Reading »

Menjadi Kata-Kata

 

berlari dipukuli gerimis yang tak pernah diundang

tertikam petir di tengah lapang hidup penuh rumputan

mencari keteduhan di balik mesin kata-kata

memilin perasaan yang tak mudah terurai

wajah-wajah masa lalu berkelebat

memanggili ruang waktu yang tak berujung

dia letih, aku pun letih, hanya hujan yang tak pernah letih

membasahi tubuh menjadi kata-kata

memang tak mudah membeli pelangi di siang hari

tak di sembarang tempat ia dijual

tapi ujung-ujung jari terlanjur mencakari langit

mendung, pekat tak berkesudahan

memilih menjadi kata-kata toh tak apa

 

Bandung, 18 Januari 2002

Sawah di Tengah Kota

 

burung-burung mulai enggan dan terbang tanpa tujuan

di kota ini orang mulai tak ramah dengan asal-usul

si burung dulunya segerombolan manusia juga

yang mulai tersisih dari peradaban dunia

tapi kini ia memilih menjadi burung ketimbang dituduh gila

jalanan marah, klakson mobil marah,

gedung-gedung melotot sombong

dan alam menunjukkan gelagat murka

para pangeran melirik iri melihat sawah di tengah kota

yang harganya cukup ditukar dengan petuah usang

lagi-lagi dengan cara menaikan upeti

agar si pemilik sawah tak kuat membayar janji

para tani menjual sawahnya dengan segenggam jagung

dan pergi berkelana sebagai burung

 

Bandung, 18 Januari 2002

Next Page »