Archive for January, 2002

Sawah di Tengah Kota

 

burung-burung mulai enggan dan terbang tanpa tujuan

di kota ini orang mulai tak ramah dengan asal-usul

si burung dulunya segerombolan manusia juga

yang mulai tersisih dari peradaban dunia

tapi kini ia memilih menjadi burung ketimbang dituduh gila

jalanan marah, klakson mobil marah,

gedung-gedung melotot sombong

dan alam menunjukkan gelagat murka

para pangeran melirik iri melihat sawah di tengah kota

yang harganya cukup ditukar dengan petuah usang

lagi-lagi dengan cara menaikan upeti

agar si pemilik sawah tak kuat membayar janji

para tani menjual sawahnya dengan segenggam jagung

dan pergi berkelana sebagai burung

 

Bandung, 18 Januari 2002

Hujan Telah Pergi

 

kalau boleh ia memilih, mungkin lebih baik pergi tanpa alamat surat

kemana mesti merajut luka, sementara kita bernyanyi tanpa suara

beratus tahun ia mencoba setia pada segala musim

menangis tertawa tanpa kata-kata

namun Tuhan menugaskannya sebagai hujan

datang ia pada lelaki muda yang kesepian

melagukan gerimis malam yang melenakan

tapi ia kecewa, si pemuda tak pernah menggubrisnya

ia pamit pergi, meninggalkan becek-becek pada jendela

namun Tuhan menugaskannya sebagai hujan

mengetuk pintu ia pada seorang gadis manja

mendendangkan tembang temaram yang romantis

tapi ia bersedih, si gadis tak pernah mau berterus terang

maka ia menitikkan air mata, meninggalkan setetes rindu dan berlalu

namun Tuhan menugaskannya sebagai hujan

kalau boleh ia memilih, ingin rasanya kembali dilahirkan

: tidak sebagai hujan

namun apa mau dikata: Tuhan menugaskannya sebagai hujan

 

Bandung, 17 Januari 2002

Hujan, Senja, dan Cinta

 

memikul hujan, senja, dan cinta bukanlah persoalan gampang

karena hujan tak pernah mau diraba kedatangannya

sementara senja yang gemar menghapus jejak cerita

dan cinta, o, selalu berakhir dengan sia-sia

pernah aku sembunyi dari basahnya

tapi petir menyalak-nyalak tak kenal santun

aku tidur di sore hari

tapi senja mengetuk-ngetuk pamit pergi

begitu pun cinta, yang tak pernah terdendang dari bibirmu

mengapa hujan, senja, dan cinta tak pernah mau tau

bahwa hidup adalah bercerita

entah cerita apalagi yang musti kurawikan

kalau kau tak pernah mau tau

: apa yang telah terjadi di antara kita

 

Bandung, 17 Januari 2002

Menjadi Angin

 

angin yang membelah lembut meluncur ke segar dadamu

bumi tersipu-sipu, dan bulan terkantuk-kantuk

adakah kau rasa bahwa angin tak pernah saling curiga?

ia mendatangi setiap dari segala manusia

di setiap tempat dan di segala waktu

membawa kabar dari seluruh aroma wewangian yang bisa ia tangkap

dicubitinya dedaunan, dan digodanya sekawan burung yang menantang

menelikung di tengah lautan, lalu masuk ke setiap hati manusia kesepian

ia memang tak pernah tampak, tapi ia pun tak pernah saling curiga

karena itulah ia memilih menjadi angin

tapi manusia, kadang mencibirnya

serta menuduh dan menjulukinya sebagai si kabar angin

angin pergi, menundukkan kepala, dan tak tau musti melangkah ke mana

 

Bandung, 17 Januari 2002

Purnama yang Jatuh di Rambutmu

 

aku membayangkan purnama jatuh di rambutmu yang terurai

mengusap wajahmu dan mengakhiri penantianku

tapi purnama tak pernah mau tau

seperti halnya kamu, yang selalu sembunyi di balik pintu

o, malam yang merambat di pinggiran hari

mengapa musti pamit pada senja

sementara kita tak bisa meraba pagi

dan purnama terus menantang tanpa permisi

selalu saja membisikkan rindumu yang tak pernah tuntas

sementara purnama memamerkan dadanya yang mendayu

namun mengapa kalian tetap bertengger di sepi malam

membuatku ingin menjadi matahari dan pergi tanpa pamit

biar sinarku tak pernah lagi mengunjungi bulan dan kamu

 

Bandung, 17 Januari 2002

dimuat di Horison, September 2005

Cerita Tentang Tidur

Cerpen Daniel Mahendra

Di sebuah negeri, ada dua kota yang sangat mengherankan. Bagaimana tidak, kota yang pertama: berisi orang-orang yang super sibuk. Seluruh jalan di kota itu tak pernah sunyi dari kendaraan. Ada saja yang melintas. Kantor-kantor tak pernah mati. Pasar-pasar dijejali manusia. Stasiun, pegadaian, juga tempat pelacuran, tak pernah surut dikunjungi orang. Pokoknya denyut nadi kota itu tak pernah mati.

Ternyata sebab dari semua itu adalah: bahwa penduduk di kota itu tak pernah tidur! Bukan, bukan tak pernah tidur dalam arti kiasan. Tapi benar-benar tak pernah tidur dalam arti sesungguhnya. Continue Reading »

« Previous PageNext Page »