Cerpen Daniel Mahendra

Tau perbedaan antara menangis dan tertawa? Gampang memang! Biasanya orang bakal nangis kalo’ lagi sedih, dan ketawa saat merasa bahagia. Tapi, ada sebuah negeri, yang warganya sudah nggak bisa lagi membedakan kapan harus nangis dan kapan harus ketawa. Karena keduanya terasa nggak ada bedanya.

Jadi ceritanya begini:

Suatu senja di Café Dakken (16.15 WIB):

“Mending kita putus, Len!!”

“Apa, Val? Kamu ngomong apa barusan?”

“Putus!!”

“Lho-lho? Kamu ini kenapa sih?”

“Ah… udah deh!! Males aku ngomonginnya!”

“Hei, kamu nggak sportif, Val! Kalo’ kamu emang ngajak putus karena bosen sama aku: fine! Tapi kalo’ ada cewek lain, kamu nggak jujur namanya!!”

“Apapun alasanku, aku udah males jalan sama kamu!”

“Iya… iya… tapi jelasin dong apa alasannya?”

“Hu-uh!! Harusnya kamu tuh tau, kamu tuh ngeselin banget, tau nggak sih! Kamu tuh terlalu banyak bercinta sama buku-buku. Kamu lebih mementingkan pagelaran teater kamu ketimbang aku. Kamu lebih seneng nongkrong sama temen-temen kamu yang sok seniman itu di Café Terminus. Kamu tuh lebih seneng menghabiskan waktu di rumah buat ngetik cerpen-lah, sajak-lah, atau apalah namanya! Kamu lebih mementingkan itu semua!!”

“Lho, lha itu memang pekerjaanku! Kalo’ nggak gitu, dari mana aku ngebiayain sekolahku?”

“Iya, tau! Tapi mana pernah sih kamu mau masuk ke duniaku. Pergi bareng temen-temenku ke clubing. Sekedar minum bareng. Jalan rame-rame. Atau nongkrong di Dago. Apa pernah?!”

“Tapi, Val, aduh…”

“Udah-udah!! Apapun alasan kamu, kamu pasti menganggap kamu yang paling bener! Selamat tinggal, Len!”

“Val? Hei…”

Suatu malam di Café Terminus (20.05 WIB):

“Hahaha… emang enak diputus pacar…!”

“Kamu ini temenku bukan sih, Nyo, malah ngebelain si Val!”

“Nggak gitu, Len. Soalnya kamunya juga sih jarang gabung dengan temen-temen si Val. Ya jelas aja dia sebel!”

“Siapa bilang aku nggak nyoba masuk ke dunianya? Udah, dan sering. Dan aku nggak mendapatkan apa-apa dari sana!”

“Maksud kamu?”

“Apa kamu nggak liat, berapa duit yang musti aku keluarin untuk ngikuti pergaulan temen-temen si Val. Ngedugem-lah. Minum. Makan junkfood. Belum lagi nongkrong yang nggak ada juntrungnya. Huh!”

“Wah… kamu egois, Len! Kamu dibayarin ini!”

“Aduh, bukan gitu! Permasalahannya bukan duit, Nyo, tapi kalau semua anak muda gitu semua, mau jadi apa negara ini, Nyo? Generasi hura-hura? Ha?! Mau jadi apa, Nyo?!

Mungkin kamu nganggap aku egois. Fine! Tapi aku nulis cerpen, bikin sajak, untuk ngebiayain sekolahku. Hidupku. Mungkin kamu nyangka aku sok mengada-ada, tapi denger, Nyo, denger, bangsa ini memerlukan karakter. Butuh identitas. Apa kamu pikir republik ini sudah terbangun karakternya? Belum, Nyo, belum! Kalo’ aku, kamu, semua anak muda udah nggak peduli lagi dengan semua ini, mau jadi apa, Nyo, mau jadi apa?!”

“Tapi, Len…”

“Apa aku harus jingkrak-jingkrak di clubing? Minum sampe teler? Nongkrong nggak puguh? Terus kalo’ udah gitu apa? Keren? Hebat? Gaul? Jawab, Nyo?!”

“Kamu kok jadi marah sama aku sih?”

“Aku nggak marah sama kamu. Aku marah sama diriku sendiri. Sama generasi saat ini!”

“Huu… sok idealis kamu!”

“Aduh, Nyonyo!! Tolong kasih tau aku, kalo’ nggak idealis, lha harusnya gimana?! Realistis?! Lha jelas seperti itu realitanya kok!! Maboookkk…. semua!!! Huh!!!”

“Hoi… hoi… kok kamu jadi sewot kayak gini? Kalem dong!”

“Kalem? Generasi kalem! Rusak ini negara karena kekaleman!!”

Suatu pagi di sebuah ruang tengah keluarga (08.25 WIB):

“Len, duduk bentar. Mama mau bicara.”

“Ada apa, Ma?”

“Kamu jadi kuliah nggak sih?”

“Hmmm… kita bicarain nanti deh, Ma. Lenny lagi sibuk nulis skenario teater buat pegelaran berikutnya nih…”

“Len, kamu ini niat nggak sih kuliah? Papa udah nggak ada, bukannya serius ngelanjutin kuliah malah teater melulu yang diurusin. Dengan ijasah SMU, mau jadi apa kamu, Len?”

“Ma, Lenny pengen jadi orang merdeka aja, Ma. Jadi majikan bagi diri sendiri. Nggak memerintah, juga nggak diperintah.”

“Kamu ngomong apa sih?”

“Iya, Ma, Lenny nggak punya niat buat kerja kantoran seperti bayangan Mama. Itu boleh untuk orang lain, tapi enggak untuk Lenny, Ma. Lenny nggak mau diri Lenny diatur sama orang yang hanya mengabdi pada modal kapitalis. Yang hanya mementingkan keuntungan perusahaan, tanpa pernah memikirkan kepentingan orang banyak. Lenny nggak mau kerja tapi batin Lenny sendiri nggak bahagia. Nggak merdeka secara individu. Lenny harus keluar dari lingkaran hidup seperti itu, yang rasanya nggak ada habisnya, Ma. Lenny pingin merubah pola pikir generasi muda Indonesia saat ini,”

“Ah, nggak ngerti Mama. Jadi kamu nggak akan kuliah?”

“Ya tetep ngelanjutin kuliah, Ma, tapi…”

“Udah-udah. Mama capek denger pidato kamu. Pokoknya kamu musti kuliah. Cepet lulus, terus dapet kerja. Papa nggak ninggalin apa-apa buat kita kecuali keberanian, Len!”

“Iya, Lenny ngerti kok, Ma, Lenny hanya minta…”

“Pokoknya Senin besok kamu udah harus ngedaftar!”

Suatu pagi di meja makan sebuah keluarga (08.42 WIB):

“Val, bangun sayang… sarapan bareng yuk!”

“Jam berapa Val pulang semalem, Ma?”

“Ah, paling pulang pagi lagi dia, Pah!”

“He, Val, ayo sarapan bareng. Papa sama Mamah mau ngomongin kuliah kamu nih!”

“Hoammmhhh…!!”

“He, cuci muka dulu dong sayang…”

“Jadi aku kuliah di mana, Pah?”

“Lho, kamu dong yang nentuin. Australi? Amerika? Eropa? Di mana pun kamu suka!”

“Iya nih, yang kuliah kan kamu.”

“Terserah Papah sama Mamah deh… Yang penting di luar negeri!”

“Ya jangan terserah dong. Papah kan musti ngurus paspor, visa, dan kebutuhan lainnya. Kalo’ kamu nggak tau negara mana yang kamu tuju, ya gimana Papah bisa ngurus?”

“Terserah Papah deh… Aku nurut aja. Paling kalo’ bosen, pindah aja lagi. Ya, Mah?”

“Iya….”

“Trus, kamu mau ngambil kuliah apa?”

“Apa aja deh…!”

“Lho? Gimana sih?”

“Apa aja!”

“Manajemen? Bisnis?”

“Aduh, jangan yang susah-susah, Pah! N’tar ngebosenin lagi!”

“Lha, nantinya yang ngelanjutin semua perusahaan Papah kan kamu juga sayang… Ya kamu musti tau dong harus belajar apa.”

“Aduh… udah deh… Yang penting nggak di Indonesia. Aku udah bosen di sini! Payah!”

Suatu siang di sebuah mobil BMW seri 7 yang sedang meluncur (12.17)

“Nah lho, razia polisi Val! Surat kamu lengkap nggak?”

“Alah…!”

“Lho, kok kamu nggak dicegat?”

“Aduh… Shanty, kamu belum kenal aku lebih jauh ya? Hahaha…!”

“Nggak lucu, ah!”

“Eh, makannya habis nonton aja, ya?”

“He-eh. Terserah kamu aja! Eh, Val, kamu jadi kuliah di mana?”

“Tau nih! Terserah papahku deh! Australi kayaknya deket banget ya. Pengennya sih di Amrik. Kamu sendiri?”

“Aku ngedaftar di Jurnalistik, Val. Aku kepingin jadi wartawan. Asyik kan, Val?”

“Alah… Shan… Shan… kayak orang susah aja kamu ini!”

“Hah?! Orang susah?! Kamu kok sembarangan sih?! Sombong banget kamu!! Hidup ya perjuangan. Sorry ya, kamu itu dari lahir sampe’ sekarang nggak pernah ngalami susah! Semua serba tersedia dan enak. Mau sekolah ke manapun bisa. Tapi jadinya kamu nggak punya sikap! Nentuin kuliah di mana aja kamu belum tau! Atau emang nggak bisa!! Sorry, Val, aku mending turun di sini aja. Terus terang aku kesinggung kamu ngomong kayak gitu!!”

“Lho, Shan, apa yang salah dengan omonganku? Maksud aku, kamu kuliah jurnalistik bertaun-taun, berapa biaya yang harus kamu keluarkan. Udah gitu, jadi wartawan. Berapa sih gaji wartawan?”

“Kamu emang anak manja!! Aku turun di sini, Val!!”

“Kita kan mau nonton?”

“Aku turun di sini!!!”

“Shan?”

“Nonton aja sama uang bapak kamu!!!”

BRAK!!!

Lima Belas Tahun Kemudian:

Lenny baru saja keluar dari ruang sidang di sebuah pengadilan dengan kawalan ketat polisi. Ia divonis penjara sekian tahun atas tuduhan buku yang diterbitkannya berisi ajakan untuk merevolusi pola pikir anak muda Indonesia yang selama ini Lenny anggap berantakan, nggak membentuk karakter bangsa, dan nggak punya sikap.

Mama Lenny yang nampak mulai beranjak tua, hanya duduk pasrah, karena memang nggak mungkin lagi berbuat apa-apa.

Shanty dipecat dari koran tempat di mana ia bekerja. Ia telah mengangkat kasus lewat tulisannya tentang bos jaringan narkoba, yang entah kenapa justru adalah anak dari si pemegang saham perusahaan korannya.

Akibat serangan jantung, Ayah Val meninggal dunia lima tahun lalu. Mama Val, usianya kian lanjut, tapi masih gesit di perkumpulan jet set serta arisan bernilai milyaran.

Sementara Val, oh ya, Val baru saja masuk kamar sebuah hotel bersama seorang wanita, yang entah siapa (yang kadang Val pun nggak begitu kenal!). Kuliahnya memang nggak pernah selesai. Namun ia mewarisi seluruh perusahaan papanya yang beraset trilyunan itu.

Dan Nyonyo teman Lenny, entah di mana dia sekarang.

Maka di ujung sebuah malam buta, terdengar sebuah tangis yang sangat memilukan. Nadanya membuat kuping yang mendengar terasa tersayat-sayat. Tangis itu bukan tangis seorang manusia. Bukan juga lolongan anjing yang kesepian. Entah makhluk apa yang dapat mengeluarkan suara tangis sepilu itu. Tapi makin dekat makin terasa, ternyata tangis itu berasal dari sebuah negeri yang kebetulan bernama: Republik Indonesia!

Dirgahayu Republik Indonesia ke-57!

* * *

Asia Afrika Bandung, Agustus 2002.- Dimuat di Ninetyniners Magazine, Edisi Agustus 2002.

- Dibacakan di Auditorium CCF (Centre Culturel Francais) Bandung, Rabu, 7 Agustus 2002.