Archive for November, 2002

Rumah Terakhir

 

seseorang memandikan dan mengkafani cinta

lalu dikuburnya ke dalam lahat keabadian

barangkali telah ditemukannya arti sesungguhnya

dari penantian yang tak berkesudahan itu

dahulu sering ia bertanya, di manakah alamat cinta?

apakah cinta ada dalam hati, dalam pikiran, atau mungkin dalam kecupan?

meski seperti itu, toh tetap terus ia bertanya dan mengembara

antara nisan demi nisan juga pemakaman demi pemakaman

tapi di kota di mana rumah-rumah

tak beralamat surat itu

cinta sudah tak dibutuhkannya lagi

cinta sudah menjelma menjadi sesosok makna

yang dongengnya selalu saja memabukkan

pecinta-pecinta sejati

yang terseok-seok bahkan terbunuh juga ke dalamnya

kini cinta sejatinya telah bernisan dalam damai

ia tau, jika dulu ia menyatukannya,

maka hilanglah makna dari kecintaannya itu

dan di kota di mana rumah-rumah

tak beralamat surat itu

cinta sudah menjelma menjadi sesosok dongeng

yang ia percaya, cinta sejati ialah cinta ia tak pernah dipersatukan!

 

Bandung, 21 Nopember 2002 | 12:45

Episode

 

apa yang dicari seorang gadis di pemakaman saat senja hari

bila tak ada sesosok mayat pun yang ia ziarahi

apa yang ditemui seorang gadis di tanah pemakaman saat matahari pamit pulang

bila tak ada cinta yang tertinggal di sana

hidup kita sendiri terdiri dari episod demi episod

yang terbang berpendaran tanpa alamat surat

dari satu kisah ke kisah lainnya

dan episod demi episod itu pun menjelma menjadi sesosok sukma

yang masuk ke dalam nafas setiap manusia

yang kerap merintih, melolong, dan meraung

lantas memilih sembunyi di balik nisan kuburan

seorang gadis memungutnya dan dibawanya pulang

dijadikannya sebagai hiasan kamar di samping kaca jendela

yang selalu ia pandangi ketika hujan mengetuk-ngetuk rindu

sukmaku dan sukmanya berpenderan tanpa alamat surat

mampir di kuburan

dan kini bersemayam dalam kamar

samping kaca jendela

apa yang dicari seorang gadis di pemakaman saat matahari pamit pulang?

 

Bandung, 21 Nopember 2002 | 04:02

Merah Putih

bila kau kenakan kain bendera itu bagi topimu,

terlindungikah kamu?

bila kau kenakan kain bendera itu bagi bajumu,

banggakah kamu?

bila kau kenakan kain bendera itu bagi celanamu,

tak malu lagikah kamu?

bila kau kenakan kain bendera itu bagi kaus kakimu,

nyamankah kamu?

bila kau kenakan kain bendera itu bagi sepatumu,

tegapkah langkahmu?

bila kau kenakan kain bendera itu bagi sajadahmu,

bersyukurkah kamu?

bila kau kenakan kain bendera itu bagi celana dalammu,

apa katamu?

 

Bandung, 21 November 2002 | 03:32

Bila Rumah Tanpa Alamat Surat

Cerpen Daniel Mahendra

Sedari tadi perempuan tiga puluhan itu nampak berputar-putar saja di antara barisan nisan-nisan. Berjalan ke sana-kemari, melongok-longok, membacai setiap tulisan pada patok-patok, seperti mencari sesuatu yang tak pernah ditemukan. Kuperhatikan nyaris sudah setengah jam ia terseok-seok di sana. Ini memang hari terakhir bagi para peziarah, karena besok pagi-pagi betul mereka sudah harus mulai berpuasa.

Perempuan tiga puluhan itu masih saja berputar-putar. Orang-orang dalam jarak terpisah-pisah tampak duduk terpekur di hadapan makam-makam bisu. Entah itu makam bapaknya, emaknya, anaknya, istrinya, suaminya, atau siapa pun itu. Beberapa tampak membacai ayat-ayat suci, menyerok-nyerok gundukan tanah, menyirami dengan air kesejukan, membakar kemenyan, tetapi ada juga yang hanya duduk-duduk tanpa melakukan suatu apa. Seperti diriku!

Continue Reading »