Cerpen Daniel Mahendra

Sedari tadi perempuan tiga puluhan itu nampak berputar-putar saja di antara barisan nisan-nisan. Berjalan ke sana-kemari, melongok-longok, membacai setiap tulisan pada patok-patok, seperti mencari sesuatu yang tak pernah ditemukan. Kuperhatikan nyaris sudah setengah jam ia terseok-seok di sana. Ini memang hari terakhir bagi para peziarah, karena besok pagi-pagi betul mereka sudah harus mulai berpuasa.

Perempuan tiga puluhan itu masih saja berputar-putar. Orang-orang dalam jarak terpisah-pisah tampak duduk terpekur di hadapan makam-makam bisu. Entah itu makam bapaknya, emaknya, anaknya, istrinya, suaminya, atau siapa pun itu. Beberapa tampak membacai ayat-ayat suci, menyerok-nyerok gundukan tanah, menyirami dengan air kesejukan, membakar kemenyan, tetapi ada juga yang hanya duduk-duduk tanpa melakukan suatu apa. Seperti diriku!

Sementara pemuda-pemuda kampung sekitar berebut mencari tempat: memaculi rumput-rumput liar yang melumat tubuh makam peziarah. Bila nampak serombongan orang datang lantas berjongkok-jongkok di pinggiran makam, serta merta berebutlah pemuda kampung itu mencangkul-cangkul. Itu mereka lakukan hanya pada makam-makam yang didatangi peziarah, tentu demi uang. Riwayat makam lain yang tak didatangi peziarah: tetap saja kesepian diselimuti belukar!

Perempuan tiga puluhan itu masih saja berputar-putar. Entah makam siapa yang ia cari. Mungkin makam seseorang yang pernah begitu ia cintai. Atau makam seseorang yang begitu dekat di hatinya. Atau? Entahlah! Aku segan mendekatinya.

“Belum ketemu juga?” tanyaku akhirnya memberanikan diri.

“Oh,” ia berpaling, berusaha tersenyum, tapi tetap saja mendung menggelantung di wajahnya. Padahal senja nampak begitu cerah. “Ya, rasanya di sekitar sini. Tapi kok sudah nggak ada.” keluhnya.

“Makam siapa? Orang tuamu?” tanyaku hati-hati.

“Mungkin…”

“Mungkin?”

“Ya, mungkin!”

“Ha?!” aku membuang puntung rokokku. Apa maksudnya perempuan ini, “Kapan dimakamkannya?”

“Itu masalahnya, aku sendiri nggak tahu kapan tepatnya!” jawabnya sambil lalu.

Aneh!

“Sering ke sini?”

“Ya, tiap tahun menjelang bulan puasa, aku selalu ke sini.”

“Berarti masih ingat dong di sekitar mana letaknya,”

“Mudah-mudahan saja begitu,”

Betul-betul aneh! Sebetulnya aku tak ingin ikut campur. Tapi kalau melihat wajahnya yang sendu serta mimiknya yang memelas, tak tega juga rasanya. Entah makam siapa yang ia cari, ia sendiri toh mengesankan tak tahu: makam siapa yang ia cari.

“Barangkali mau dicek dulu di kantor pemakaman?” aku mencoba menawarkan.

“Ah, percuma, nggak bakalan ada. Datanya nggak tercatat!”

“Ha?! Mana mungkin! Semua makam di sini pasti tercatat di sana!” ujarku keheranan.

Tapi perempuan itu masih saja melongoki patok demi patok.

Sorry, bukan mau ikut campur, tapi makam siapa sih yang kamu cari? Kuperhatikan sudah setengah jam kamu mondar-mandir.”

Akhirnya ia menoleh dan berbicara serius menatapku. Tidak sambil lalu seperti tadi-tadi. Ai, cantik pula perempuan ini. Rupanya aku kurang teliti memperhatikan. “Sebetulnya,” ia mulai bicara. “Sebetulnya aku sendiri nggak tau makam siapa yang kucari. Tapi tiap tahun, tiap menjelang bulan puasa, aku selalu ke sini. Seperti orang-orang itu, berziarah.”

“Tapi makam siapa yang kamu ziarahi?”

“Itu nggak soal!”

“Nggak soal? Lantas?”

Duduk ia di atas batu sebuah makam. “Barangkali seseorang yang sangat kucintai!”

“Almarhum pacarmu?” norakku kumat.

Ia hanya tersenyum. Tapi senyumnya senyum kegetiran.

“Tadi ada juga yang mencari-cari makam seperti kamu. Kasihan, ternyata sudah hilang karena puluhan tahun tak pernah mereka jenguk.”

“Ya, kasihan betul penghuni-penghuni itu, bertahun-tahun tak pernah dijenguk. Sekali dijenguk, sudah entah kemana wujudnya.” Ai, bicara apa perempuan di depanku ini.

“Apa kamu nggak merasa menyindir diri sendiri dengan berkata seperti itu?”

“Ha? Aku? Tidak. Aku tak merasa berhutang apa-apa pada makam di sini.”

“Tapi tadi kamu bilang mau berziarah?”

“Ya, berziarah. Apa salahnya berziarah?”

Sableng! pikirku. Lebih dari setengah jam berputar-putar, membacai patok demi patok, tapi tidak tau: makam siapa yang hendak diziarahi.

“Pasti kamu tinggal di luar kota?”

“Nggak. Rumahku di Kiaracondong,”

“Lho, itu kan hanya beberapa kilo saja dari sini! Seharusnya kamu bisa rutin menengok makam yang kamu maksud. Biar nggak hilang seperti sekarang.”

Lagi-lagi ia hanya tersenyum dengan pandangan menerawang. Tiba-tiba ia bertanya, “Maaf, kamu tinggal dekat-dekat sini?”

“Ya.”

“Lantas, apa yang kamu lakukan di sini? Berziarah?”

“Aku? Tidak, aku tidak berziarah. Tidak ada keluargaku yang dimakamkan di sini. Aku hanya ingin menikmati rutinitas orang-orang yang ramai berziarah setiap menjelang bulan puasa. Mungkin sama seperti kamu, setiap tahun aku ke sini, tapi nggak berziarah.”

“Tapi kenapa kamu harus menikmati rutinitas orang-orang itu?”

“Yah… iseng saja. Siapa tau ada segi yang menarik untuk dibuat cerita.” jawabku.

“Yah… iseng saja…” ujarnya menirukan kalimatku. Kembali ia tersenyum.

Aku mulai sebal dibuatnya. “Kenapa kamu tersenyum-senyum?”

“Tentu saja aku tersenyum. Lihatlah peziarah-peziarah itu. Mereka datang dari berbagai asal. Berjongkok di sisi-sisi makam, membersihkannya, menyiraminya, menaburinya dengan kekembangan. Kamu pikir mereka menziarahi makam siapa? Keluarganya? Tidak. Mereka tidak mengunjungi makam keluarganya. Bahkan mereka tak kenal dan tak pernah tau, makam siapa itu. Tapi satu hal, mereka punya cinta. Cinta pada seseorang yang mereka cintai.”

Sinting! Perempuan ini betul-betul sinting, teriakku dalam hati.

“Kalau kau tak percaya, tanyailah mereka!” tukas perempuan itu lagi.

Aku betul-betul dibuat bingung. Barangkali perempuan di depanku ini hanyalah perempuan gila yang nyasar kemari. Tapi kenapa aku menurut saja dengan apa yang dikatakannya? Sinting! Sinting!

Tapi betul saja, seperti dihipnotis aku mulai berjalan menghampiri sebuah keluarga yang merubungi sebuah makam. Aku bertanya pada mereka, siapa yang mereka ziarahi. Tapi hanya dijawab dengan senyuman dan gelengan kepala. Kembali aku bertanya pada keluarga di makam lainnya, juga dijawab dengan senyuman dan gelengan kepala. Berjalan lagi aku sedikit lebih ke utara, senyuman dan gelengan kepala belaka yang kudapati sebagai jawaban. Setengah berlari aku ke makam berikutnya, juga berikutnya, dan berikutnya, lagi-lagi hanya senyuman dan gelengan kepala yang kudapatkan. Hanya beberapa orang saja yang sekadar menjawab, “Tidak, Nak, ini bukan siapa-siapa kami!” atau, “Kau tak punya cinta, anak muda?”

Cinta? Kenapa justru aku yang ditanya tentang cinta? Ini betul-betul aneh. Apa hubungannya dengan cinta? Kembali aku teringat dengan perempuan tiga puluhan itu. Kembali aku menghampirinya. Ia masih lagi tersenyum seperti tadi-tadi. Meski senyumnya tetap saja jenis senyum kegetiran.

“Bagaimana?” tanyanya seolah menantang.

“Huh!! Aku nggak ngerti! Betul-betul nggak ngerti! Sebetulnya kamu ini siapa?”

“Aku siapa? Ya bukan siapa-siapa. Aku seperti halnya orang-orang itu juga, berziarah. Cuma yang membedakan, orang-orang itu memiliki cinta, dan tau kemana musti mencari dan menempatkan cinta mereka. Sedangkan aku, aku punya cinta, tapi aku masih mencari dan berharap bisa menempatkannya kelak. Seperti yang dilakukan orang-orang itu.”

Kini aku betul-betul berada pada titik kebingungan. “Ini aneh! Betul-betul aneh! Kamu dan orang-orang itu. Apa hubungannya semua ini dengan cinta?”

“Nggak, ini sama sekali nggak aneh. Justru kamulah yang aneh. Kamu nggak punya cinta, kawan. Jangankan menempatkannya, mencari pun tak pernah terlintas dalam pikiranmu.” ujarnya sembari berdiri, bersiap-siap hendak pergi.

“Nggak punya cinta?! Aku nggak punya cinta katamu?! Apa urusanmu dengan cintaku? Aku punya cinta!!” tetakku mulai geram.

“Betulkah? Coba ingat-ingat, sedari tadi kamu hanya duduk-duduk di atas sebuah makam. Sambil merokok kamu perhatikan orang-orang yang datang berziarah kemari. Lalu kamu menghampiri aku yang sedang mencari-cari makam. Tapi, apa yang kamu lakukan? Hanya memperhatikan, nggak lebih! Mereka, orang-orang itu, orang-orang yang memiliki cinta. Mencari dan menempatkannya. Aku, juga satu dari orang-orang yang memiliki cinta itu. Aku memang belum bisa menempatkan, tapi aku masih terus mencari. Sementara kamu? Bagaimana dengan kamu? Kalau kamu berkata punya cinta, apa yang sudah kau lakukan untuk cinta? Kau sudah berusaha mencarinya? Atau menempatkannya?”

“Bagaimana mungkin kalian mencari dan menempatkan cinta di sini? Ini pemakaman!! Orang datang berziarah, tentu saja mendatangi mendiang keluarganya. Ngapain ke sini kalau nggak tau siapa yang diziarahi? Bagaimana mungkin memiliki rumah tanpa alamat surat?”

“Rumah tanpa alamat surat? Menarik juga perumpamaanmu. Tapi apa salahnya? Selama rumah itu meneduhkan, menentramkan, mendamaikan, dan tempat segala kebahagiaan didapat, kenapa tidak? Mustikah sebuah rumah selalu beralamat?” ujarnya sembari tersenyum penuh arti.

“Huh!! Kamu ngawur! Cinta itu konkrit! Tidak abstrak seperti katamu!”

“Tidak juga, para peziarah itu buktinya.”

“Ya ampunnn… ini siapa sih yang gila? Tapi, hei, kamu mau kemana?”

“Pulang. Aku sudah kemari. Berziarah. Seperti orang-orang itu, memelihara cintaku. Hingga tahun depan kembali ke sini setiap hendak memasuki bulan puasa.” tukasnya betul-betul beranjak pergi.

Tiba-tiba adzan maghrib berteriak lantang memecah senja. Tapi kembali aku terduduk di atas sebuah makam, mengeluarkan rokokku, menyulutnya sebatang. Kuperhatikan punggung perempuan tiga puluhan itu yang mulai makin menjauh, sembari berpikir tentang cinta yang tak pernah bisa kumengerti.

* * *

Pemakaman Gumuruh-Bandung, 11 November 2002

Senin, 04.10 WIB, sehabis makan sahur.