seseorang memandikan dan mengkafani cinta

lalu dikuburnya ke dalam lahat keabadian

barangkali telah ditemukannya arti sesungguhnya

dari penantian yang tak berkesudahan itu

dahulu sering ia bertanya, di manakah alamat cinta?

apakah cinta ada dalam hati, dalam pikiran, atau mungkin dalam kecupan?

meski seperti itu, toh tetap terus ia bertanya dan mengembara

antara nisan demi nisan juga pemakaman demi pemakaman

tapi di kota di mana rumah-rumah

tak beralamat surat itu

cinta sudah tak dibutuhkannya lagi

cinta sudah menjelma menjadi sesosok makna

yang dongengnya selalu saja memabukkan

pecinta-pecinta sejati

yang terseok-seok bahkan terbunuh juga ke dalamnya

kini cinta sejatinya telah bernisan dalam damai

ia tau, jika dulu ia menyatukannya,

maka hilanglah makna dari kecintaannya itu

dan di kota di mana rumah-rumah

tak beralamat surat itu

cinta sudah menjelma menjadi sesosok dongeng

yang ia percaya, cinta sejati ialah cinta ia tak pernah dipersatukan!

 

Bandung, 21 Nopember 2002 | 12:45