Perempuan Itu Sublim
Cerpen Daniel Mahendra
Dulu Sinah tak begitu berhasrat untuk berkasih-kasih dengan seorang lelaki. Kedekatannya dengan lelaki tak lebih dari sebuah hubungan pertemanan belaka. Baginya, hubungan yang disertai dengan barbagai keinginan selalu menyusulkan sebuah harapan yang tak jelas bentuknya.
Ia memang perempuan yang tak mau bergantung pada siapapun. Tetapi, sebagai seorang perempuan, impian untuk dicintai oleh lelaki selalu terlintas-lintas dalam benaknya. Seperti halnya lelaki yang selalu mendambakan kehadiran seorang perempuan. Tapi, entah siapa lelaki itu, Sinah belum lagi tau. Dan ia termasuk perempuan yang sangat percaya dengan konsep pernikahan: sex after married.
“Aku mencintaimu, Sinah!” jujur Farid, kawannya suatu hari.
“Terima kasih!”
“Mau kau jadi kekasihku?”
“Kekasih? Maaf, Farid. Terima kasih kau mencintaiku, tapi bukan berarti kita musti mewujudkannya pada sebuah hubungan seperti layaknya kebanyakan orang ‘kan?”
Atau Burma, yang punya perhatian berlipat-lipat pada Sinah.
“Maaf Burma. Aku hanya membayangkan sebuah pernikahan. Aku tak pernah mengenal apa itu pacaran.”
Bahkan mungkin Bahar, yang jelas-jelas hendak menikahinya.
“Kau? Hendak menikahiku? Ya, Tuhan! Bukankah selama ini kita berteman, Bahar? Perasaanku padamu tak lebih dari perasaan seorang sahabat.”
Begitulah Sinah. Ia ingin dicintai, tapi tak tau: siapa lelaki yang pantas ia balas cintanya. Bertahun-tahun ia seperti itu. Keluarganya sudah menginsafi atas sikapnya. Mereka menyerahkan sepenuhnya dengan segala keputusan hidup Sinah. Hanya terkadang kawan-kawan Sinah yang kerap mengolok-oloknya untuk hidup seperti kebanyakan orang saja: berkasih-kasih, bercinta, lantas menikah.
“Apa legalitas dari pacaran?” tanyanya suatu hari. Teman-temannya hanya terdiam. “Tak ada!” jawabnya sendiri. “Aku tak percaya tak ada seks dalam hubungan pacaran!” ujarnya yakin. Teman-temannya hanya bisa mengangkat bahu.
Tapi jangan salah sangka, Sinah bukan perempuan yang anti lelaki. Ia kerap bepergian dengan lelaki. Nongkrong di kafe dengan Farid, kencan di toko buku dengan Burma, atau tiga hari naik gunung bareng Bahar. Semua kedekatan itu tentu membuat banyak lelaki bertanya-tanya: “Apa yang dimaui Sinah ini?”
Sinah tak ingin apa-apa. Ia hanya membayangkan sebuah hubungan yang wajar. Sebuah hubungan dimana satu sama lain tak lagi memiliki suatu keinginan berpamrih. Hubungan seperti itu terkadang memang merepotkan banyak lelaki atau bahkan banyak orang. Bagaimana mungkin sebuah hubungan tak disertai dengan berbagai keinginan? Bukankah orang berinteraksi karena memang saling membutuhkan? Bahkan, hubungan yang Sinah bayangkan pun merupakan sebuah keinginan juga. Maka, atas sikap Sinah yang dinilai tak jelas itu, banyak dari teman dekat lelakinya perlahan mulai mantap undur diri. Rata-rata dari mereka mulai mencari sebuah hubungan yang jelas dan terdefinisi. “Kalau memang tak punya rasa, mengapa selama ini selalu mesra?” ujar para lelaki yang pernah dekat dengan Sinah beralasan. “Absurd!” kata mereka lagi. Tapi Sinah hanya tertawa. Dan tawanya sungguh membuat gemas banyak lelaki. Oh-oh Sinah! Betapa misteriusnya kamu.
* * *
Piston adalah lelaki yang sebetulnya tak jauh beda dengan para lelaki yang terhitung dekat dengan Sinah. Ia kerap bertelpon, pergi, jalan-jalan, dan bertandang ke rumah Sinah. Pada awalnya Sinah pun mengategorikan Piston seperti kebanyakan lelaki: mendekatinya dengan berbagai keinginan. Maka Sinah pun hanya tertawa-tawa atas Piston (tawa yang selalu membuat banyak lelaki mendadak gemas bukan alang kepalang!). Namun ternyata, Piston tak pernah sekalipun menyatakan cinta. Piston mesra dan penuh perhatian, namun terlampau dingin untuk urusan cinta. Suatu hal yang membuat Sinah mulai bertanya-tanya: “Apa yang dimaui Piston ini?”
Kalau Sinah mulai menyinggung-nyinggung masalah perasaan, atau bermaksud menjebaknya, Piston terlalu pintar untuk membelokkan arah pembicaraan. Kini, Sinahlah yang dibuat gemas oleh Piston. Bertahun-tahun Piston seperti itu. Dan bertahun-tahun pula Sinah tertegun-tegun dengan hubungan yang ditampilkan Piston. Meski selama tahuh-tahun itu pula, Sinah tetap jalan dengan Farid, Burma, juga Bahar.
Akhirnya Sinah menyerah. Ia merasa hubungan dengan Piston nampak absurd. Ia terjebak dengan sikap yang ia tempuh selama ini. Ingin ia tetap bertahan dengan konsep hubungan yang diyakininya itu. Tapi ia bertemu dengan orang yang persis melakukan hal yang serupa. Ia terjebak menghadapi Piston. Padahal ia mulai menunggu ungkapan perasaan dari Piston. Namun kata-kata seperti itu terlalu angkuh untuk meluncur dari bibir Piston. Dan yang terjadi justru sebaliknya: Sinah mulai mencari hubungan yang jelas dan terdefinisi. Sesuatu yang tak ia dapatkan dari Piston. Maka Piston hanya tertawa-tawa ketika tau Sinah mulai membuka hubungan dengan Sanga.
Sanga orangnya pintar, kalem, dan menyenangkan. Sanga menyatakan cintanya, dan berhasrat hendak mengawininya. Sinah terbata-bata, tanpa bermaksud menolak, karena ia mulai mencintai Sanga. “Inilah cintaku sesungguhnya!” yakin Sinah. Mereka pun mulai rapat dan masyuk. Mereka mulai bertelpon, pergi berdua, kencan, dan bergandengan tangan.
Ketika Sanga minta secuil dari pipi Sinah, Sinah terbata-bata, tapi tak bermaksud menolak, karena ia memang mencintai Sanga. Dalam hati Sinah berkata: “Inilah cintaku sesungguhnya!” Ketika Sanga mulai mengulum bibir Sinah, Sinah terperanjat, tapi tak bermaksud menghindar, karena ia memang menginginkan Sanga. Kembali ia berkata: “Inilah cintaku sesungguhnya!” Juga ketika Sanga mulai berani meraba Sinah, Sinah terpekik, tapi tak bermaksud menepis, karena ia memang membutuhkan Sanga. Lagi-lagi ia berkata: “Inilah cintaku sesungguhnya!” Maka ketika Sinah sadar bahwa ia sudah tak lagi berbusana, ia megap-megap, tanpa bermaksud menyinggung perasaan Sanga, karena ia pun mulai membayangkan tubuh polos Sanga. Namun kali ini ia berkata, “Tidak untuk yang satu ini. Cium dan rabalah seluruh tubuhku sepuas hatimu. Tapi tidak yang satu ini, hingga kita menikah nanti.” pintanya sungguh-sungguh. “Cium, cium, cium, dan remaslah seluruh tubuhku!” sambungnya terengah-engah.
* * *
Suatu hari Piston bertemu dengan Sinah. Ia bertanya kabar Sanga. Sinah terkesiap mendengar pertanyaan itu. Tetapi dengan santun Sinah berkata, “Inilah cintaku sesungguhnya. Doakan kami untuk selalu dalam keadaan cinta, ya, Piston.” Piston hanya tersenyum kecut.
“Bagaimana dengan kamu Piston?”
“Aku? Ada apa denganku? Aku bahagia dengan keadaanku. Dari semua proses yang kualami, kalau boleh memilih, aku tak ‘kan menikah.”
“Tidak akan menikah?” Sinah terbelalak. “Bagaimana mungkin, Piston? Kalau kau mengatakan proses, proses apa yang sudah kau jalani? Bergerak dari mana?”
“Tentu kau ‘kan bertanya seperti itu. Karena sesungguhnya kau tak begitu mengenal aku. Memang salahku tak mengijinkan kau mengenal aku lebih jauh. Sebutkan seluruh konsep hubungan yang ada di atas bumi ini, Sinah. Semua sudah kualami. Semua! Pada akhirnya, inilah yang kupilih.”
“Kau platonik, Piston!1″
“Jangan lupa, Sinah, aku bahagia!”
“Ah, Piston, andai saja…”
“Dunia telah cukup dengan perandaian, Sinah.”
“Aku sadar, sesuatu tak akan pernah abadi tanpa adanya kepastian. Aku belajar dari kesalahan berpikir.”
“Kamu membangun dunia sendiri bagi dirimu, Sinah.”
“Cinta suatu tanda tanya yang tiada habis untuk dipertanyakan. Perputaran cinta bukan milik sendiri. Cinta terbangun dari luar yang memantul ke dalam diri kita. Saling memberikan pandangan dengan kekuatan yang sama besarnya dalam kehidupan. Menata dan mengolahnya menjadi konsep bersama. Kejelasan akan terlihat di dalamnya. Melebur semua konsep aku dan kamu menjadi konsep kita seutuhnya.”
“Hei-hei… apa yang kudengar ini dari mulut seorang perempuan bernama Sinah?” Piston tak percaya dengan penuturan Sinah kali ini.
“Ya Piston. Hidup tak akan habis hanya untuk mempertanyakan suatu hubungan. Kenapa berhenti sampai di sini? Menyerahkah kamu selagi kehidupan panjang masih akan mengiringi hari-harimu?”
“Aku sudah selesai, Sinah. Hari-hariku tentang kehidupan mungkin masih begitu panjang. Tapi hari-hariku tentang sebuah hubungan sudah selesai. Sudah habis!”
“Ya. Tapi sebuah pilihan itu bergerak tak statis,”
“Sudahlah, aku senang jika dapat melihatmu bahagia!”
“Kau selalu mengucapkan kalimat itu!” mata Sinah mulai digerimisi air mata. “Kali ini kebahagiaan memang sedang menyelimuti diriku. Perputaran yang cepat membawa kami untuk membawa ke hubungan yang lebih jauh. Doakan, semoga rasa ini tidak pernah hilang, dan tidak membuaikan hingga membuat kami lupa memperbaiki diri. Doa darimu berarti buat aku dan buat kami.” Piston menahan miris hatinya saat mendengar kata ‘kami’ disebut Sinah.
“Terima kasih untuk semua, Piston. Kamu akan tetap kukenang. Kamu punya ruang tersendiri.” kali ini Sinah tak kuasa menahan hujan air mata. Ia berlari. Dan terus berlari.
“Tak perlu sentimentil, Sinah.” tapi Sinah sudah tak sempat mendengar apa-apa lagi.
Piston memandangi punggung Sinah. Dalam hati ia membatin, perempuan itu sublim2. Apa sebetulnya yang diinginkan manusia di atas bumi ini? Bukankah keinginan adalah sumber penderitaan3?
Cepat-cepat ia beranjak dari tempat itu. Mencari rental komputer, lantas mulai mengetik dengan liar. Dan ia mulai tulisan itu dengan kalimat: Perempuan Itu Sublim.
* * *
Rumah Malka, Bandung, 29 April 2003.
1.Cinta kasih tanpa nafsu. Sepenuhnya spiritual, bebas dari nafsu berahi. Hanya dalam tataran ide, tanpa mempersoalkan objek.
2.Menampakkan keindahan dalam bentuknya yang tertinggi; amat indah; mulia; utama.
3.Dari lagu Sepeti Matahari, dinyanyikan oleh Iwan Fals, diambil dari Album Suara Hati.


well,, i see a part of me in this story…
aku pun sinah,,
namun masa itu telah lewat ternyata……….
great joB!!