Cerpen Daniel Mahendra

Siang hari, di suatu kelas saat pelajaran Kebangsaan:

“Jadi, ingat ya, kalian musti tau bedanya demokrasi dan tidak demokrasi!” ujar pak Firman sang guru Kebangsaan.

“Maaf, Pak,” potong Ira dari bangku tengah, “tapi tidak seperti itu yang saya baca tentang demokrasi pada Revolusi Perancis!”

“Apa maksud kamu?” seru pak Firman terkesiap.

“Rasanya di negeri ini kita masih belajar apa itu arti demokrasi. Belum memasuki alam demokrasi itu sendiri. Saya melihatnya masih totaliter, Pak!” tambah Ira tanpa sungkan.

“Ira, kamu selalu membandingkan dengan sumber lain. Sudahlah! Ikuti saja sumber dari buku yang selama ini kita pakai.” sergah pak Firman cepat.

“Lho, kalau kita memang mau belajar demokrasi, ya kita harus menerima perbedaan pendapat orang lain ‘kan, Pak?”

“Baik-baik. Tapi waktu habis. Pelajari kembali apa yang sudah kita bicarakan tadi. Sampai bertemu minggu depan, anak-anak. Selamat siang!”

“Siaaaaanggg!!” jawab seluruh siswa kompak.

Pak Firman bergegas keluar kelas, sembari matanya melirik tajam ke arah Ira. Ira hanya terdiam tanpa membalas ucapan ‘selamat siang’ pak Firman. Dalam hati ia mengumpat-umpat: merasa tidak puas karena tidak diberi kesempatan berdialog.

Ini sudah sering terjadi. Ira memang dikenal tak mau begitu saja menerima pelajaran di kelas, terutama pelajaran Kebangsaan, jika ia menemukan sumber lain yang ternyata bertolak belakang dengan yang diajarkan guru di kelas.

Anak-anak lain sudah berhamburan keluar kelas. Ira masih memasukan buku-bukunya yang berantakan di meja dengan kasar ke dalam ransel hitamnya yang berhiaskan pin Che Guevara.

“Masih belum puas berdebat, eh?” aku menghampiri bangkunya.

So what?” balasnya ketus.

“Ok-ok. Tapi sore ini nggak ada acara ‘kan?” tanyaku hati-hati.

“Biasa!”

“Maksud kamu biasa? Setiap kutanya kemana, jawabnya juga selalu biasa,”

“Ya memang ke tempat biasa!”

Kalau sudah seperti itu aku tak selera untuk mendebatnya lebih jauh. Ira pacarku memang bukanlah gadis biasa seperti kebanyakan wanita. Setengah tahun aku pacari dia, dan setengah tahun pula aku mengenal bagaimana ‘kejantanan’ seorang wanita di hadapan pria.

Ira bukan tipikal kolokan apalagi pedandan. Ia tidak masuk dalam golongan gadis-gadis SMU yang gemar mempertontonkan lekukan dada atau ketatnya paha. Bukan juga pengumbar pusar dan bibir merona. Celana jeans adalah kegemarannya. Rambut sebahunya selalu menemaninya pada diskusi-diskusi serius entah apa dan dimana. Ransel hitamnya penuh dengan buku-buku bahkan stensilan download internet tentang artikel politik terkini. Ira memang terlalu serius untuk gadis seusianya. Betul-betul tidak gaul sama sekali! Tapi Ira pacarku nampak cantik mengundang. Itulah salah satu alasan mengapa aku memacarinya. Namun satu hal, Ira pacarku: jarang tertawa!!

Di Sabtu siang sepulang sekolah aku mencoba mengajaknya journey ke daerah. Ingin memotret dan menikmati udara pinggiran kota sembari berburu capung atau kodok swike. “Ayolah, Dan, jangan minggu ini. Aku ada diskusi lagi sore ini!”

“Hampir sebulan kamu kayak gini, Ir!” aku mengejar jalannya.

“Aduh, bukan aku nggak mau, Dan, ya karena waktunya aja yang nggak tepat.”

Week-end seperti ini pun kamu masih berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswa itu?”

“O Please, ini bukan masalah mahasiswa atau bukan,” ujarnya sambil tetap terus berjalan. “aku harus punya perbandingan dengan apa yang kudapat di sekolah.”

“Untuk apa perbandingan-perbandingan itu?”

“Biar aku tau, yang mana yang bisa bikin aku ngerti.”

“Kalau kamu udah ngerti?”

“Ya aku nggak terus-terusan dibodohi sama keadaan.”

“Kamu mulai sinis dengan keadaan sekitar!” keluhku pelan.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Mata tajamnya meneliti wajahku. Ucapnya tegas: “Dan, kita sepakat untuk menghargai dunia kita masing-masing. Aku dengan klub diskusiku, dan kamu dengan fotografimu. Kita pacaran bukan untuk bersaing. Karena paling tidak kita saling membutuhkan. Dan aku tetap pacarmu!” ia melanjutkan langkahnya tergesa.

Oh-oh-oh, apa yang dimaui gadisku ini?

* * *

Di suatu pagi yang tak begitu cerah mataku terbelalak demi melihat foto pada halaman pertama koran yang baru kupegang. Bagaimana tak kaget bila dalam foto itu kulihat ada gadisku di antara barisan demonstran yang sedang melakukan aksi. Entah aksi apa. Cepat- cepat aku melesat ke sekolah.

Sesampai di sekolah, suasana kelas justru sedang ramai. Anak-anak membicarakan foto Ira di harian pagi itu. Dari kasak-kusuk yang kudengar, Ira sudah dipanggil ke ruang guru. Oh-oh, apa yang terjadi dengan gadisku?

Sampai dengan istirahat pertama Ira belum juga muncul di kelas. Aku tak tau sedang berada dimana dia. Gosip dari anak-anak mengatakan: Ira sedang disidang di ruang guru. Yang tinggal hanya ransel hitam Ira yang teronggok diam di bangku tempat biasa ia duduk.

“Deuuu…. Kesepian nih!!” ledek anak-anak melihat aku duduk di bangku Ira. Aku hanya tersenyum kecut.

Hingga bel pulang berdentang, Ira muncul di kelas. Suasana sudah sepi saat itu. Hanya ada aku yang sedang menunggui ransel hitamnya. Buru-buru aku menghampirinya.

“Gimana, Ir?” tanyaku khawatir.

“Ya nggak gimana-gimana!” jawabnya singkat.

“Gara-gara foto itu ya? Diapain’ kamu?”

“Biasa!”

“Biasa?!” tanyaku keheranan.

“Ya biasa. Selamanya kekuasaan akan terusik jika kepentingannya terganggu.” ia menghampiri ransel hitamnya. “Apalagi mereka punya siswa seperti aku!”

“Aduh, Ir, kamu sih macam-macam! Kamu ikut demo apa sih?”

Matanya tajam menatap mataku. Berkata ia dengan tegas: “Ya, mungkin aku macam-macam. Nggak pa-pa. Tapi nanti, di suatu saat, orang akan menyadari bahwa yang kulakukan ternyata betul menurut mereka. Dan mereka baru sadar, bahwa sekarang ini ada yang salah dengan apa yang mereka anggap benar!”

Oh-oh-oh, Ira pacarku, apa yang dimaui gadisku ini?

* * *

Rumah Malka Bandung, 3 Mei 2003.