Kenalkan, Namaku Sukab!
Oleh Daniel Mahendra
“Namamu Sukab?”
“Ya!”
“Ah, yang benar saja?”
“Betul. Namaku Sukab!”
“Kau tergila-gila pada Seno Gumira, Bung!”
“Tidak, justru akulah yang menciptakan tokoh Seno.”
“Kau? Menciptakan tokoh Seno? Kau sudah gila, Bung!”
“Tidak, memang akulah yang menciptakan tokoh Seno.”
“Bagaimana mungkin?! Kalau kau memang yang menciptakan tokoh Seno, mengapa pula kau ciptakan seorang pengarang yang selalu merawikan cerita yang berdarah-darah?”
“Bukan begitu, aku hanya menciptakan tokohnya, setelah menjadi, kubebaskan ia bakal menjadi antagonis atau protagonis. Itu terserah dia. Lagipula, Seno pun merawikan cerita-cerita yang romantis, memabukkan!”
“Kau orang gila yang nyasar ke dunia nyata!”
“Jangan lupa, aku berasal dari dunia tanpa batas.”
“Dunia tanpa batas?”
“Ya, dunia dimana kau bisa mencipta dan menjadi apa yang kau suka.”
“Hah, bagaimana bisa?”
“Sungguh, kalau tak percaya, coba saja!”
“Baik. Kalau begitu aku ingin jadi kau!”
“Tidak bisa begitu. Semua yang kulakukan bisa kau pelajari. Tapi bukan berarti kau bisa menjadi orang lain. Yang kau butuhkan hanyalah sebuah keberanian. Ingat: keberanian! Sisanya setumpuk software yang bisa dengan mudah kau lahap dalam sekejap.”
“Kursus bung terlampau bertele!”
“Itu terserah!”
“Baik, ajarkan aku menjadi Shakespere, biar kubuat sebuah Hamlet yang dahsyat!”
“Praktis tidak seperti itu. Menjadilah diri sendiri, lalu ciptalah beribu-ribu candi sebagai dirimu pribadi. Mau kau dikenal orang sebagai orang lain?”
“Huh! Ini sungguh bertele!”
“Jangan mudah menyerah. Sungguh, jadilah dirimu sendiri. Jangan ikut-ikut orang lain. Kalau kau mampu menyodorkan orsinilitas, orang akan lebih menghargai dirimu. Percayalah!”
“Aku harus menjadi siapa?”
“Jadilah dirimu sendiri!”
“Baik-baik! Aku akan menciptakan Kilat!”
“Kilat?”
“Ya, kilat! Dengan mencipta sebuah Kilat, aku akan menghadirkan seorang tokoh yang menggelegar dan bercahaya!”
“Emh… terserahlah! Yang jelas hanya satu yang kau butuhkan,”
“Apa itu?”
“Kau pelupa rupanya: keberanian! Sisanya hanya software pendukung. Kau siap?”
“Tentu saja.”
“Baiklah. Aku akan memasukkan program Kilat. Termasuk di dalamnya file-file suara menggelegar dan bercahaya. Teknisnya bisa kau pelajari. Hanya saja kau harus keras dalam berlatih. Tak ada makan siang gratis, Bung! Namun jangan khawatir, kusediakan perangkat uninstall, siapa tau kau bakal berubah pikiran. Oke?”
“Yup!”
Loading…
Sesosok Kilat tampil dengan gagahnya. Tak ada yang tau mengapa ia memilih Indonesia. Di kota Bandung lagi. Bahkan ia kuliah di Unisba (Entah tak lolos ujian masuk PTN atau memang bodoh! Entahlah!). Kilat masuk kelas Jurnalistik. Padahal ia tak begitu ingin jadi wartawan. Alasannya sederhana: “Aku senang avonturir!” gara-garanya waktu SMA (istilah SMU belum lagi digunakan) getol kegiatan Pramuka.
Kini Kilat mendaftar sebagai anggota pers mahasiswa. Ia sudah berani menenteng kamera dan menjadi reporter. Sudah banyak orang ia wawancarai. Namun entah mengapa: ia lebih suka menginterpiu seniman dan demonstran. Maka sudah sejak tulisan pertamanya muncul, Kilat menarik banyak perhatian. Terutama perempuan! (Huh!).
Mungkin karena tulisan Kilat nampak tajam, nakal juga menggelitik, selain sosok Kilat yang memang ramah, jujur, penolong, juga menyenangkan. Banyak perempuan menyukainya. Tapi Kilat hanya tertawa-tawa saja tak mengomentari. Kawan lelaki senang berdekat dengannya. Karena Kilat tak suka pilih-pilih dalam pergaulan. Dari mulai satpam kampus, tukang koran, tukang parkir, sampai cleaning service akrab dengannya. Hanya tukang tukang nasi goreng, tukang teh botol, dan tukang rokok saja yang selalu ketiban hutang Kilat yang menggunung. Tapi mereka senang-senang saja.
Satu hal yang sulit dilupakan orang adalah jika Kilat sudah berkelakar: ia bisa menjadi manusia paling tolol setolol-tololnya manusia. “Aku hanya jujur dalam besikap!” selorohnya di suatu sore depan tangga masjid (Itu radius Kilat paling dekat dengan mesjid: tangga!). Begitulah Kilat, ia mulai menapaki karirnya di dunia jurnalis dan bergaul dengan banyak seniman.
Maka di suatu hari yang terik, sesosok lelaki nampak menaiki tembok gerbang kampus. Ia berdiri mematung di atasnya. Orang-orang mulai bertanya, apa gerangan yang hendak dilakukan lelaki gondrong itu? Ai… ai… Kilat membaca sajak rupanya. Orang-orang pun berkerumun. Satpam kampus cukup bijaksana untuk tidak serta-merta mengambil tindakan sok wibawa. Kilat mulai berteriak dengan suaranya yang menggelegar. Menyambar-nyambar. Bahkan menyengat orang-orang yang menontonnya. Cahaya yang mengerjap menyilaukan terpantul pada matanya yang tajam. Kilat betul-betul menggelegar dan menyilaukan. Orang-orang bertepuk tangan untuk aksinya. Mereka kagum dengan kejujuran dan keberanian Kilat. “Orsinil!” puji orang-orang. “Penuh keberanian!” atau “Cakep juga ya!” (yang terakhir ini terbit dari bibir-bibir bergincu).
Maka jika di suatu hari yang terik ada seorang lelaki gondrong berteriak-teriak menggelegar di atas tembok gerbang kampus, orang-orang sudah mahfum dan tau betul siapa gerangan dia. Ya, Kilat memang lain dari pada yang lain. Suatu kali pernah juga ia membaca sajak di dalam angkot yang sedang penuh sesak. Sableng memang! Atau membaca sajak di atas tugu air mancur di simpang lima jalan Jalan Asia-Afrika. Atau berjalan mundur di garis pemisah jalan raya yang ramai. Ya, Kilat memang fenomenal!
Benar pula kata Sukab: kalau kau mampu menyodorkan orsinilitas, orang akan lebih menghargai dirimu. Karena pernah juga terjadi beberapa kali: seorang lelaki kurus, tak gondrong, malah bahkan tampangnya nampak selalu dalam keadaan mabuk (mungkin gemar minum plethok!), meniru-niru Kilat membaca sajak di atas tembok gerbang kampus. Saat ia berteriak-teriak membaca sajak, orang-orang malah mencibirnya bahkan menyuruhnya untuk turun saja. Tak ada setepuk tangan secuilpun untuk si pengekor tersebut. Ya, soal orsinilitas, Kilat memang berdiri di barisan terdepan. Tapi Kilat memang tak pernah kenal dengan Sukab. Ia hanya mencoba menjadi dirinya sendiri. Mungkin itulah mengapa banyak orang menyukainya (terutama perempuan!).
Quit…
“Bagaimana?”
“Betul juga! Mengagumkan!!”
“Tetap hanya satu yang dibutuhkan: keberanian! Sisanya hanya berlatih dan berlatih. Jangan pernah percaya dengan bakat!”
“Mengapa?”
“Bakat saja tak cukup. Sebagus apapun sebuah ide tulisan, tanpa pernah mencoba menuangkannya ke dalam sebuah tulisan, ia hanya berhenti pada tataran ide. Keberanian untuk memulainya dan terus memulainya akan menimbulkan rentetan ide yang bahkan tak pernah kita kira sama sekali. Itu hanya perandaian. Itu berlaku untuk segala aspek hidupmu.”
“Ya-ya, kini aku mengerti, Bung!”
“Begitulah. Jadi, sudah percaya kalau namaku Sukab?”
“Ha! Aku akan mempertemukan Kilat dan Seno. Bagaimana?”
“Jangan kau atur hidup orang lain. Biarkan anak-anak rohanimu menjadi dan mencipta sekehendak mereka. Mereka bukan alter ego-mu. Biarkanlah!”
“Tapi, he, sebentar, kenapa kita bisa bertemu?! Siapa yang mempertemukan kita? Mengapa kau harus mengajariku, dan mengapa pula aku seolah jadi muridmu?! Ha?! Ulah siapa ini?!”
“Oh, ini. Ini hanya cerita Daniel Mahendra. Maafkan aku, Bung, aku pun hasil ciptaannya!”
“Kuerbau!! Guobluok!! Kurang ajar orang itu!! Jadi ini pun sekadar cerita dia?”
“Ya!”
“Awas orang itu!! Di mana dia?!!”
“Dia sudah pergi. Mengejar senja yang terakhir. Entah kemana. Karena menurutnya, esok-esok sudah tak bakal ada senja lagi. Percuma mencarinya”
“Kurang ajaaaaaar…….!!!”
* * *
Rumah Malka, 19 Agustus 2003
05.47 pagi.


Cukup menarik, Bung! Dilihat dari tanggal penulisannya, aku masih di Bandung kala itu. Kenapa tak kau kasi lihat ke aku waktu itu?
Kutunggu responmu, Sobat!