Archive for December, 2004

Majikan Atas Diri Sendiri (2)

Ketika Memutuskan Hidup Independen Secara Total

(Sebuah Catatan Omong Kosong)

Di bulan Maret 2004 aku masuk rumah sakit. Jenis sakitnya sendiri aku kurang jelas. Katanya sih infeksi pencernaan. Makanku memang tak pernah tertib. Baru beranjak makan kalau teringat saja.

Saat berbaring di rumah sakit dan diinfus, banyak sekali waktu yang tersaji. Aku jadi banyak berpikir: mau apa sebetulnya? Artinya, aku memang bekerja, namun apa sebetulnya yang aku kerjakan… Bagaimana dengan impian yang selama ini aku miliki… Continue Reading »

Pergi Ke Timur (1)

Secuil Catatan Perjalanan

Kamis, 9 Desember 2004

 

Kereta api ekspres malam Turangga mulai membelah malam. Menyusuri bentangan rel jalur selatan Pulau Jawa yang dingin kesepian. Aku duduk di sebelah ibu dengan postur tubuh yang lumayan ‘ndut’, yang kerjanya hanya tidur dan tidur belaka. Dua buah dus besar berisi 300 eksemplar buku Melacur terpaksa kuletakkan di depan kakiku. Karena sudah tak ada tempat di bagian rak atas.

Kucoba pergi tidur, namun sulit sekali. Aku membolak-balik sepucuk buku Melacur, karya sahabatku, Ella, yang kan kutemui di Surabaya esok harinya. Lagi-lagi sulit untuk tidur. Continue Reading »

Pergi Ke Timur (4)

Secuil Catatan Perjalanan

Oleh Daniel Mahendra

 

Di saat orang-orang yang merubung sudah mulai membuyar, ada seorang lelaki tua, bersama seorang perempuan setengah baya, dengan tertatih-tatih mendatangiku. Aku menyambutnya. Senang sekali melihat ia lagi. Aku menjabat tangannya sebagai tanda kesantunan. Tiba-tiba beliau malah memelukku.

Continue Reading »

Pergi Ke Timur 5

(Habis Bagian Pertama)

Secuil Catatan Perjalanan

Oleh Daniel Mahendra

“Ni, kamu ikut aku ya, ke DKS…” rajuknya.

Aku hanya tersenyum, “Memed?”

Ella menoleh Memed, “Med, biar Daniel ikut aku, ya…”

Memed tersenyum tak bisa bicara.

Continue Reading »

Pergi Ke Timur (2)

Sucuil Catatan Perjalanan

Seturun dari kereta (lebih brengseknya, gerbong 2 nyaris mendekati lokomotif, otomatis letak berhentinya jauh di ujung stasiun). Jelas tidak mungkin aku membawa semua barangku ke bagian tengah stasiun. Aku kontak kawan-kawanku. Seorang muncul, Memed namanya. Menyambutku. Memed ini kawan SMA. Sekelas di kelas satu. Usia bersahabatanku dengannya mendekati tempo 14 tahun lamanya. Sebuah kuantitas sekaligus kualitas yang kubanggakan keberadaannya.

Aku memang tak punya banyak sahabat. Tapi kalau punya, aku memeliharanya dengan matian-matian. Maka memang tak banyak yang seperti itu. Ada lagi seorang sahabat yang usia pertemanan kami sudah menginjak tempo 24 tahun lamanya. Namanya Edwin Darmawan. Dialah orang yang pertama kali duduk denganku di bangku kelas 1 SD. Tapi kami masih berkontak begitu erat hingga kini. Sampai saat ini, aku dan Edwin sama-sama belum menikah. Beruntunglah, karena ternyata masih ada orang yang berpikiran sehat untuk tidak mengisi hidup ini dengan melulu “berbiak” seperti kebanyakan orang. Hahaha! Continue Reading »

Pergi Ke Timur (3)

Secuil Catatan Perjalanan

Bisa dikatakan, aku nyaris tak bisa lepas dari kipas angin. Begitu pun di mobil, kalau Memed sudah mulai mematikan AC dan membuka kaca jendela, aku pasti sontak mengumpat-umpat. Meski pernah tinggal di Jawa Timur, aku tetap saja merasa kepanasan serta gerah. Gila, pikirku: kenapa ada orang mau tinggal di bumi sepanas Surabaya ini!

Di rumah Memed aku disuguhi segelas sirup Marjan yang dingin menyegarkan. Sehabis mandi, kami bersantap siang. Lengkap dengan Evi, istri Memed. Siang itu kugunakan untuk istirahat sejenak. Meski aku tak menginginkan. Tapi karena ada waktu, aku pergunakan juga. Continue Reading »