Pergi Ke Timur (2)
Sucuil Catatan Perjalanan
Seturun dari kereta (lebih brengseknya, gerbong 2 nyaris mendekati lokomotif, otomatis letak berhentinya jauh di ujung stasiun). Jelas tidak mungkin aku membawa semua barangku ke bagian tengah stasiun. Aku kontak kawan-kawanku. Seorang muncul, Memed namanya. Menyambutku. Memed ini kawan SMA. Sekelas di kelas satu. Usia bersahabatanku dengannya mendekati tempo 14 tahun lamanya. Sebuah kuantitas sekaligus kualitas yang kubanggakan keberadaannya.
Aku memang tak punya banyak sahabat. Tapi kalau punya, aku memeliharanya dengan matian-matian. Maka memang tak banyak yang seperti itu. Ada lagi seorang sahabat yang usia pertemanan kami sudah menginjak tempo 24 tahun lamanya. Namanya Edwin Darmawan. Dialah orang yang pertama kali duduk denganku di bangku kelas 1 SD. Tapi kami masih berkontak begitu erat hingga kini. Sampai saat ini, aku dan Edwin sama-sama belum menikah. Beruntunglah, karena ternyata masih ada orang yang berpikiran sehat untuk tidak mengisi hidup ini dengan melulu “berbiak” seperti kebanyakan orang. Hahaha!
Sementara Memed sendiri sudah beranak satu. Bayangkan, Puput, anak perempuannya, sudah duduk di kelas satu SD. Sableng! Sementara aku, menikah saja belum. Ah, beruntungnya kau Daniel, bisikku dalam hati (sembari ngakak tentu saja!).
Kami berjabatan tangan. Berpelukan. Memed mengambil alih satu dusku. Berjalan menyusuri koridor stasiun. Tiba-tiba, dari kejauhan tampak seorang gadis berlari-lari dengan dandanan tomboy-nya yang khas. Dengan postur tubuhnya yang tinggi besar. Dengan gelang, kalung, dan cincin terselip di mana-mana. Ya, sahabatku satu lagi, yang kubanggakan pula keberadaannya: Gusti Ayu Rella Mart Diana Dewi atau Ella. Di SMA Ella adalah adik kelasku. Tentu usia pertemanan kami tak jauh beda dengan Memed, sekitar 13 tahunan lah…
Kini ia tinggal sendiri di Surabaya. Orangtuanya tinggal di Jember. Tapi setelah ibunya meninggal dan dilarung di laut selatan, bapaknya pindah ke Tabanan Bali. Praktis setelah lulus kuliah, Ella hanya menulis, melukis, mengajar vokal, serta menyanyi di beberapa hotel, café serta restoran di Surabaya untuk bertahan hidup.
“Pura-pura nggak liat, Med. Jalan aja terus!” bisikku pada Memed.
Tapi Ella menghadang kami. Ia tau kami kerjai. Aku pun mengumpat-umpat atas keterlambatannya. Tapi dengan manja ia menjabat tanganku. Menyentuhkan kedua pipinya di pipiku. Lengkap dengan cengirannya yang menjengkelkan. Jadinya 2 dusku dibawa Memed dan Ella. Aku lenggang kangkung…
“Yang lain masih sibuk mendekor ruangan!” ujar Ella.
Hmm… senang sekali mendengarnya. Ia mau bersibuk-sibuk menyiapkan launching di Surabaya, bahkan Denpasar, Malang serta Jember nanti.
Kami keluar pintu masuk. Menaruh dua dus keparat itu di mobil Memed di area parkir stasiun Gubeng.
“Aman kan?” tanyaku.
“Siapa mau ngambil buku!” ujar Memed.
“Woi… ada berapa juta di dalamnya dalam bentuk buku! Ngawur!!” teriakku.Memed dan Ella hanya nyengir.
“Kita ngopi dulu, ya…!” ajak Ella.Jadinya kita nongkrong di pojokan warung Dunkin Donuts Stasiun Gubeng. Melepas lelah sejenak. Memed dan Ella mencomot dua donat dalam ukuran besar. Sementara aku hanya menyeruput kopi, karena tak begitu lapar.
Aku sudah batang pertama. Ella sudah menyulut sebatang Dji Sam Soe. Memed tidak merokok. Kita berbicang-bicang sejenak.
“Kamu nanti kupesankan kamar di Wisma Pemuda, dekat Dewan Kesenian Surabaya, Ni!” terang Ella. “Sama pak Halim, pembicara dari Solo, dia di sana juga.” lanjutnya.
Ella memang selalu memanggilku dengan sebutan ‘Ni’. Kependekan dari ‘Hani’, yang asal katanya: honey.
Memed melirikku. Ia sudah wanti-wanti: istrinya sudah menyiapkan kamar dan masakan bagi kedatanganku.
“Di wisma aja…!” serobot Ella.
“Biar Daniel di rumahku, La!” Memed bertahan.
“Nggak bisa!! Dia ini jadi pembicaraku! Aku pesankan dia kamar di Wisma Pemuda!”
“Apa kata istriku nanti, La… Dia udah nyiapin…” Memed masih bertahan.Hahaha! Aku biarkan kedua sahabatku bersitegang memperebutkan diriku. Senang sekali mendengarnya. Ada secuil rasa terharu saat itu. Kalau tak cepat-cepat menguasai perasaan, barangkali ada sebutir air yang tanpa permisi terjun dari mataku. Mereka sahabat-sabahat sejati, bisikku dalam hati. Ternyata keberadaanku memiliki tempat tersendiri bagi mereka, -sesuatu yang jarang aku dapatkan pada diri orang lain. Aku sungguh bangga punya mereka.
“Lho, aku kan tidur di kamar kost-mu, La!” godaku tiba-tiba.
“Ah iya… Di sana malah ada Yudho, ada Catur, ada Mas Gathuk. Pokoknya banyak kamar!” akur Ella.
“Ya sama aja!” cegah Memed.Aku masih saja ngakak. “Ya udah gini aja,” potongku. “Masalah nanti malam aku di mana, gampang itu. Yang penting sekarang kita ke tempat acara dulu. Bawa buku, ngecek persiapan. Pokoknya hari ini fokus ke acara malam. Gampang lah soal tidurku…”
Memed dan Ella berpandangan. Aku nyengir saja. Akhirnya disepakati: kita bertemu di Toko Buku Toga Mas, tempat acara diselenggarakan. Aku dan Memed dengan mobil, sementara Ella memang bawa motor (vespanya yang bernama ‘scoopy’ sedang masuk bengkel).
Di Toga Mas persiapan tempat sudah nyaris kelar malah. Bertemu lagi dengan kawan-kawan lain. Yang pasti gondrong-gondrong serta dekil-dekil. Hehe! Ada kawan-kawan dari DKS (Dewan Kesenian Surabaya), Teater Api, dan kawan-kawan seniman lainnya. Mereka sedang manata lukisan-lukisan Ella yang hendak dipamerkan.
Ngopi lagi, menyulut rokok lagi. Ella sendiri lari ke sana kemari. Mengecek persiapan, telpon sana-sini, dan memboyong ratusan buku Melacur dengan troli, ditemani petugas toko. Tak lupa di jarinya terselip sebatang Dji Sam Soe. Cewek satu ini merokoknya memang kuat.
Menjelang siang hari, tampaknya ruangan nyaris kelar. Panggung dan ruangan sudah di-setting. Lukisan Ella bertebaran di mana-mana. Jumlahnya tentu saja 26. Ella ini memang anak yang gila angka 26. 26 dalam tangga nada, berarti nada “Re” dan nada “La”. Tak aneh bila namanya: “Rella”. Ia memang lahir tanggal 26. Itu mengapa ia sangat menyukai angka 26.
Poster sudah tersebar di sudut-sudut ruangan. Logo Malka ada di mana-mana. Hari itu ada wawancara Ella yang dimuat di Jawa Pos, harian terbesar di Indonesia Timur. Dalam urusan pertemanan, Ella memang punya jaringan pertemanan yang cukup kuat di Surabaya. Dari kalangan seniman, kantung kebudayaan, sampai pers. Tak aneh bila ia mau melakukan semua hal yang berhubungan dengan acara malam ini (sebelum aku pulang ke Bandung, aku malah menemaninya saat ia diwawancara Kompas dan Matra).
Menjelang Jum’atan, aku duduk bertiga lagi dengan Memed dan Ella.
“Gini, La,” selaku tiba-tiba. “Gimana kalau siang ini aku ke rumah Memed dulu. Dia pagi tadi udah nggak ngantor nih… Katanya mau Jum’atan sih… Padahal aku kan musafir!” selorohku.Wajah Ella sudah menunjukkan mimik memelas.
“N’tar dulu… Siang ini aku ke rumahnya, makan siang hidangan istrinya, dan sore aku ke sini lagi. Lagi pula kamu memang harus pulang ke kost juga kan? Sibuk sih sibuk, tapi, udah berapa hari kamu nggak mandi, heh?! Bau tau!!” Ella hanya nyengir.
“Gimana…” tanyaku.
“Tapi jangan malam-malam ke sininya ya… Aku gugup nih n’tar malem” ujarnya memelas.
“Gugup?! Hahaha!!” aku ngakak. “Ini kan bukan kali pertama kamu meluncurkan buku?” aku teringat saat ia roadshow dari kota-kota saat meluncurkan buku pertamanya. “Semoga nanti malam kamu dibantai orang-orang yang datang!” seruku galak.Akhirnya aku pun pergi bersama Memed ke rumahnya. Adzan Jum’atan sudah berteriak-teriak. Bahkan nyaris usai. Tiba-tiba aku menyela,
“Kamu gimana sih, Med?! Orang-orang pada Jum’atan, kamu malah enak-enakan di jalan. Cari mesjid kek…” godaku nyengir.
“Jancuk!! Gara-gara kamu! Jadi aja telat nih…”
“Hahaha! Aku kan musafir… Kalo’ kamu kan memang warga Surabaya!”
“Enaknya… Musafir dijadikan alasan!”Mobil pun terus melaju. Melawati jalan-jalan Surabaya yang sumpek serta menjengkelkan. Tapi tiba-tiba aku teringat seseorang. Dan aku menundukan kepala demi mengingatnya. Seseorang yang pernah tinggal di sini dan begitu bersemayam di hati. Seseorang itu bernama: Raden Mas Minke, tokoh fiktif dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer.
“Aku pingin ke Wonokromo, Med! Sudah itu ke Kranggan, Tulangan, terus ke…”
Memed mengumpat-umpat. Aku hanya ngakak. Dan sejoli karib itu pun sepakat tak Jum’atan. Sableng!
* * *
Bersambung ke Pergi Ke Timur (3)


Dear Daniel Mahendra,
saya dan teman2 merencanakan akan ke bandung dalam waktu dekat ini.
kami berencana menginap di wisma pemuda bandung.
apakah Daniel memiliki nomer kontak wisma pemuda?
kalau ada, bolehkan berbagi dengan kami?
Terimakasih