Pergi Ke Timur (3)
Secuil Catatan Perjalanan
Bisa dikatakan, aku nyaris tak bisa lepas dari kipas angin. Begitu pun di mobil, kalau Memed sudah mulai mematikan AC dan membuka kaca jendela, aku pasti sontak mengumpat-umpat. Meski pernah tinggal di Jawa Timur, aku tetap saja merasa kepanasan serta gerah. Gila, pikirku: kenapa ada orang mau tinggal di bumi sepanas Surabaya ini!
Di rumah Memed aku disuguhi segelas sirup Marjan yang dingin menyegarkan. Sehabis mandi, kami bersantap siang. Lengkap dengan Evi, istri Memed. Siang itu kugunakan untuk istirahat sejenak. Meski aku tak menginginkan. Tapi karena ada waktu, aku pergunakan juga.
Ella beberapa kali SMS: menanyakan keberadaanku. Memberitakan: ia gugup sekali menjelang malam. Memintaku untuk segera cepat ke sana. Haha! Setelah menulis catatan harian, aku dan Memed pun berangkat ke tempat tujuan.
Sesampai di sana, Toko Buku Toga Mas mulai tampak ramai. Musik berdentang-dentang. Ella tampak sibuk. Aku biarkan dia. Aku bergabung dengan kawan-kawannya. Lagi-lagi bertemu kawan-kawan lama. Seniman-seniman Surabaya. Kemudian Ella datang menyambutku. Menyuruh Memed duduk. Sementara ia sendiri sibuk memperkenalkan setiap tamu yang datang kepadaku.
Banyak sekali yang dapat kukenal. Aku menarik kesimpulan: jaringan pertemanan Ella luar biasa luas. Terutama kalangan seniman Surabaya. Aku terlibat diskusi dengan beberapa orang. Sangat mengasyikan! Ella pernah bilang: tinggal di Surabaya memang bikin gerah. Selain alamnya, orang-orangnya memiliki karakter keras. Namun, katanya, jalinan pertemanan di sini sangat kuat. Aku akui: sangat! Di sana aku seolah-olah dianggap kawan lama mereka. Padahal tak sedikit yang baru kenal. Dianggap termasuk bagian dari komunitas mereka. Itu yang luar biasa! Mereka begitu welcome dan sangat-sangat bersahabat. Untuk orang introvert seperti aku, hal itu begitu menyenangkan. Karena aku tidak memulai, tapi orang lain yang mendului membangun komunikasi (pada akhirnya aku memang banyak menjalin pertemanan yang terus berkomunikasi hingga kepulanganku ke Bandung).
Tiba-tiba Ella memperkenalkanku pada seseorang dengan kepala plontos. Tampangnya mirip tentara Jepang jaman pendudukan. Ini dia: Halim HD. Salah satu pembicara yang juga akan berdampingan denganku di panggung nanti. Aku bersalaman. Ini dia orang yang berseteru dengan Heri Latief, sahabatku di Nederland sana, batinku dalam hati. Selain basa-basi, aku mengobrol cukup erat dengannya di bagian belakang ruangan. Tiba-tiba norakku kumat: aku SMS Heri Latief ke Nederland. Memberitakan: aku sedang ngobrol dengan Halim HD. Aku tak ingat, di Amsterdam sedang pukul berapa. Sebleng!
Orang-orang mulai berdatangan. Ruangan makin bertambah ramai. Di meja depan tampak display buku Melacur ditata begitu apik. Berdampingan dengan buku Persinggahan, Selamat Datang di Pengadilan, serta Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Karya Sastra.
Tiba-tiba, “Kamu mbaca cerpen sebelum diskusi ya, Ni?” todong Ella.
“Hah?! Mendadak sekali!! Nggak mau! Tanpa persiapan dan latihan gini! Kenapa nggak bilang dari pagi sih?!” umpatku.
“Please… Satu cerpen aja…”
“Wong edhan!” umpatku lagi.Acara pun mulai. Catur Meita Sari, sang MC sudah naik ke panggung. Catur ini kukenal di friendster. Ia suka Pramoedya. Dan dia add account Pramoedya diselipi sebuah pertanyaan: “Apa Mas DM yang megang accout Pramoedya ini, DM temannya mbak Ella? Kalau iya, aku sudah mbaca buku Mas, Selamat Datang di Pengadilan…” tanyanya suatu hari. Aku bilang: ya! Ternyata ia kawan kampus Ella saat kuliah dulu. Gila! Begitu kecil dunia ini…
Orang demi orang berdatangan. Mulai bertambah ramai. Pers tak kalah ramai. Bahkan seniman Sawung Jabo pun nongol. Luar biasa sekali jaringan pertemanan Ella, pikirku.
Acara dimulai dengan pembacaan karya-karya Ella. Lantas Ella naik pentas bersama kelompok musiknya, menyanyikan tembang dengan judul “Melacur”, gubahannya sendiri. Suaranya menggelitik, musiknya akustik.
Saat Ella masih di pentas, tiba-tiba ada seseorang yang begitu kukenal wajahnya, namun aku lupa siapa dia. Ia menghampiriku. Ujarnya:
“Kamu pasti lupa sama aku! Pasti lupa aku, kamu!” dalam Jawa yang kental memberondong.
“Hah?! Iya-iya… Dari saat kamu masuk, aku udah liat, sangat kenal-sangat kenal, tapi siapa, lupa!” ujarku tak kalah memberondong, juga dalam Jawa. “Ayo sebutkan… sebutkan…”
“Lupa kamu ya?! Sialan!! Lupa kamu?!”
“Aduh, ayo sebutkan… Aku kenal sekali wajahmu!”
“Sialan!! Aku Komang! Nyoman! Kakaknya Ella!” serunya menang.
“Hah?! Komang…!!!” teriakku lantang. Aku menjabat tangannya. Kami berpelukan.
“Komang!!” ujarku lagi. “Udah kawin kamu?”Ia tertawa. “Ini calonku!” sebutnya sembari memperkenalkan calon istrinya. Manis! batinku dalam hati. Yang manis-manis selalu menarik perhatianku. Berbeda dengan yang cantik: cenderung membosankan.
“Udah berapa anakmu?” tanya Komang.
“Brengsek! Kok yang ditanya anak!” jawabku kecut. “Tanya sudah berapa karyaku, kek, atau apa… Aku belum menikah, Mang!”
“Belum menikah?!” Komang pun ngakak. Pertanyaan semacam itu selalu memburuku setiap bertemu dengan orang dari dunia “the past”. Brengsek! Begitu parah pola pikir serta paradigma orang terhadap: umur!Akhirnya, berdua kami ngobrol di pojokan. Cerita-cerita apa saja, seperti mengobati kerinduan.
Tiba-tiba namaku dipanggil ke atas panggung. Halim HD sudah beranjak dari duduknya. Ella sudah berjalan ke pentas. Moderator Luhur Kayungga sudah nangkring di panggung. Aku menyusul kemudian. (Moderator diskusi yang sedianya Agus Bing, Redaktur Majalah Gong, urung datang).
Singkat cerita, diskusi pun berlangsung. Pertanyaan dan jawaban saling susul menyusul. Lebih dari satu jam. Para undangan betul-betul dari berbagai kalangan. Dalam hati aku berpikir: sableng! Siapa sih aku ini? Orang nggak jelas asal-usulnya kok ditangkringkan di pentas sebagai pembicara di Surabaya. Sableng… sableng…
Diskusi pun usai. Kami turun pentas. Para undangan memberi ucapan pada Ella. Juga padaku dan pak Halim. Mereka responsif sekali. Banyak sekali yang menyalami aku. Aku sendiri heran dengan tabiat orang Surabaya ini. Akrab sekali mereka!
Ella naik pentas lagi. Kelompok musik ikut mengiringi. Melantun ia dengan tembang terbarunya, “Persinggahan”. Jadi, dua bukunya: Melacur dan Persinggahan digubahnya dalam bentuk lagu. Bahkan, semua cerpen dalam Melacur, ada lukisannya. Dahsyat! Dan malam itulah yang ia pamerkan di sudut-sudut ruangan. Pameran lukisan tunggalnya yang pertama.
Bersambung ke Pergi Ke Timur (4)

