Secuil Catatan Perjalanan

Oleh Daniel Mahendra

 

Di saat orang-orang yang merubung sudah mulai membuyar, ada seorang lelaki tua, bersama seorang perempuan setengah baya, dengan tertatih-tatih mendatangiku. Aku menyambutnya. Senang sekali melihat ia lagi. Aku menjabat tangannya sebagai tanda kesantunan. Tiba-tiba beliau malah memelukku.

“Pak Ketut!! Sehat Bapak?” ujarku gembira.

“Yah… beginilah.” jawabnya. Tanganku lama tak dilepaskan. Ia genggam terus seperti tak boleh dilepaskan. “Terima kasih ya, Daniel…” lanjutnya. Ia tampak bahagia sekali bertemu aku. Aku dapat merasakannya.Pak Ketut adalah ayah Ella. Kini ia tinggal di Tabanan setelah istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Meski beragama Hindu, pak Ketut sangat kerap mengenakan sarung dan peci. Aku suka ngakak kalau melihat itu.

Aku dan keluarga Ella memang sangat dekat. Aku dapat merasakan sekali arti dari hubungan persahabatan sesungguhnya. Seperti halnya aku dengan seluruh keluarga Memed. Almarhum kakakku sendiri kenal dengan Komang dan ibu Ella. Adik dan mamaku sendiri begitu kenal dengan Ella. Terlebih aku, sudah barang tentu sangat kenal dengan seluruh keluarganya. Tak heran jika Ella ke Bandung, jelas menginap di rumahku.

Perempuan setengah baya di samping pak Ketut ternyata ibu dari calon Komang. Tak berapa lama Komang pun datang bersama calon istrinya. Lupi, adik Ella pun turut bergabung. Jadinya kami membentuk lingkaran kecil di sudut ruangan. Seperti reuni keluarga.

“Saya harus pulang ke Bali malam ini, Daniel…” ujar pak Ketut.

“Malam ini?!” heranku terkejut.

“Ya, ada upacara agama hari Minggu pagi.”

“Kenapa tidak besok pagi saja, Pak? Kan bisa tidur di kost Ella malam ini?”

“Yah… harus pulang cepat memang…”Pak Ketut masih memeluk pundakku. Katanya kemudian, “Main ke Bali, Daniel, ya. Saya tunggu di sana…”

“Oh, iya Pak!” balasku.Kerumunan keluarga itu pun hendak beranjak. Mencari-cari Ella, putri mereka satu-satunya. Tampak Ella masih dikerubuti orang yang meminta tanda tangannya. Senang sekali aku melihat itu. Tapi karena pak Ketut mau pulang ke Bali malam ini, aku memanggilnya.
“Bapak mau pulang, La.” bisikku.

Ella menoleh. Berlari menghampiri pak Ketut. Memeluk dan mencium ayahnya, mencium Komang, juga Lupi. Keluarga pun berpamitan. Waktu mereka saling memeluk dan mencium, aku terenyuh dibuatnya. Aku membuang muka. Dalam hati aku membatin: indah sekali hubungan keluarga mereka. Aku melihat langit-langit…

“Jangan lupa ke Bali, Daniel…” seru pak Ketut.

Aku hanya menggangguk. Komang dan Lupi menyalami aku.

Orang-orang masih berubung Ella. Wartawan masih menunggu giliran wawancara. Aku terlibat pembicaraan dengan pak Halim HD, juga beberapa pekerja seni Surabaya. Kawan-kawan Ella tampak membereskan properti. Aku membantu sebisanya. Letih ngobrol-ngobrol, aku memilih merokok di sudut ruangan. Aku memperhatikan Ella dari kejauhan. Sahabatku ini makin bersinar saja. Ia sibuk menandatangani buku dan melayani wartawan.

Aku kagum padanya. Seorang pekerja keras! Umurnya sudah 28 tahun. Tapi seperti tak menggubris deretan angka yang terus merambat. Aku tersenyum sendiri.

Aku merasa senang malam ini. Dengan acara ini. Dengan suasananya. Juga dengan diriku sendiri. Dalam hati aku berkata: aku ingin memberi dan memberi pada orang lain. Aku akan selalu bertanya: apa yang bisa kuberikan pada orang lain, bukan apa yang bisa orang lain berikan padaku. Semoga aku tak keliru.

Malam makin merembet. Orang-orang sudah mulai berangsur pulang. Wajah Memed sudah tampak lelah dan bertanya padaku: apa sudah bisa pulang? Sahabatku Memed memang bukan dari kalangan pekerja seni. Aku bisa mengerti karena ia pekerja kantoran yang tak pernah bersentuhan dengan hal-hal seperti ini. Terlebih ada istri yang menunggu di rumah. Haha! Itulah repotnya beristri!

“Sebentar, Med…” aku meminta pengertiannya. “Aku bukan tamu di acara ini. Aku tak bisa pulang begitu saja.” lanjutku. Ia bisa memaklumi.

Ella masih melayani satu wartawan lagi dari Surabaya Post. Aku menggoda si wartawan. Setiap kali ia hendak menanyakan sesuatu pada Ella, aku mengajak Ella bicara.

“Aku pulang ya, La…” selaku tiba-tiba. Ella sontak menoleh.

“Jangan dulu, Ni…” ujarnya memelas. Si wartawan menunda pertanyaanya.

“Besok kita ketemu lagi kan…”

“Ni, please… Kamu ikut aku malam ini…”Memed tersenyum kecut mendengar itu.

Aku pun terdiam sambil mengulum senyum. Saat si wartawan mau bertanya lagi pada Ella, lagi-lagi aku mengajak Ella bicara,

“Sampai besok, La…” ujarku seolah beranjak pergi.

Ella pun menarik tanganku. Menahanku untuk tidak pergi. Si wartawan tampak jengkel. Hehe! Aku memang ingin menggoda si wartawan.

“Sebentar aja, Mas…” ujar si wartawan.

“Eh, iya-iya, Mbak… Silahkan…” ujarku cengar-cengir.Akhirnya Ella difoto si wartawan dengan memegang dua buah bukunya. Aku jadi pengatur gaya dadakan demi melihat gaya foto Ella yang norak. Si wartawan pun pamit. Kami beres-beres.

Bersambung ke Pergi Ke Timur (5)