(Habis Bagian Pertama)

Secuil Catatan Perjalanan

Oleh Daniel Mahendra

“Ni, kamu ikut aku ya, ke DKS…” rajuknya.

Aku hanya tersenyum, “Memed?”

Ella menoleh Memed, “Med, biar Daniel ikut aku, ya…”

Memed tersenyum tak bisa bicara.

“Kawan-kawan lain juga pada nongkrong di sana…” ajaknya memelas.Sebetulnya kalau kukatakan aku ikut dengan Ella, Memed pun tak bisa apa-apa. Dia pasti akur saja. Tapi, aku pikir tak etis juga kalau Memed harus pulang sendirian. Sementara sesiang tadi aku di rumahnya. Lagipula, barang-barangku ada di rumahnya. Seolah aku hanya numpang titip barang dan minta dianter belaka.

“Ya, Ni, ya…” rajuk Ella lagi.

Akhirnya kuputuskan, “Malam ini aku pulang ke rumah Memed deh.” ujarku pasti.

“Besok pagi kita ketemu lagi. Langsung di DKS aja. Gimana?”Ella masih memelas, tapi masih mencoba menawar-nawar keputusanku.

Akhirnya Aku, Ella, Memed, Catur, Putu dan beberapa kawan lain beranjak ke tempat parkir, menggeret troli berisi buku.

Saat yang lain masuk lift, aku dan Memed masih di luar. Tiba-tiba pintu lift beranjak tertutup. Ini kesempatan kabur, ujarku dalam hati.

“Sampai ketemu besok, La!” teriakku tertawa.

Ella hanya bisa teriak, “Lho?! Ni………!!!” dan pintu lift pun tertutup.

Aku pulang sama Memed. “Oke, Med. Malam ini kamu boleh tanpa AC!” ujarku ngakak.

“Jancuk!!” umpat Memed.Di perjalanan pulang, SMS demi SMS mulai berdatangan. Menanyakan sukses tidaknya acara malam tadi. Salah satunya dari Ijul, adik dari Rana Akbari Fitriawan, kawanku wartawan Tempo Bandung, yang malam itu sedang berada di Banyuwangi, sedang persiapan bagi Ekspedisi Majapahit.

“Kita makan, Niel?” tanya Memed.

“Yup!”

“Makan apa?”

“Apa pun yang tak berdaging…”

“Nasi pecel pincuk, mau?”

“Wah… asyik itu, Med… Mau-mau!”

“Di alun-alun Sidoarjo. Tempatnya lesehan di trotoar alun-alun. Pokoknya kamu pasti suka dengan suasana kayak gitu…”Benar saja. Suasana alun-alun Sidoarjo memang sungguh mengasyikan. Orang merubung, makan, ngobrol, ngopi, kencan dan jualan di sana. Tampak mengasyikan sekali. Begitu sederhana. Begitu merakyat. Begitu guyub. Aku suka sekali suasana seperti itu. Tak salah Memed mengajakku makan di sini.

Dan aku sudah melahap pincuk kedua. Dasar!

* * *