Archive for April, 2005

Prosa Bandung dan Bintang di Surga

Pikiran Rakyat, Sabtu, 22 Januari 2005

Oleh Eriyandi Budiman

PROSA Bandung, saya andaikan sebagai karya-karya prosa yang lahir di Bandung. Baik berupa cerpen dari yang pendek hingga panjang, maupun novel. Sedangkan untuk esai hingga biografi, sementara saya kesampingkan dahulu. Baik lahir dari sastrawan asli Bandung, maupun dari para perantau (utusan daerah) yang umumnya kuliah di beberapa perguruan tinggi di Bandung. Sedangkan dari sisi penerbitan, agak lain, yakni dapat saja terbit di Bandung, atau di kota lain, terutama Jakarta yang merupakan pusat media masa ataupun penerbitan sastra. Sedangkan dari segi bahasa ada dua, yakni Sunda dan Indonesia.

Continue Reading »

Pada Sebuah Persinggahan

 

mengapa kau tawarkan sebuah persinggahan

bila pada akhirnya tanah yang kita gemburi

dipanen tuan tanah

yang baru saja meminangmu dengan janji

kalau saja kau mau sedikit menarik nafas

membajak, mengairi, dan menanamnya tiga kali

hingga kita membuahkan padi yang berseri

meski kita tak pernah menjualnya untuk diri kita sendiri

ya, akulah si lelaki pejalan

yang tak pernah berkesudahan membawa berita

padahal kau punya dermaga

yang dengan cinta kan menjaga kapal hidupmu

biar saja aku bersinggah

memberi kecupan, barangkali sedikit pelukan

lalu pamit dengan sedikit manisnya kenangan

untuk kembali kau ingat di waktu persinggahan yang lain

 

Bandung, 10 April 2005 | 03.35

Pada Sebuah Musim

 

apalagi yang musti kita perbincangkanpada sebuah musim yang tak pernah berganti

bila kita masih saja merindu tanpa tau arah muara

barangkali dulu pernah terucap titik-titik deras hujan yang romantis

namun kita toh tak pernah berani memutuskan:

mau kah kita berbasah kuyup di dalamnya

hidup kita sudah terdiri dari kilat, badai dan riuh pepohonan

meski kita masih saja berteduh takut kehujanan

biarlah kukenakan ponco

berlari di bawah petir

menghilang di kegelapan:

tanpa ingin menoleh lagi ke belakang

 

Bandung, 10 April 2005 | 03.20

Halaman Kosong

 

senja sudah pamit pulangmalam ini aku sendiri lagi

mengapa masih juga kau tanyakan

arti kesendirian ini?

sementara kita bisa melagu rindu

di atas kertas yang terus kita tulis

tinta yang tak pernah usang adalah: kau!

bukankah kita sudah lagi tau:

begini lebih baik

ketimbang mengikatkan simpul

pada kait dermaga yang membutakan

kita memang tak pernah tau

kemana labirin ini membawa kita berlayar

namun paling tidak kita mengerti

tujuan bukanlah satu-satunya alasan

dan bukankah kita pun tau

kertas dalam buku sajak kita

masih lagi tebal halaman kosongnya

jangan pernah terbit

kata cinta dari mulutmu, juga mulutku

karena ternyata kita termasuk sebagian kecil

orang yang paling menghormati:

hakikat sesungguhnya dari

hubungan persahabatan dan kasih sayang

 

Bandung, 9 April 2005 | 23.01