Bojonggede, 12 Juli 2005, 1
Aku berjalan perlahan menaiki teras rumah bertingkat “enam” itu. Pintu ruang tamu terbuka menganga. Sepi. Kulihat mbak Titi sedang bicara di telpon di ruang makan dalam. Iya tersenyum menyuruh masuk. Aku hanya mengangguk.
Pintu gerbang besar rumah nomor 9 itu kubuka pelan. Halaman luas terpampang di depan mata. Di sisi kanan terhampar kolam renang dalam beberapa ukuran. Di pinggirnya dilengkapi dengan berbagai mainan anak. Persis taman kanak-kanak saja. Di sisi kiri suara gemericik air menambah segar atmosfir suasana.
Aku urung masuk. Aku kembali turun dari teras. Melihat suasana sekitar. Mata kutebar ke setiap sudut halaman. Cukup sejuk meski matahari menyorot gerah. Ladang ada di ujung halaman. Aku berjalan ke samping rumah. Mengitari garasi mobil. Tiba-tiba kulihat pak Pram sedang berdiri di bagian samping rumah. Di samping sebuah meja. Aku tersenyum melambaikan tangan. Ia tertawa lebar. Aku menghampirinya. Ia berjalan mendekat. Membuka pintu besi pembatas.
Kaus oblong putih, tampak tak cukup bersih. Dililit sarung warna biru yang digulung sebatas perut. Aku menyalaminya. Memeluknya. Seperti biasa ia terkekeh-kekeh dengan tawa tuanya. Jenggotnya tak terurus, batinku dalam hati. Dan tubuhnya, begitu kurus sekali. Sangat kurus! “Masuk!” ujarnya.
Mbak Titi menyambutku. Aku teringat sebungkus plastik buah apel dan jeruk yang tadi sempat kubeli dalam perjalanan ke Bojong, yang lalu kuserahkan pada si mbak. “Apa ini?” tanya mbak Titi. Aku hanya nyengir. Pak Pram tertatih-tatih masuk dari dapur.
Aku sudah duduk di samping ruang tamu. Di bawah tangga menuju perpustakaan. Pak Pram mengeluarkan sebatang Djarum Super dari bungkusnya yang kulihat tinggal beberapa. Aku langsung mengeluarkan Gudang Garam Surya 16 dari kantung ransel hitamku. Acaranya: merokok bersama.
Soal merokok bersama, aku selalu teringat cerita bung Alfred Ticoalu yang selalu menikmati kenyamanan merokok bersama pak Pram. Apalagi selama pak Pram keliling Amerika tahun 1999 lalu. Itu mulut nggak ada hentinya! Persis sepur!
Ya, acaranya memang merokok bersama pagi itu. Aku dalam perkunjungan santai. Mbak Titi keluar membawa beberapa gelas air mineral. Pak Pram minta yang dingin. Merokok bersama pun disambung dengan bincang-bincang santai.
Sesekali mbak Titi ikut duduk bergabung. Ngobrol tentang apa saja. Tentang merokoknya yang tak pernah henti. Tentang olah pernafasan setiap mau tidur. Tentang rasa malas makan yang kini menghinggapinya. Tentang ensiklopedinya yang belum kelar-kelar.
Ngobrol tentang jalan ke Bojonggede yang menurut pak Pram tidak manusiawi. Ngobrol tentang Jakarta. Ngobrol tentang ibunya. Ngobrol tentang TBC. Ngobrol tentang keinginannya menulis surat tuntutan pada Harto (istilah pak Pram menyebut Soeharto, mantan Presiden RI). Namun tangannya sudah tak kuat lagi. Ngobrol tentang apa saja.
Rata-rata memang tema lama. Dan semua pernah diobrolkan. Hanya hal-hal keseharian saja yang tampaknya bisa dianggap up to date. Mbak Titi datang lagi ke meja membawa sesisir pisang. Batang kedua pun dibakar. Aku mencomot sepucuk pisang. “Beli atau dari ladang ini, Mbak?” tanyaku. “Beli!” jawab mbak Titi. Aku ngakak. Pak Pram hanya bengong. Tak tau apa yang kutertawakan dengan mbak Titi karena pendengarannya, menurutnya, semakin hari semakin memprihatinkan. Merasa tidak enak, kujelaskan pada kupingnya.
Aku minta ijin melongok perpustakaan di lantai atas. Pak Pram hanya mengangguk. Aku menaiki tangga. Di dalam perpustakaan kulihat Sisi, cucu pak Pram, sedang di balik meja. Mengguntingi kliping koran. “Halo! Apa kabar…?” sapaku pada Sisi. Ia tersenyum.
Sejenak aku tenggelam dalam perpustakaan. Mbak Titi kemudian menyusulku. Terlibat dalam obrolan serius. Soal tumpukan naskah-naskah setengah jadi, potongan-potongan ketikan, tulisan-tulisan pak Pram yang bertebaran, berceceran, tak menyambung satu sama lain. Kadang berupa 1 paragraf, 2 atau 3 paragraf ketikan, yang menurut mbak Titi bisa dijadikan buku jika dikumpulkan. Tumpukan itu menggunung. Di berbagai laci dan meja.
“Bisa jadi buku kan?” sela mbak Titi.
“Tapi musti dicari rantai pengikatnya, Mbak, karena berupa potongan-potongan tak berkorelasi satu sama lain.”
“Kadang dia ngetik dua paragraf lalu ditinggal. Tidak mau lagi melanjutkan.”
Kulihat beberapa potongan itu. Salah sebuah yang kubaca, berupa catatan harian saat pak Pram berkunjung keliling Amerika tahun 1999 lalu. Hwuaa!! Ini sama seperti yang ditulis bung Alfred Ticoalu saat menemani pak Pram selama keliling itu. Bedanya, ini catatan harian versi Pram. Kalau yang ditulis bung Alfred, tentu dari sudut pandang bung Alfred. Wah, aku tersenyum ingat bung Alfred jadinya.
Kembali ngobrol serius dengan mbak Titi. Ribuan buku dan dokumen di perpustakaan ini mulai dirapihkan penempatannya. Sisi punya tugas segunung nih, batinku. Ensiklopedi yang pak Pram susun bertebaran di mana-mana. Sudah mulai dikategorikan berdasarkan sub-sub tema.
Bosan di perpustakaan, aku ke teras perpustakaan. Mbak Titi sudah turun. Memandang pemandangan ladang yang luas membentang. Kolam renang tampak terhampar dari atas sini. Kemudian aku berdiri bersandarkan pagar teras, memandang ke dalam perpustakaan. Musti ada kerja besar untuk mengerjakan dokumen di perpustakaan itu, batinku. Aku menarik nafas.
Aku kembali tenggelam dalam perpustakaan. Bosan pun menghampiri. Aku turun ke lantai bawah. Kulihat pak Pram masih saja dengan rokok entah batang keberapa. Tiba-tiba kulihat bu Maemunah, istri pak Pram, lewat melintas dari gerbang luar. Habis jalan-jalan kata mbak Titi tadi. Tangannya menjinjing kantung plastik. Habis belanja tampaknya. Aku berdiri menemuinya. Ia masih saja tersenyum dengan segala kecantikan masa tuanya.
Mbak Titi mengajak makan Siang. Aku mengajak pak Pram turut. Ia tidak mau. Kupaksa, tetap saja tidak mau. “Nggak ada selera,” alasannya. Wah, bandel juga ini orang! batinku. Bu Maemunah mengajak makan bersama. “Makan sana…” seru pak Pram padaku. Memang bandel!
Acara merokok bersama pun dilanjutkan. Kami berdua sudah seperti kereta api. Mbak Titi hanya bisa menutup hidung kalau melewati meja kami. Aku hanya ngengir.
Aku teringat dengan rencana kawan-kawan milis MP untuk berkunjung ke Bojong. Seperti sudah kukomunikasikan pada mbak Titi beberapa saat lalu. Akhirnya mbak Titi menyepakati pada Minggu 24 Juli 2005. Juga tentang rencana pergi ke Eropa bersama pak Pram bulan Agustus nanti.
Kembali terlibat obrolan serius dengan mbak Titi. Soal buku Tetralogi yang belum rampung. Tentang cetak ulang Arok Dedes, Perburuan, Menggelinding 2, juga tentang cerpen pak Pram, “Tailalat”, yang sedang kuterjemahkan dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia, dan diterbitkan dalam bentuk buku.
Mbak Titi masuk lagi ke dapur. Keluar membawa beberapa gelas minuman ‘Frutang’ dingin. “Ada yang dingin?” lagi-lagi Pak Pram minta yang dingin. “Sering sekali haus saya.” Aku membukakan satu gelas. Ia langsung menegukya.
“Tidur sini Daniel… ” tiba-tiba mbak Titi menawarkan.
Aku hanya nyengir. Dalam hati aku berkata, biar kawan-kawan lain juga menikmati keakraban ini.
-(mungkin bersambung, mungkin juga tidak)-
Depok, 13 Juli 2005
23.10 wib

