“Tidur di sini Daniel…” ujar mbak Titi. Dalam hati aku bersorak. Berarti aku ada tempat menginap malam ini! Sejak dini hari tadi aku tiba pukul setengah satu pagi di terminal Depok. Pagi-pagi benar sudah bersiap ke stasiun UI untuk naik kereta listrik menuju Bojonggede.

Rumah ini besar, di punggung bukit, dengan halaman luas serta pekarangan hampir satu hektar. Disiram matahari dari pagi-siang-dan sore. Kalau siang hari pekarangan memang terasa menyengat. Tapi di teras muka justru begitu adem dan nyaman.

Untuk orang seperti aku, yang begitu membutuhkan teritori pribadi serta kerap merasa tak aman jika berada di antara banyak orang, rumah dengan tembok besar serta terlindung seperti ini sungguh nyaman. Kita bisa melakukan banyak hal tanpa harus diketahui banyak orang.

Di teras depan ruang tamu ada 3 meja kayu bundar. Dengan jarak terpisah-pisah. Sungguh nyaman duduk-duduk santai di teras ini. Apalagi sembari merokok. Di tembok sebelah kiri terpampang poster-poster wajah Pram dengan berbagai macam ukuran. Aku geli melihat poster-poster itu. Itu bisa dilakukan karena Pram seorang Pramoedya Ananta Toer.

Ia memasang poster wajahnya dalam berbagai ukuran besar dan kecil di tembok teras ruang tamu rumahnya. Orang lain bisa saja melakukan hal serupa. Tapi jika aku memasang poster wajahku di tembok teras rumahku, dengan berbagai ukuran besar dan kecil semacam itu, boleh jadi aku disebut orang gila! Barangkali.

Di ruang tamu sebelah kiri ada seperangkat meja kursi tamu lengkap. Tapi rasanya tak nyaman duduk di situ. Apalagi sembari merokok santai. Terlalu formil! Temboknya juga dihiasi foto-foto Pram dari berbagai macam ukuran. Mungkin pemberian dari banyak orang. Ada foto saat Pram dianugerahi penghargaan, lukisan wajahnya, foto Pram selagi muda, foto keluarga besar, dan yang paling menarik: foto
Pram dan Ibu Maemunah di masa tua. Mereka tertawa lebar. Tampak mesra sekali. Ibu Mae menggamit Pram yang duduk. Mereka tampak bahagia di foto itu.

Ruang tamu itu cukup besar. Selain seperangkat meja kursi tamu formil itu, di sisi kanan (atau tengah), ada lagi meja kayu bundar. Tepat di samping tangga menuju lantai atas. Di sisinya berdiri tinggi sebuah lemari kaca. Berisi berbagai penghargaan dari seluruh penjuru dunia. Ada medali, souvenir, foto, macam-macam. Di seberang meja kayu bundar teronggok sebuah keyboard yang kesepian.

Masuk sedikit ke ruang makan ada seperangkat mesin fotocopy. Ruang makan ini memang bisa menyambung kemana-mana. “Waktu rumah ini jadi, kita lupa bikin dapur!” kata pak Pram tertawa lebar mengenang saat-saat awal mendirikan rumah ini.

Aku menyulut batang rokok lagi. Pak Pram masih menyeruput `frutang’ dinginnya. Aku melirik. Kulihat tadi ia baru saja mematikan batang rokoknya yang kesekian. Isengku kumat. Kusorongkan bungkus rokok Djarum Super di meja mendekati dadanya. Ia melirikku. Tapi mengambil juga sebatang. Aku tertawa dalam hati. Jadinya ia menyulut lagi. Saat kuceritakan hal ini pada Nissa Cita, kawanku di Depok, ia menyumpahi aku habis-habisan. “Jahat sekali kamu!!” Aku hanya ngakak.

Aku memang paling suka menggoda orang yang sudah berusia lanjut. Terkadang orang dengan usia lanjut seperti itu memang pingin digoda. Kelakuannya manja dan ingin selalu dihibur atau diperhatikan. Meski itu tak pernah diucapkannya. Aku merasa menganggap pak Pram seolah seperti kakekku sendiri. Sebagai satu-satunya cucu yang merokok, bersama kakekku dari pihak ibu aku bisa menyeruput kopi sembari merokok bersama. Tak ada cucu kakekku bisa melakukan itu. Begitulah aku melihat pak Pram, yang umurnya tak beda jauh dengan kakekku.

Aku tak berani menganggap pak Pram sebagai temanku. Apalagi sahabat. Aku ragu. Apakah pantas hal itu disematkan padaku. Karena aku toh hanya salah satu dari sekian banyak anak muda yang kebetulan mengaguminya. Pram memang kuangggap guruku. Meski ia tak mau dianggap begitu. Kalau disebut teman, ada banyak orang yang lebih pantas menyandang kapasitas itu. Mereka lebih hebat, lebih dekat, juga barangkali lebih terhormat. Meski Pram tetap saja sederhana. Tak banyak meminta. Lebih banyak merendah malah memberi. Pram adalah sumber. Tapi bagi semua orang yang membaca karyanya, tentu Pram adalah seorang teman sejati. Entahlah, aku malas mempersoalkan hal ini. Sementara Pram terus saja mengepul.

“Imbangi merokokmu dengan olah pernafasan sebelum tidur,” katanya tiba-tiba. Hal ini sudah dan selalu ia katakan sejak bertahun lamanya saat pertama kali bertemu di rumah Utan Kayu dulu. Aku mendengarkan saja. “Minum vitamin C, untuk melawan nikotin. Kamu akan sehat-sehat saja meski merokok.” lanjutnya.

“Ibu saya meninggal usia tigapuluh lima tahun karena TBC. Adik juga. Waktu meninggal saya ciumi dia. Heran saya. Kenapa saya tidak tertular TBC. Waktu itu TBC tak ada obatnya.” kenang pak Pram. “Luar biasa sekali ibu saya!”

Ia kemudian bercerita tentang ibunya. Cerita pula tentang masa kecil yang harus menggembala kambing. Juga tentang ayahnya yang direktur sekolah dimana ia bersekolah di sana, “Tapi saya tidak naik kelas tiga kali. Malu sekali bapak saya!”

Cerita ini tak hanya kubaca di buku Cerita Dari Blora atau Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Tapi juga berkali-kali dari mulutnya. Ya, orang tua memang kadang kerap menceritakan hal-hal yang sebetulnya sudah pernah ia ceritakan. Aku mendengarkan saja.

Kemudian obrolan bergeser pada penerbitan naskah-naskahnya. Tentang dokumentasi ensiklopedi yang sudah lagi menggunung. Setiap hari masih ia kerjakan. Saat aku datang tadi tangannya masih penuh lem. Ia baru saja menbundel dokumentasi ensiklopedi itu. Dikerjakan sendiri jilidan itu. Di perpustakaan atas tadi kulihat bundelan-bundelan itu sudah terbagi-bagi dalam beberapa tema. Ia masih tekun mengerjakan itu. “Tidak tau ini apa Titi ada dana. Tahun ini tidak ada pemasukan sama sekali.” ujarnya lirih. Diam-diam aku tercekat. Tidak ada pemasukan sama sekali? tanyaku dalam hati.

Pram memang bukan orang kaya. Juga bukan orang miskin. Rumah ini memang mentereng. Berdiri kokoh tanpa tanding di kampungnya. Dilengkapi kolam renang, ladang yang luas, serta tadi kulihat sebuah mobil di garasi. “Tapi ini kan dikasih orang duitnya. Waktu keliling Amerika tahun sembilan-sembilan lalu, setiap bicara di satu kota, saya dikasih duit. Banyak sekali duitnya. Saya pulang bawa banyak duit.” ceritanya sembari tertawa. “Saya bangun rumah di sini.”

“Siapa yang merancang bangunannya?” tanyaku.

“Saya sendiri. Tapi lupa bikin dapur waktu itu. Hahaha!!”

Dari beberapa penerbit di luar ia memang masih mendapatkan royalti dengan baik. Tapi tidak semua penerbit berlaku lancar. Pram memang tidak pernah meminta. Memberi malah. Ia kadang mengecam penerbit luar yang tidak memperlakukan bukunya dengan semestinya.

“Kini saya tidak bisa menulis lagi. Mengetik saja tidak kuat. Menulis dengan pulpen saja tidak kuat. Keinginan menulis selalu saja ada. Tak pernah henti.”

“Kenapa tidak dilisankan saja? Lalu di-teks-kan oleh orang, barangkali?”

“Lain! Lisan itu lain. Lisan itu mendatar. Menulis itu mendalam. Lain! Sudah habis kekuatan saya.”

“Kan masih suka push-up? Sport?”

“Nggak. Sudah habis kekuatan. Ya jalan-jalan saja sekitar rumah. Saya bangun jam setengah lima pagi. Tidurnya kan jam delapan atau jam sembilan malam. Sudah nggak bisa sport. Mencangkul saja sudah tidak kuat. Biasanya sehari bisa mencangkul enam sampai delapan jam. Habis kekuatan saya. Habis!”

“Iya tapi jam satu malam suka bangun…” mbak Titi menimpali dari arah dapur.

Pak Pram hanya melirik.

Aku sempatkan menanyakan lebih lanjut pada mbak Titi tentang rencana undangan ke Eropa Agustus nanti. Menurut mbak ia sudah mengkomunikasikannya. “Tapi coba tanyakan lagi, siapa tau dia berubah pikiran.” ujar mbak Titi.

Aku mendekatkan mulutku pada telinganya, “Gimana Pak, tentang undangan kawan-kawan saya di Belanda?” pelan serta hati-hati aku bicara.

“Saya sudah tidak kuat! Tidak kuat! Habis kekuatan saya. Tidak bisa saya.”

Aku hanya tersenyum mencoba mengerti. Mbak Titi juga. “Biar nanti saya informasikan pada kawan-kawan di sana.” tukasku.

“Sudah nggak kuat saya. Mau gimana…”

Aku mencoba memahami. Dalam hati ada lantunann lagu Enya menari-nari gulana. Berarti pupus pula harapanku ke luar negeri bersamanya.

Rencananya sahabatku Heri Latief yang tinggal di Amsterdam bersama kawan-kawannya memang hendak mengadakan peringatan 60 tahun kemerdekaan Indonesia di Belanda. Menurut bung Heri tak hanya di Belanda. Juga Perancis, Swiss dan beberapa negara Eropa. Ia berencana mengundang Pram ke sana. Beberapa kawan di Eropa sudah mulai mempersiapkan acara tersebut. Paling tidak bersama mbak Titi, bertiga kami akan berangkat. Tapi semua tentu tergantung pak Pram. Kalau pak Pram tak kuat, siapa yang bisa memaksanya?

“Saya sudah bicara pelan-pelan.” ujar mbak Titi. “Tapi ya tergantung dia.”

Ya-ya-ya. Aku pun tak bisa apa-apa. Kabar ini musti secepatnya kuinformasikan pada sahabatku Heri Latief. Saat kuceritakan pada Nissa Cita, kawanku di Depok, ia bersorak girang. Sangat girang! “Berarti kamu nggak jadi berangkat juga!” serunya
bukan alang kepalang. Sialan! Batinku. Vivi pun pasti akan bersorak seperti Nissa, pikirku nyengir. Padahal ingin sekali aku pergi bersama pak Pram. Di usianya yang 80 ini.

Dan aku hanya bisa melempar senyum pada mbak Titi. Seperti biasa mbak Titi hanya tersenyum tanpa ekpresif. Air muka mbak Titi memang selalu datar. Sulit membedakan mana saat ia bahagia-mana saat ia bersedih. Wajahnya selalu sama. Kalau bahagia ya seperti itu, begitu pula kalau sedih. Kuperhatikan wajah anak keempat pak Pram ini, garisnya mirip sekali dengan Ibu Mae.

Yah. Aku tak jadi pergi ke Eropa bersama pak Pram. Namun barangkali, aku akan tetap sering datang kemari. Dua minggu lagi aku pun kemari lagi. Semoga ia sehat-sehat saja. Meski kesehatannya memang tampak makin memburuk dari sebelumnya. “Sehari untuk obatnya saja menghabiskan seratus ribu.” ujar mbak Titi. Sebulan berarti 3 juta, pikirku.

Nah, begitulah.

(entah bersambung, mungkin juga tidak)

Depok-Jakarta, 14 Juli 2005

Kamis, 16.10 wib