Archive for August, 2005

Suatu Malam di Bojonggede (3)

Menghabiskan Malam

Seusai makan malam dan obrolan di meja makan, Mbak Titi mengajakku melihat kamar yang bakal menjadi tempat inapku malam ini. Di lantai 5.

Kami menaiki tangga. Di lantai 2 tampak sebuah kamar dalam keadaan pintu terbuka. Berputar ke kiri, menaiki anak tangga lagi, lantai 3, merupakan ruang perpustakaan dimana terdapat kamar Pram di dalamnya (pada tulisan sebelumnya aku salah menuliskan lantai perpustakaan serta kamar Pram. Perpustakaan dimana ada kamar Pram di dalamnya merupakan lantai 3 dari rumah berlantai 6 ini).

Continue Reading »

Suatu Malam di Bojonggede (2)

Obrolan Yang Menyenangkan

Pak Pram sudah masuk kamar di lantai 2. Aku masih duduk di samping tangga. Ibu Mae sudah membereskan dapur. Ditemani Mbak Rina, adik Mbak Titi, kini ia mulai menyalakan tv ruang tamu. Nonton sinetron. Aku ke kamar mandi.

Keluar kamar mandi Mbak Titi sudah mengajakku ngobrol di meja tempat semula.
“Gimana dengan ‘Bumi Manusia’?” tanyaku memulai.

Continue Reading »

Suatu Malam di Bojonggede (1)

Berlomba Dengan Matahari Senja

Rabu siang tanggal 24 Agustus lalu sejatinya aku hendak bertolak ke Bojong, tapi siapa nyana, pekerjaan tak kunjung usai. Orang berdatangan silih ganti urusan, dari mulai soal pameran buku, penerbitan buku, hingga distributor buku.

Hingga sore hari pun pekerjaan tak kunjung usai. Aku mulai kelabakan. Kapan berangkatnya nih! Semua orang sibuk di MALKA. Sibuk. Sibuk. Bergerak. Hidup. Hingga usai Maghrib aku baru bertolak ke Terimanal Leuwipanjang, diantar Deni. Continue Reading »

Mencicipi Komik

 

tintin-top.jpg 

Ketika beranjak dewasa aku sempat sesumbar secara munafik: bahwa aku tak menyukai komik! Terutama komik Jepang! Menurutku, komik membuat tumpul daya imagi serta fantasi seseorang, terutama anak-anak.

Aku lebih menyukai bahasa teks. Karena dengan bahasa teks, imaginasi seseorang bisa terolah saat membayangkan tokoh atau adegan dalam sebuah novel begitu menakjubkan. Continue Reading »

Cerita di Bangku Bambu

Dalam keseharian, tak jarang aku mengerjakan banyak hal yang menggunung dalam waktu yang begitu berdekatan. Mengelola Toko Buku Malka, mengelola Perpustakaan Dokumentasi Malka, mempersiapkan buku baru yang hendak diterbitkan bagi Penerbit Malka, mengecek distribusi buku Malka Distributor Buku Independen, mengejar-ngejar persiapan membangun kembali Kedai Minke di teras Perpustakaan Malka, dan seabrek pekerjaan yang selalu menggunung.

Aku tau, memang tidak ada makan siang gratis. Semua ada yang harus diusahakan. Bukankah yang penting prosesnya? Bukan tujuannya! Continue Reading »