Dalam keseharian, tak jarang aku mengerjakan banyak hal yang menggunung dalam waktu yang begitu berdekatan. Mengelola Toko Buku Malka, mengelola Perpustakaan Dokumentasi Malka, mempersiapkan buku baru yang hendak diterbitkan bagi Penerbit Malka, mengecek distribusi buku Malka Distributor Buku Independen, mengejar-ngejar persiapan membangun kembali Kedai Minke di teras Perpustakaan Malka, dan seabrek pekerjaan yang selalu menggunung.

Aku tau, memang tidak ada makan siang gratis. Semua ada yang harus diusahakan. Bukankah yang penting prosesnya? Bukan tujuannya!

Dalam waktu dekat ini saja ada 3 judul buku yang musti ditebitkan Penerbit Malka. Penerbit Malka memang bukan penerbit besar. Namun setiap tahun dipastikan menerbitkan buku. Syukurlah! Perputaran roda penerbitan sudah mulai tampak.

Sementara Malka Open Mind Brand, yaitu divisi yang mengerjakan t-shirt atau pin bergambar sastrawan, hampir tak tersentuh alias belum berproduksi kembali. Bukan dikarenakan modal yang tak kembali. Justru keuangan pada divisi tersebut terlihat berputar. Namun tak adanya sdm yang masih sanggup waktu mengerjakan divisi tersebut.

Mau tak mau novelku terbengkalai pengerjaannya. Kumpulan cerpenku belum kulongok lagi. Padalah menurut jadwal, keduanya musti terbit tahun ini.

Dalam keseharian, Rumah Malka dibantu oleh 3 orang kawan. Belum lagi kini muncul divisi baru yaitu Malka-Komiku, ikut meramaikan aktifitas di Rumah Malka. Dikerjakan oleh 3 orang baru lainnya.

Beruntung operasional harian pengelolaan toko buku sudah kuserahkan pada Gunawan. Dia yang kini bertugas berhubungan dengan penerbit, distributor, laporan penjualan, lalu lintas buku baru, intinya pengelolaan toko buku secara keseluruhan. Bahkan kalau kuingat-ingat, aku malah sudah jarang masuk/nongkrong di ruang toko buku (satu hal yang sedikit kusesalkan!). Aku lebih banyak menghabiskan waktu di kantor Malka yang letaknya di belakang Perpustakaan Dokumentasi Malka.

Juga tak kalah menyenangkan bahwa kini pengelolaan Perpustakaan sudah ada yang siap mengurusnya. Padahal khusus perpustakaan, merupakan divisi yang paling banyak meminta pengerjaan.

Satu hal yang tak kalah ikut andil dalam kesibukan adalah sudah berjalannya program Kelas Cerpen. Kini malah sudah memasuki angkatan ke-2. Sementara naskah-naskah cerpen angkatan ke-1 malah sudah siap diterbitkan sebagai buku antologi cerpen.

Tak terbayang jika program Kelas di Rumah Kreatif Malka berjalan semua. Ada Kelas Editing, ada Kelas Gambar, ada Kelas Bahasa Perancis. Fiuhh! Bagaimana membagi waktunya…

Setelah memutuskan berhenti bekerja (kantoran) di berbagai media massa, aku memang berniat fokus di Malka. Juga Pramoedya Institute tentu saja. Ah ya, Pramoedya Institute pun satu hal yang tak bisa begitu saja kukesampingkan. Banyak pula program yang siap dijalankan.

Ya, akhirnya aku memang memutuskan berhenti kerja (kantoran) pada orang lain. Ya katakanlah bekerja pada orang lain. Mencoba menjadi majikan atas diri sendiri. Tidak diperintah, juga tidak memerintah. Nyaman memang. Tapi kesibukannya ternyata lebih menggunung dari yang pernah kubayangkan. Meski aku menikmatinya.

Terkadang aku berpikir untuk sejenak lari dari semua ini. Pergi traveling seperti dulu. Sesuatu yang mulai jarang kulakukan kini. Sekadar menyegarkan pikiran, untuk nantinya kembali beraktivitas seperti semula. Tapi tak secuil waktu pun kubisa mencurinya.

Aku sudah tidak pernah menonton tv. Sebaiknya memang begitu. Terlalu banyak menonton tv selalu menyisakah hal-hal negatif bagi perkembangan. Tapi suatu malam, tepatnya Minggu 7 Agustus kemarin, tak sengaja aku terduduk lelah di sofa ruang tengah (kebetulan pulang ke rumah!).

Kunyalakan tv. Ada film “The Beach”. Yang main Leonardo Dicaprio. Aku tertarik sekali dengan film itu. Karena menceritakan tentang sebuah petualangan. Rasanya ingin sekali bisa ikut tinggal di pulau itu, yang dalam film tersebut letaknya sangat dirahasiakan. Karena begitu indah serta terisolasi dari masyarakat, juga terlepas dari berbagai aturan serta norma kehidupan normal. Atau terkadang aku membayangkan menjadi Tom Hank dalam “Cast Away”, yang terdampar di sebuah pulau di tengah lautan selama 5 tahun. Wow! Pergi dari segala rutinitas harian adalah impianku.

Perkunjungan ke rumah Pramoedya beberapa waktu lalu bersama kawan-kawan baru juga menyisakan hal yang menyenangkan dalam hati. Ada sesuatu yang terjadi di luar rutinitas harian selama ini. Apalagi kalau bulan ini rencana road to europe terlaksana, pasti bukan alang kepalang mengasyikannya. Bepergian bersama Pramoedya ke Eropa memang satu hal tersendiri. Tapi lebih dari itu, melakukan perjalanan ke tempat baru, merupakan hal yang tak kunjung usai mengisi sudut pikiran.

Di Malka, jika sore hari datang, terkadang aku musti mau menjadi pendengar cerita-cerita orang yang datang serta berceloteh tentang segala kekesalan, kegundahan, kesepian, kesedihan plus kegembiran mereka. Hal tersebut bisa berlangsung berjam-jam lamanya.

Di satu sisi aku senang MALKA betul menjadi tempat bertemu. Di sisi lain, kadang aku berpikir, adakah orang-orang itu tidak berpikir: bahwa aku bisa merasakan hal yang sama seperti apa yang mereka rasakan? Tentu menjadi tak baik jika orang datang ke MALKA melulu ingin bertemu denganku semata (narsis banget ya? Tapi itulah yang kerap terjadi).

Kadang aku musti mendengarkan kesunyian, kegundahan bahkan kemarahan seorang lelaki akan kehidupannya. Ya, aku memang hanya menjadi mendengar saja. Apa yang bisa kuberikan selain mendengarkan?

Mendengarkan seseorang dimana ia merasa kesal dengan tingkah anak-anaknya. Dari lima anaknya, hanya satu yang menikah. Lainnya: tak jelas! Atau seorang lelaki tua yang kesepian karena istrinya telah lagi pikun. Atau mendengarkan kisah cinta seseorang yang menyebalkan untuk didengar. Atau kisah penyakit yang pernah diderita seseorang, namun ia berusaha kuat untuk bertahan hidup. Atau seorang lelaki yang membawah segunung amarah untuk diceritakan padaku. Ia baru saja ingin membunuh seseorang di tempat kerjanya. Tapi ia takut dipecat. Duh! Atau juga tak sedikit orang yang berdatangan membawa segepok naskah. Rata-rata novel.

“Untuk diterbitkan?” tanyaku.

“Tidak. Untuk Mas baca. Aku hanya butuh masukan.”

Masyaallah! Kalau butuh masukan, kenapa harus bergepok-gepok naskah yang datang padaku. Tidak laki tidak perempuan. Dan biasanya novel. Tau sendiri, novel tentu isinya beratus-ratus halaman. Ya ampun… Dan semua harus kubaca? Duh!

Kalau sudah seperti itu, mau tak mau aku musti menunda pekerjaanku. Ikut duduk menemani di bangku bambu. Berjam-jam lamanya. Orang datang mencariku sementara aku terus bekerja memang terkesan tak sopan. Tapi, pekerjaan begitu membukit.

“Wah, marahku hilang kebanyakan cerita. Makasih. Aku pulang…” ujar seorang lelaki yang langsung ngeloyor meninggalkan MALKA. Aku tersenyum. Kulihat kesepian mulai pamit pergi dari matanya. Tapi sontak tiba-tiba aku mengingat pekerjaanku yang terbengkalai. Whaa!!!

Ah, tak perlu lah kalian lanjutkan membaca. Hanya membuang waktu kalian saja. Sudah, buka saja email berikutnya. Hanya celotehan tak berarti yang tak menyisakan apa-apa di hati pembacanya.

Bulan makin hilang. Dan aku belum lagi memiliki keberanian untuk menciptakan rasa kantuk. Apa aku harus selalu tidur di Subuh hari?

Duh! Duh!

Rumah Malka, 9 Agustus 2005.