Mencicipi Komik
Ketika beranjak dewasa aku sempat sesumbar secara munafik: bahwa aku tak menyukai komik! Terutama komik Jepang! Menurutku, komik membuat tumpul daya imagi serta fantasi seseorang, terutama anak-anak.
Aku lebih menyukai bahasa teks. Karena dengan bahasa teks, imaginasi seseorang bisa terolah saat membayangkan tokoh atau adegan dalam sebuah novel begitu menakjubkan.
Pendapatku ini tentu dihajar habis-habisan oleh begitu banyak kawan yang doyan mengunyah komik dengan lahap. Bagi mereka, komik tak bisa disepelekan begitu saja, apalagi dibandingkan dengan karya sastra yang terpandang. Barangkali mereka betul. Namun, apakah betul: aku tak menyukai komik?
Sejak kecil selain akrab dengan Enid Blyton, ternyata aku begitu mesra dengan Tintin, Petualangan Laverdure & Tanguy, Steven Sterk, Smurf, Asterik atau komik sejenis. Bahkan saat masih lagi mengunyah majalah Hai, aku gemar memelototi adegan tarung Trigan, Strom, Deni Manusia Ikan, Pak Janggut, atau Coki Si Pelukis Cepat. Nyata-nyatanya, kalau ke Pasar Palasari Bandung saat mengantar mama ke pasar, aku selalu minta dibelikan komik pada almarahum bapak. Maka seri-seri Naga Sasra, Gundala, juga Petruk Gareng mengisi sudut pikiranku di waktu kecil.
Semua itu menjadi harta karunku di lemari kamar. Ya, aku kecil memang orang rumahan. Kalau almarhum kakak lelakiku main di sungai, aku sudah begitu bahagia dengan segunung buku bacaan di rumah.
Lalu kenapa saat beranjak dewasa aku lebih menyukai bahasa teks? Atau barangkali karena aku kurang begitu mengusai bahasa lisan? Gara-gara bahasa lisan itu pula aku sempat tak berani mengutarakan perasaanku pada seorang perempuan yang begitu kukagumi. Hingga saat ia hendak siap menikah, aku baru tau: bahwa selama itu ternyata ia mengharapkanku. “Kenapa tak pernah kau ceritakan?” tanyaku lemas. “Karena kau tak pernah pengutarakannya!” jawabnya mesra. Tapi esok harinya ia tetap berakad nikah. Hahaha! Semua itu gara-gara bahasa lisan. Kembali ke soal komik.
Komik kini memang merajalela. Jadi santapan muda sampai tua. Di sebuah komplek perumahan saja, hampir bisa dipastikan ada satu sampai dua buah taman bacaan. Isinya: tentu saja komik.
Pada pekan-pekan buku yang ramai digelar, orang membeli komik layaknya ibu-ibu yang memborong belanja bulanan pada awal bulan sehabis gajian. Membeli komik seperti kebutuhan dapur. Bertroli-troli! Maklum saja, seri komik ada yang sampai 40 nomor.
Kalau ada yang pernah lewat Jalan Pagergunung Bandung, ada sebuah tempat, Comic Corner namanya, dimana berjejal-jejal orang membaca komik. Di teras, di koridor, di halaman, atau di ruang baca sembari beralaskan bantal. Sungguh dimanja! Tapi dari jejalan itu, suasana di sana begitu hening. Senyap. Sunyi namun syahdu. Gerangan sedang apa mereka? Membaca komik!
Komik menjelma menjadi identitas. Dilihat dari segi bisnis, sepucuk komik di sebuah taman bacaan hanya perlu 2 sampai 3 kali masa peminjaman sudah bisa balik modal harga beli. Buku The Name of The Rose karya Uberto Eco yang super tebal di Perpustakaan Dokumentasi Malka, musti berapa kali masa peminjaman untuk balik modal harga beli? Entahlah. Aku malas menghitungnya! Tapi sampai sepuluh kali masa peminjaman, dengan harga peminjaman di Perpustakaan Dokumentasi Malka yang sengaja dipasang murah itu, tetap saja belum kembali modal harga beli. Lalu, mustikah banting stir untuk bisnis komik saja? Tidak juga kukira.
Ketika datang tawaran dua orang kawan untuk membuka divisi komik di Malka, sebetulnya aku ragu. Kenapa, karena image komik. Si kawan pun memikirkan itu.
“Sebetulnya kami khawatir akan merusak karakter Malka jika dimasuki komik!” tukas si kawan.
“Memangnya seperti apa karakter Malka di masyarakat? Paling tidak di kepalamu?” pancingku.
“Yah… bacaan berat lah… Buku-buku sastra yang serius gitu lho!”
Tapi tiba-tiba aku berpikir lain. Kalau arti Malka adalah tempat bertemu, sudah seharusnya Malka musti cair. Musti welcome terhadap genre-genre apa pun dalam dunia karya.
Yang terpikir olehku adalah: aku ingin membuat Malka lebih ramai lagi. Aku ingin orang yang datang bukan melulu tampang-tampang serius. Yang begitu gemar berdiskusi dengan kening berkerut. Malka musti multi. Dengan menghadirkan komik, orang yang berdatangan ke Malka pun makin ramai. Makin heterogen. Setiap hari musti ada yang datang, dimana tak melulu membeli buku atau membaca buku Posmoderisme-nya Yasraf Amir Piliang, misalnya.
Tempat ada. Ruang baca terhampar. Konsep kerjasama bisa dibicarakan. Maka, lahirlah Malka-Komiku. Sejak awal kawan-kawan membikin rak, menyiapkan katalog, administrasi, juga belanja komik untuk memenuhi koleksi, tak sepucuk komik pun kupegang. Aku takut, kalau tersempat sekali baca saja, bisa berkelanjutan nanti. Aku bersumpah (atas nama kucing yang selalu saja bunting dan melahirkan bocah demi bocah kucing di teras Malka): bahwa aku tak kan menjamah komik di rak, barang satu lembar pun.
Nyatanya, di suatu malam yang sunyi, tanpa kawan dan sedang off bekerja (pekerjaan tak pernah habis!), aku merasa kesepian. Berbatang rokok telah jadi korban mulutku. Tiba-tiba kulirik ribuan komik di rak perpustakaan. Aku berpikir: kenapa orang begitu gila komik ya? Sampai bernomor-nomor! Berseri-seri! Dan terus mencari. Apa sih yang menarik?
Aku berdiri di depan rak. Ada seri petualangan Doraemon. Kalau tak salah liat, ada sekitar 40 nomor. Seri Doraemon jujur saja kusukai. Begitu pun film kartunnya. Bahkan kalau boleh sedikit berkhayal: sebetulnya aku ingin sekali punya Doraemon. Robot kucing yang punya alat serba canggih dan menakjubkan itu. Yang paling kusuka tentu Mesin Waktu. Aku membayangkan bisa kembali ke masa lalu, memperbaiki keburukan-keburukan di masa lalu, atau mengintip di masa depan. Bahkan aku begitu jatuh cinta pada tokoh Nobita, Shizuka, Suneo atau Giant.
Aku membaca satu nomor. Habis satu nomor, aku melanjutkan nomor kedua. Dan aku mulai ngakak sendiri. Sinting! Pikirku. Siapa nyana, dua orang kawan pengelola komik tiba-tiba datang serta mendengar tawaku di ruang istirahat saat tenggelam membaca komik.
“Berhasil!!” seru mereka.
“Hah?!” Sialan! umpatku dalam hati. Tapi aku sudah terlanjur tenggelam.
“Udahlah… kalau ketawa nggak usah ditahan-tahan. Lepas aja… Komik asyik kok!” ujar mereka cekikikan. Giliran aku yang keki.
Bahkan di malam-malam yang sunyi, aku sering lupa pulang karena membaca Doraemon hingga Subuh hari. Dalam hati aku mengumpat. Tapi siapa yang bisa disalahkan: aku mulai menikmatinya. Virusnya mulai meresap dalam darahku. Sialan! Tapi aku sungguh menikmatinya. Duh! Duh!
Akhirnya aku punya resep: hidup memang harus dinikmati. Tidak pilih-pilih, asal punya sikap. Tidak usah gengsi kalau memang komik nyatanya bisa memberi hiburan tersendiri. Itu saja resepku. Mungkin sekadar apologi. Biar tak dibilang munafik. Hehehe!
Sampai bertemu di Malka-Komiku!
Salendro, 16 Agustus 2005
01.22 wib.


