Suatu Malam di Bojonggede (1)
Berlomba Dengan Matahari Senja
Rabu siang tanggal 24 Agustus lalu sejatinya aku hendak bertolak ke Bojong, tapi siapa nyana, pekerjaan tak kunjung usai. Orang berdatangan silih ganti urusan, dari mulai soal pameran buku, penerbitan buku, hingga distributor buku.
Hingga sore hari pun pekerjaan tak kunjung usai. Aku mulai kelabakan. Kapan berangkatnya nih! Semua orang sibuk di MALKA. Sibuk. Sibuk. Bergerak. Hidup. Hingga usai Maghrib aku baru bertolak ke Terimanal Leuwipanjang, diantar Deni.
Betul saja, di tengah perjalanan, sabun cair, sikat gigi, handuk dan beberapa pucuk buku ketinggalan. Terpaksa mampir ke rumah.
Sampai Terminal Leuwipanjang, bis tujuan Depok telah habis tandas. Kalau mau ke arah Bogor, malas rasanya. Aku timbang-timbang, nekat tetap pergi atau besok pagi saja?
Kukontak Mbak Titi (Astuti Ananta Toer), kalau aku kehabisan bis di terminal. “Besok saja. Sore nggak pa-pa.” ujarnya di ujung telpon. Akhirnya aku kembali ke MALKA sembari masygul.
Esoknya aku bersiap. Buku untuk pameran di Tasikmalaya sudah dikirim. Aku berangkat ke Terminal Leuwipanjang. Mampir dulu di Kartika Sari, beli kue pisang molen untuk oleh-oleh keluarga di Bojong. Jam 12 siang bis menderu!
Lewat Cipularang aku tenggelam dalam buku “Sam Po Kong” karya Remy Sylado yang super tebal itu (1111 halaman). Keluar pintu tol Bekasi jam 2 tepat. Hanya 2 jam perjalanan dari Bandung. Tapi Cibubur-Depok memakan waktu 2,5 jam lamanya. Sialan!
Sampai terminal Depok 16.30 wib. Mataku jelalatan cari warung makan. Bukan apa-apa, dari pagi aku lupa makan dan memang tak sempat makan. Bis tak ngaso di Purwakarta. Aku makan seperti kesetanan. Tanpa basa-basi aku melesat ke Stasiun UI. Tak sempat mampir ke rumah Rizal, kawanku, untuk sekadar istirahat mandi.
Naik kereta ekonomi menuju Stasiun Bojonggede. Isinya, Masyaallah! Kereta sudah seperti roti selai isi kacang: penuh meluber berjubel-jubel. Tapi aku tersenyum-senyum sendiri dalam hati: ini yang kucari dalam setiap perjalanan!
Tiba-tiba hujan deras tak kenal ampun. Kereta makin pengap. Sampai Stasiun Bojonggede hujan masih menggila. Mbak Titi SMS. Kujawab: kehujanan di stasiun. Lalu aku mencari warung rokok. “Surya 16″ yang kucari tak kutemukan. Akhirnya kupilih “Djarum Super” saja. Aku naik ojek menuju rumah Pram. Biar cepat.
“Rumah siapa ini, Bang?” tanya tukang ojek penasaran, “Besar amat!”
“Pram! Penulis.” jawabku tersenyum sembari mengeluarkan beberapa
lembar ribuan.
Aku mengibas-ngibaskan kemejaku yang sedikit basah. “Makasih Bang!” teriaku.
17.30 aku tiba. Kubuka gerbang. Sepi. Tapi pintu ruang tamu terbuka. Aku berjalan menuju teras depan. Tiba-tiba seorang lelaki tua nongol di pintu. Aku melambaikan tangan sambil membuka sendal gunungku di tangga. Menaiki teras. Pak Pram menyambutku.
“Sendirian?”
“He-eh!”
“Masuk.”
“Ya.”
“Sudah makan?”
“Tadi di terminal Depok.
“Makan lagi sana.”
“Masih kenyang ah.”
Pak Pram menyalakan lampu ruang tamu. Di dapur kulihat Ibu Mae dan Mbak Titi sedang menonton tv. Kulambaikan tangan. Ibu Mae tersenyum, Mbak Titi berdiri menghampiri.
“Kopi ya?” tawar Mbak Titi. Aku hanya nyengir.
Kini duduk berdua dengan Pak Pram di meja samping tangga. Ia mulai mengeluarkan “Djarum Super”-nya. Aku pun mengeluarkan.
“Lho sama!” ujarnya mengomentari merk rokokku. Aku hanya tersenyum.
Malam itu kami berdua ngobrol di meja. Sembari menyeruput kopi. Kepulan asap menguasai atmosfir.
Pram masih saja seperti biasanya: memakai celana kaos biru, atasan oblong, kaus kaki, selop kulit, dan sarung tangan. Kedinginan, katanya.
“Tadi sempat dengar petir?”
“Enggak. Kenapa memang?”
“Tadi ada petir, keras sekali! Luar biasa sekali!”
Sebetulnya ini perkunjungan kerja. Aku memerlukan wawancara dengan Pram untuk buku “Tragedi 65″. Maka langsung saja kukeluarkan tape recorder. Kini pembicaraan mulai serius.
Pram mulai cerita tentang tragedi 40 tahun lalu itu. Isi pembicaraan ini dapat disimak dalam buku “Tragedi 65″ yang Insyaallah akan terbit pada 30 September 2005 nanti.
Saat bercerita suara Pram terkadang keras, meledak, geram, tapi juga tersenyum, tertawa pun ngakak.
Ia bercerita tentang siapa yang musti bertanggungjawab atas Tagedi 65. Ia mulai menunjukkan hipotesa atas sebuah konspirasi. Ia bercerita tentang korban-korban atas Tagedi 65. Ia bercerita tentang apa yang ditanggungnya atas Tragedi 65. Ia bercerita tentang mentalitet sebuah bangsa. Ia bercerita tentang Soekarno. Tentang angkatan muda. Tentang tuntutan yang harus terus dilanjutkan atas kejadian itu. Ia bercerita dan terus bercerita.
Kami ngobrol cukup lama. Entah sudah berapa batang yang Pak Pram bakar. Aku pun tak kalah rakusnya.
“Makan sana!” tukasnya lagi.
“Masih kenyang saya…”
“Kan jarak makan di terminal sudah lama.”
“Ya tapi belum lapar.”
“Enak makannya di terminal?”
“Yah, tadi makan cuma untuk ngisi perut aja. Nggak cari rasa.” Pram ngakak.
Mbak Titi keluar dari dapur menuju ruang tamu. Duduk berhadapan denganku.
“Nginep sini ya.” ujar Pak Pram.
Dalam hati aku bersorak.
“Iya, nginep sini saja.” timpal Mbak Titi.
“Di lantai lima.” tambah Pak Pram.
Aku mengangguk.
Kali ini obrolan santai-santai saja. Rokok terus mengepul. Isi kopi tinggal setengah. Jarum pendek mulai merangkak ke angka delapan. Pak Pram bangkit. Ke kamar mandi. Biasa, kencing. Ia memang musti bolak-balik kamar mandi buat buang air kecil.
Keluar kamar mandi, Pak Pram menghampiriku di meja. “Saya tidur duluan ya…” Aku mengangguk. Ia mulai menaiki tangga. Ke lantai 2, kamar sebelah perpustakaan.
Dan warna hitam malam mulai menyelimuti Bojonggede. Tiba-tiba hujan kembali turun. Suaranya ditingkah dengan angin yang datang dari samping bukit. Aku memandang keluar. Berarti aku memang musti tinggal di sini, batinku.
Malam makin gelap.
Depok, 26 Agustus 2005, Jum’at, 19.55 wib

