Obrolan Yang Menyenangkan

Pak Pram sudah masuk kamar di lantai 2. Aku masih duduk di samping tangga. Ibu Mae sudah membereskan dapur. Ditemani Mbak Rina, adik Mbak Titi, kini ia mulai menyalakan tv ruang tamu. Nonton sinetron. Aku ke kamar mandi.

Keluar kamar mandi Mbak Titi sudah mengajakku ngobrol di meja tempat semula.
“Gimana dengan ‘Bumi Manusia’?” tanyaku memulai.

“Itu dia… Masih belum.”

“Ha?” aku terbelalak.

“Tunggu sebentar.” tukasnya beranjak ke perpustakaan di lantai 2.

Tak berapa lama ia sudah kembali. Membawa segepok majalah berisi foto-foto Indonesia jaman Hindia Belanda dulu.

“Saya membayangkan cover ‘Bumi Manusia’ seperti ini…” terangnya sembari menunjukkan foto-foto dalam majalah yang sudah lagi ia beri tanda.

Semua majalah ia beberkan di meja. Ada foto kereta kuda, gedung-gedung khas Hindia Belanda di abad pergantian. Ada foto lelaki berpakaian Madura yang ia bayangkan sebagai Darsam. Ada foto perempuan yang ia bayangkan seperti Annelies. Dan malam itu kami terlibat obrolan panjang, serius, saling tukar argumen, saling mengemukakan alasan, saling beradu pandangan soal penggambaran cover Tetralogi terbitan terbaru dari Lentera Dipantara, terutama Bumi Manusia.

Malam makin merembet. Dan kami masih saja terus memperbincangkan
seluruh konsep cover Tetralogi, terutama Bumi Manusia. Sementara di
samping ruang tamu, Ibu Mae dan Mbak Rina sedang tenggelam dalam
sinetron. Akhirnya perbincangan soal cover Bumi Manusia pun kami
hentikan.
“Kalau nanti sudah mau makan bilang ya…” ujar Mbak Titi. “Saya mau nonton sinetron dulu ya…” ujar Mbak Titi nyengir. Aku hanya mengangguk tertawa.

Aku memilih duduk di teras. Sendirian. Mengepulkan, tentu saja, rokok. Malam makin sunyi. Tetangga sekitar sudah tak terdengar lagi. Alunan musik malam makin kentara. Yang terdengar di sini tak lain kecipak air mancur di samping teras dan dentuman nyanyian Rhoma Irama di tv. Rupanya Ibu Mae, Mbak Titi dan Mbak Rina sedang memelototi si raja dangdut itu. Sesekali kudengar mereka menimpali dengan cerita soal Bang Rhoma atas kehidupan pribadinya.

Tiba-tiba listrik mati. Rumah menjadi gelap. Tegangan tak kuat. Aku mencari saklar pusat di samping rumah. Menggeser kembali. Ibu Mae pun kembali menikmati lengkingan Bang Rhoma.

Penggunaan listrik di rumah ini memang terhitung besar. Selain penerangan, listrik digunakan untuk hal-hal yang sangat membutuhkan daya tak kecil. Pak Pram dan Ibu Mae, karena faktor usia, musti menggunakan air panas untuk mandi. Belum lagi kolam renang yang airnya musti terus dipelihara. Belum mesin foto-copy. Sementara daya di rumah ini tak begitu besar. Sehingga listrik mati menjadi hal biasa di rumah besar ini.

Aku kembali melamun sendiri. Suasana di sini tenang. Sangat tenang. Begitu tenang. Jauh dari keramaian. Tak ada hiruk pikuk. Tak ada bising kendaraan. Tak ada pengap udara. Tak ada orang saling memaki. Tak ada yang menjengkelkan hati. Aku betul-betul menikmati dalam kesendirianku melamun di teras depan.

Cukup lama aku melamun. Waktu terus merembet. Tiba-tiba Mbak Titi nongol di balik pintu.
“Makan?”

“Nanti deh Mbak. Belum begitu lapar.”

Mbak Titi pun ikut menemani duduk di teras. Malam makin menunjukkan wajah aslinya. Kali ini obrolan mulai ke hal-hal sederhana namun bersifat pribadi.

Mbak Titi mulai cerita tentang kehidupannya sebagai anak bukan seorang sastrawan. Melainkan bercerita sebagai anak seorang lelaki pada umumnya yang kebetulan bernama Pramoedya Ananta Toer.

Bagaimana kehidupan rumah tangga Pak Pram dan Ibu Mae. Bagaimana cerita jika mereka sedang “berantem”. Bagaimana sikap Pak Pram terhadap anak-anaknya. Terhadap Ibu Mae dan adik-adiknya.

Ya, cerita lebih mengarah pada hal-hal kehidupan keluarga dan pribadi Mbak Titi sendiri. Terkadang aku harus menyorongkan kupingku untuk mendengar suara Mbak Titi agar lebih jelas. Karena ia kadang bercerita dengan suara lirih. Terkadang penuh kesedihan, terkadang dengan mata berkaca-kaca, terkadang sembari menghela nafas, terkadang tersenyum getir.

Ah kehidupan si manusia. Hanya pribadi-pribadi pemberani yang berani melebur masuk ke dalamnya. Bertahan untuk tetap menjadi manusia. Bukan untuk kalah atau menang, namun lebih untuk tetap menjaga martabat sebagai seorang manusia. Manusia mana tak punya masalah? Semua memiliki segi-seginya sesuai dengan warna serta tingkat kesulitan yang tak pernah seorang pun dapat mengira.

Dan perempuan di sebelahku kembali bercerita soal masa kecilnya, masa mudanya, masa dewasa, masa mandiri, dan masa kehidupan yang entah berakhir kapan nanti.

Pukul 22.30 Mbak Titi mengajak makan. Perutku pun sudah mulai berbisik meminta. Kami berjalan ke dapur. Kulihat Ibu Mae tertidur di depan tv di ruang tamu. Dalam tampak tidurnya, betapa masih begitu cantiknya Ibu Mae. Mbak Rina sudah entah kemana. Tidur pasti.

Aku makan bersama Mbak Titi. Sayur nangka dan ikan acar. Ibu Mae yang masak. Makan kali ini baru kurasakan betapa nikmatnya. Di meja makan obrolan berganti soal terbitan karya-karya Pak Pram. Soal masa depan penerbit Lentera Dipantara, soal Hasta Mitra, soal jam kerja Mbak Titi yang kini total fokus pada Penerbit Lentera Dipantara, soal editing naskah Pak Pram, soal koreksi naskah Pak Pram, soal percetakan, soal desain isi, dan banyak lagi.

Usai makan, kami masih saja melanjutkan obrolan tentang penerbitan. Bahkan makin pelik. Tak berapa lama Mbak Titi membereskan meja. Aku membantu sebisanya.

Mbak Titi mulai mencuci piring. Aku melongok-longok 2 meja kerja Pak Pram yang kini berada di dapur. Di atasnya penuh dengan tumpukan ribuan kliping.

“Kenapa di dapur?”

“Sengaja. Biar dekat dan selalu ketemu Ibu.” jawab Mbak Titi.

“Kalau di perpustakaan pasti tenggelam sendirian dan jarang ke bawah ya?”

“He-eh.”

Dan malam pun makin membelah malam.

UI, Depok, 26 Agustus 2005, Jum’at 22.09