Suatu Malam di Bojonggede (3)
Menghabiskan Malam
Seusai makan malam dan obrolan di meja makan, Mbak Titi mengajakku melihat kamar yang bakal menjadi tempat inapku malam ini. Di lantai 5.
Kami menaiki tangga. Di lantai 2 tampak sebuah kamar dalam keadaan pintu terbuka. Berputar ke kiri, menaiki anak tangga lagi, lantai 3, merupakan ruang perpustakaan dimana terdapat kamar Pram di dalamnya (pada tulisan sebelumnya aku salah menuliskan lantai perpustakaan serta kamar Pram. Perpustakaan dimana ada kamar Pram di dalamnya merupakan lantai 3 dari rumah berlantai 6 ini).
Sampai di lantai 5, aku mendapat kamar pertama di pojok samping depan anak tangga. Di sebelahnya ada sebuah kamar besar serta kamar mandi di muka tangga. Mbak Titi mempersilahkan aku memilih kamar. Kupilih yang kecil. Kamar satunya terlalu besar dan luas untuk kutempati seorang diri. Apalagi di lantai 5! Sendiri pula! Aku memilih yang aman-aman saja (cerita-cerita “aneh” atau “ganjil” di rumah ini akan kuceritakan di tulisanku berikutnya). Pertimbanganku memilih kamar dengan ukuran kecil ternyata kusyukuri pada keesokan harinya!
Setelah meletakkan ransel, aku memeriksa kamar mandi. Ternyata Mbak Titi dan aku tidak menemukan saklar lampu kamar mandi. Lebih dari 10 menit kami habiskan untuk mencari gerangan di mana saklar lampu kamar mandi. “Saya lupa di mana tombolnya.” aku Mbak Titi. “Jarang ke lantai ini sih.” Aku hanya tertawa. Akhirnya kita simpulkan: kamar mandi tampa lampu malam ini! Mbak Titi pun turun.
Di kamar yang kecil terdapat sebuah tempat tidur ukuran sedang. Cukup untuk dua orang dewasa. Diselimuti seprei rumbai yang tampak bersih dengan dua bantal besar. Ada lemari laci juga ukuran sedang dengan dua kopor besar terkurap lelap di atasnya.
Di sisinya teronggok kursi plastik dengan sehelai sajadah menggantung di punggungnya. Selembar sarung kotak-kotak berdiam diri di dudukannya. Tak ada cermin di kamar ini, sehingga aku musti ke kamar sebelah untuk berkaca.
Setelah memeriksa keadaan kamar, kembali aku turun ke bawah. Kulihat Ibu Mae duduk di depan tv ruang tamu. Posisinya menghadap tv, namun matanya sudah terlelap. Mbak Rina sudah tak ada di sana. Mbak Titi, dimana Mbak Titi ya… Tak kulihat. Aku menuju teras depan rumah. Kembali duduk di sana dan tentu saja: membakar rokok. Melamun lagi seperti tadi.
Aku jalan-jalan di halaman rumah. Melihat-lihat keadaan. Betapa sunyi daerah sini. Terutama rumah ini. Penghuninya hanya empat orang: Pak Pram, Ibu Mae, Mbak Titi dan Mbak Rina. Anak-anak Pak Pram lainnya bertebaran di Jakarta.
Dulunya di rumah ini ada dua orang satpam yang berjaga di malam hari. Tapi justru dengan adanya satpam, keamanan malah tak begitu terjamin. Sebuah traktor kecil sempat hilang dulu di ladang. Hasil ladang pun kerap lenyap. Jagung, singkong atau pisang sering amblas dari pohonnya. Kini semua urusan rumah dipegang penuh oleh Mbak Titi.
Malam makin hitam. Saat jalan-jalan di halaman, Mbak Titi keluar dari rumah. Tampak seperti mencari-cari sesuatu di teras. Lalu kembali masuk ke ruang tamu. Kudengar sebuah pembicaraan:
“Gembok gerbang di mana, Mi?” tanya Mbak Titi.Ada sebuah jawaban yang kurang begitu kentara, tapi itu suara Ibu Mae.
Mbak Titi keluar lagi. Mencari sebuah pot kembang dimana tergeletak seonggok gembok di situ. Aku menghampiri. Membantu mengunci gerbang depan yang dilindungi keteduhan tanaman merambat.
Kami sempat berbincang di gerbang. Sembari mengelilingi halaman, Mbak Titi bercerita asal-muasal sejarah tanah serta rumah ini. Tanah ini dibeli Mbak Titi untuk dijadikan rumah peristirahatan di pinggiran Jakarta. Dulu harganya masih lagi Rp 6.000 per meter. Bayangkan: Rp 6.000 per meter! Tapi dulu tak seluas tanah yang sekarang ini. Setelah dibeli Mbak Titi, tetangga-tetangga sebelah mulai menjual tanahnya pula. Tentu sudah tak 6.000 perak lagi. Sedikit demi sedikit hingga seluas sekarang ini.
Dengan alasan ingin memberi kejutan untuk Pak Pram, Mbak Titi sempat merahasiakannya. Tapi Pak Pram curiga, kenapa Astuti sering pulang pergi Jakarta-Bojong. Lama-lama Pak Pram ingin ikut: gerangan ke mana Titi pergi. Akhirnya ketahuan juga: Astuti telah membeli sebidang tanah luas di Bojong. Melihat itu, Pak Pram ingin ikut bersumbang biaya. “Aku nggak mau pulang ke Jakarta. Aku mau tinggal di sini.” ucap Mbak Titi menirukan Pak Pram saat pertama kali ke Bojonggede. Perlu diketahui juga, dulunya di tanah ini hanya terdapat rumah panggung dari kayu di ujung ladang.
Mbak Titi bercerita, bahwa tanah ini sejatinya akan dibangun untuk tempat tinggal seluruh anak Pak Pram. Tanah yang kini dijadikan kolam renang serta kolam ikan semestinya untuk dibangun rumah bagi adiknya. Sementara rumah besar yang berdiri megah di seberang kolam renang dibangun dengan persiapan fondasi untuk 10 tingkat. Awal dibangun hanya satu tingkat. Karena Pak Pram memutuskan tinggal di Bojong dan tak mau lagi tinggal di Jakarta, tingkat-tingkat berikutnya pun dibangun.
Kini rumah besar tersebut berlantai 6. Bidang miring yang merupakan bukit membuat rumah ini berlantai 6. “Rencananya satu lantai untuk satu anak,” ujar Mbak Titi. “Tapi memang nggak mungkin kalau semua adik-adik tinggal di sini semua. Mereka kan juga punya keluarga. Padahal saya sudah menyiapkan kapling untuk masing-masing. Ya supaya jangan sampai ada yang rebutan. Tapi adik-adik saya baik semua. Mereka nggak pernah mempersoalkan itu.” terang Mbak Titi panjang lebar.
Malam makin larut. Kami berbincang di samping kolam renang di bawah tenda payung di seberang rumah besar. Sesekali ada kepak kelelawar di antara pohon-pohon di halaman. Suasana begitu sunyi. Senyap. Tapi dari dalam rumah terdengar dentuman suara tv begitu keras.
Pukul 23.00 kami masuk ke dalam rumah. Kulihat Ibu Mae sedang memegang kemoceng membersihkan organ di dapur (atau ruang makan, atau ruang tengah, atau ruang kerja Pak Pram atau banyak lagi yang bisa disebutkan penggunaan ruang belakang itu!).
“Ibu…” seruku kaget. “Malam-malam kok bersih-bersih?”Yang ditanya menyahut begitu mesranya. Manis sekali senyumnya. “Iya… habis kotor…” sahutnya lembut.
Gerbang telah dikunci. Pintu ruang tamu pun sudah tertutup. Kami pun bersiap ke kamar masing-masing. Aku pamit pada Ibu Mae dan Mbak Titi untuk naik ke lantai 5. Aku pun meniti tangga. Melewati lantai 3 tempat dimana Pak Pram telah terlelap di sana.
Demi mengingat tak ada lampu di kamar mandi, akhirnya pasrah malam ini aku tak mandi sejak kepergianku dari Bandung pagi hari tadi. Ya sudah, cukup gosok gigi saja. Korek gas pun jadi lenteraku.
Tak berapa lama aku masuk kamar. Kusibak gorden, kulihat genting atap persis di depanku. Di sampingnya tampak desa Bojong dengan kerlap-kerlip lampunya. Aku malas membakar rokok.
Teringat pada buku “Sam Po Kong” karya Remy Sylado di ranselku, aku pun tenggelam dalam pelayaran muhibah Ceng Ho, utusan Kaisar Ming dari Cina yang berlayar ke seantero Nusantara pada tahun 1400-an itu. Aku tenggelam dalam nuansa kerajaan Majapahit di saat Wikramawardhana, menantu Wayam Wuruk, masih lagi berseteru dengan Wirabumi, anak selir Hayam Wuruk dalam berebut tahta Majapahit (dalam sejarah dicatat sebagai Perang Paregreg: 1406).
Lelap pun menjemputku.
Malam makin kelam…
Malka, Bandung, 28 Agustus 2005, Minggu, 15.55 wib

