Archive for September, 2005

Toko Buku Harus Bangun Komunitas

Pikiran Rakyat, Kamis, 29 September 2005

 

Ini cukup menarik, karena ternyata pendirian toko buku alternatif ini memiliki kunci tersendiri. Seperti kata Daniel Mahendra, pemilik pondok sastra Rumah Malka, yang penting membangun komunitasnya. Ini bisa dilihat dari Tobucil dengan klab-klab kreatifnya, Rumah Buku dengan Eksponen Textour-nya, dll.

 

Jadilah sebuah sinergi, komunitas literasi juga maju, seiring dengan pendirian toko buku alternatif. Upaya membangun komunitas ini dilakukan pula oleh Daniel dalam mengelola Rumah Malka.

 

Berikut obrolan Kampus dengan jebolan Fakultas Ilmu Komunikasi Univeritas Islam Bandung jurusan jurnalistik.

Continue Reading »

Tiga Harmal di Utan Kayu

Perjalanan Malam

Aku meluncur dengan kereta Parahyangan. Isi kereta sepi. Rata-rata orang duduk seorang diri. Begitu pula aku. Bandung sudah tak tampak lagi. Di luar jendela kereta kulihat kerlap-kerlip mobil berlomba dengan lajunya kereta. Aku tak bisa terlelap.

Sampai stasiun Jatinegara Jakarta pukul 23.00 malam. Kereta telat tigapuluh menit. Aku ngeloyor keluar stasiun. Sebuah taksi kunaiki. Kurang lebih setengah jam kemudian pintu pagar sebuah rumah di Jalan Multi Karya II No. 26 Jakarta Timur dibuka.

Astuti Ananta Toer yang membukakan pintu. Aku membantu mengunci kembali. Masuk ruang tamu. Sepi. Semua sudah tidur tampaknya. Tinggal Mbak Titi yang masih terjaga menunggu kedatanganku. Tak enak rasanya telah membuatnya terjaga.

Continue Reading »

Suatu Malam di Bojonggede (5)

Matahari Pamit Pulang

Pak Pram bercerita, saat di Pulau Buru cara bersetubuh penduduk pedalaman Buru seperti halnya (maaf) binatang “Seperti binatang saja, dari belakang.” terang Pak Pram sembari mencontohkan dengan kedua belah tangannya ditumpukan jadi satu. Ketika terjadi persetubuhan antara Tapol lelaki dan perempuan pedalaman Buru, cerita menjadi seru.

Si perempuan pedalam buru berteriak lantang, “Kena semua!!” seru Pak Pram menirukan.

“Apanya yang kena semua?” tanyaku bego. Continue Reading »

Suatu Malam di Bojonggede (4)

Pisang Goreng Pagi Hari

Aku terbangun sekitar pukul 05.30 wib. Tapi rasanya mataku masih diganduli batu sebesar gunung. Aku masih lagi tergeletak di tempat tidur. Terang sudah mulai mengetuk pintu. Tapi aku betul-betul turun dari tempat tidur pukul 07.30. Keluar kamar langsung masuk kamar mandi. Ternyata masih malas mandi.

Turun dari lantai 5, di ruang tamu kulihat Pak Pram sedang membaca koran: Kompas dan Jakarta Post. Kuucapkan selamat pagi. Ia tersenyum. Continue Reading »