Matahari Pamit Pulang

Pak Pram bercerita, saat di Pulau Buru cara bersetubuh penduduk pedalaman Buru seperti halnya (maaf) binatang “Seperti binatang saja, dari belakang.” terang Pak Pram sembari mencontohkan dengan kedua belah tangannya ditumpukan jadi satu. Ketika terjadi persetubuhan antara Tapol lelaki dan perempuan pedalaman Buru, cerita menjadi seru.

Si perempuan pedalam buru berteriak lantang, “Kena semua!!” seru Pak Pram menirukan.

“Apanya yang kena semua?” tanyaku bego.

“Ya kena semua, karena posisi si perempuan kan terlentang di bawah. Sementara si lelaki menindihnya dari atas. Kena semua, teriak si perempuan. Kan beda dengan cara mereka sebelumnya, dari belakang.”Mendengar itu aku ngakak bukan kepalang. Lelaki tua di depanku ini rasanya bukan seorang sastrawan besar saja. Ia seperti lelaki biasa pada umumnya. Bercerita, berkelakar, berseloroh. Dan yang diceritakan soal posisi bersetubuh pula. Ada-ada saja! Tapi segalanya menjadi tampak alami dan manusiawi. Pram ya lelaki juga. Ya suami, ya ayah, ya kakek, ya apa adanya.

Usai makan siang bersama Pak Pram, Mbak Titi mengajakku ngobrol di teras. Tak berapa lama Mas Yudhi bergabung. Kami ngobrol cukup lama. Mulai dari hal-hal biasa hingga pada topik yang sangat serius.

Hal-hal biasa menyangkut obrolan “cerita-cerita seram” di rumah ini. (obrolan soal bagaimana Mbak Titi dan Mas Yudhi bercerita tentang pengalaman mereka selama Pak Pram di Pulau Buru, akan aku rawikan di tulisanku kemudian: “Tiga Harmal di Utan Kayu“).

Hari terus merangkak. Kami ngorbol tak ada habisnya. Segelas kopi disodorkan Mas Yudhi untukku. Ia turut menyulut rokok. Soal “cerita-cerita seram” di rumah ini, yang sejatinya hendak kutuliskan di sini, dengan berbagai pertimbangan, kuurungkan. Akan lebih baik kuceritakan secara lisan saja kalau memang tersempat bertemu. Selain akan terasa lebih greget, kupikir tak baik menceritakan secara tertulis bahwa di rumah Bojonggede tak sekali dua ada “kejadian atau cerita seram”. Itu mengapa di tulisanku sebelumnya, aku bersyukur memilih kamar ukuran kecil di lantai 5 ketimbang kamar besar. Tapi pada dasarnya, di rumah ini aman-aman saja kok.

Obrolan terus berlanjut. Diselingi antara rokok, kopi, dan setumpuk majalah terbitan Belanda sebagai bahan pembicaraan serius. Kami berbincang pula soal pekerjaan. Obrolan menjadi sangat-sangat serius. Matahari sudah mulai condong. Aku ngeloyor ke kamar mandi, sembari berpikir, kapan aku pulang…

Kulihat Pak Pram sedang membaca sebuah majalah. Aku lupa melihat majalah apa. Ya, sejatinya Pak Pram masih lagi bisa membaca. Tidak seperti yang selalu ia seru-serukan pada publik: “Membaca saja saya sudah tidak bisa.” Nyatanya ia masih selalu melalap bacaan. Koran dan majalah masih ia lalap. Bahkan setiap ada orang mengiriminya buku, kalau menarik, ia pasti membacanya. Buku apa pun itu. Memang tampak kesulitan karena kondisi mata. Tapi senyatanya ia masih suka membaca.

Kalau Mbak Titi pulang dari toko buku, sudah dapat dipastikan: buku parkir ke kamar Pak Pram terlebih dahulu. Bahkan Pak Pram suka “mengambili” buku-buku yang baru dibeli Mbak Titi yang bahkan dibaca oleh Mbak Titi saja belum. Kalau Mbak Titi mendapati buku barunya raib di kamar, sudah dapat dipastikan: buku sedang parkir ke kamar Pak Pram. Hingga kadang Mbak Titi kerap membeli buku dua biji dalam setiap judul. Bukan apa-apa, Pak Pram memang suka “nyolong” buku baru dari kamar putrinya itu. Kalau sudah seperti itu ia kerap lupa mengembalikan. Asyik ia baca saja sendiri.

Keluar kamar mandi kudapati Mbak Titi masih duduk di teras. Mas Yudhi dan Ibu Mae sedang ke ladang. “Aku pulang Mbak,” dan kami pun berjalan ke ladang, pamit pada Ibu Mae dan Mas Yudhi.

Kembali lagi ke teras, kugendong ranselku. Kulirik ruang tamu, Pak Pram sedang terkapar dengan santainya di lantai ruang tamu. Ia tergeletak tidur, dengan mulut terbuka dan lengan menutupi mata, sementara kakinya terbuka lebar. Aku tertawa melihat itu. Ya, bagaimana tidak, ia seorang Pramoedya Ananta Toer, tapi ia pun seorang lelaki biasa pula. Seorang lelaki tua yang bisa tergeletak di lantai ruang tamunya sendiri lengkap dengan dengkurannya. Ia seorang manusia.

Aku betul-betul memutuskan pulang sore ini. Kutinggalkan rumah Bojong. Aku berlomba dengan matahari senja. Aku berkejaran dengan sinarnya. Menyetop angkot menuju stasiun Bojonggede, meluncur ke Depok.

Isi kereta jurusan Jakarta pada jam sesore ini sungguh melegakan. Tidak penuh berdesak-desakan. Seorang pengamen tunanetra dengan tape tergantung di leher melenakan aku. Lagunya Titip Rindu Buat Ayah-nya Ebiet G Ade. Tanpa sadar aku mengikuti liriknya dalam gumaman. Aku betul-betul menikmati sajak sore ini. Tiba-tiba aku ingin cepat-cepat pulang ke Bandung.

Sampai Depok, rasanya kelelahan datang mengetuk pintu tubuh. Kuputuskan menginap di rumah kawanku Rizal. Baru besok pagi-pagi benar meluncur naik ke Bandung. Tapi Rizal belum pulang kantor. Aku sedang malas mengobrol. Kuputuskan tidak mengontak Nissa Cita atau Arnelis di Depok sebagai kawan mengobrol. Entah sedang di mana mereka. Kepala terasa penuh, banyak yang ingin ditumpahkan. Kumasuki sebuah warnet. Aku menunggu Rizal hingga malam. Selesai sudah cerita Suatu Malam di Bojonggede. Cerita selanjutnya Tiga Harmal di Utankayu. Perkunjungan-perkunjungan berikutnya masih terus berlanjut. Lebih erat, lebih akrab, lebih mesra.

Begitulah.

Rumah Malka, 25 September 2005, Minggul, 17.41 wib.