Tiga Harmal di Utan Kayu
Perjalanan Malam
Aku meluncur dengan kereta Parahyangan. Isi kereta sepi. Rata-rata orang duduk seorang diri. Begitu pula aku. Bandung sudah tak tampak lagi. Di luar jendela kereta kulihat kerlap-kerlip mobil berlomba dengan lajunya kereta. Aku tak bisa terlelap.
Sampai stasiun Jatinegara Jakarta pukul 23.00 malam. Kereta telat tigapuluh menit. Aku ngeloyor keluar stasiun. Sebuah taksi kunaiki. Kurang lebih setengah jam kemudian pintu pagar sebuah rumah di Jalan Multi Karya II No. 26 Jakarta Timur dibuka.
Astuti Ananta Toer yang membukakan pintu. Aku membantu mengunci kembali. Masuk ruang tamu. Sepi. Semua sudah tidur tampaknya. Tinggal Mbak Titi yang masih terjaga menunggu kedatanganku. Tak enak rasanya telah membuatnya terjaga.
“Kopi Mas?”
“Kalau boleh air dingin saja Mbak.” tawarku.
Air dingin pun kuteguk habis. Mbak Titi masuk kamar. Begitu keluar sudah membawa segepok naskah JRP-JD yang siap kukerjakan. Ada dua naskah di tangannya. Satu merupakan naskah asli ketikan Pak Pram hasil mesin ketik. Warna kertasnya sudah kekuning-kuningan. Ditulis pada tahun 1995. Satu lagi sudah dalam bentuk ketikan MS-Word.
Tugasku adalah mengoreksi, mengedit serta mencocokkan tahun-tahun peristiwa dengan fakta aslinya. Kesalahan tulis, ejaan, juga ketepatan dengan naskah asli. Intinya, secara substansial aku tidak merubah sama sekali. Naskah Pram! Bagaimana mungkin kurubah-rubah! Aku lebih ke hal mekanikal serta ketepatan fakta sejarah.
“Mau mengerjakan sekarang atau tidur dulu, baru besok mulai?” tanya Mbak Titi. Ia tau jam produktif kerjaku juga pada dini hari seperti ini.
Jarum panjang pada jam sudah merembet mendekati angka 12 malam. “Aku masih belum ngantuk. Akan kubaca dulu semua. Baru besok pagi mulai kukerjakan.
“Perlu buku-buku pendukung tentang HWD?”
“Besok saja.”
Setelah obrol-obrol sejenak, aku pun naik ke atas. Ke kamar yang kan kutempati. Dulu lantai atas ini merupakan perpustakaan Pak Pram sebelum dipindah ke rumah Bojonggede. Kini dijadikan kamar demi kamar bagi anak-anak serta cucu Pak Pram. Bagian atas rumah Utankayu ditempati keluarga Mbak Ian (Tatiyana Ananta Toer). Bagian bawah ditempati keluarga Mas Yudhi (Yudhistira Ananta Toer).
Kini aku di atas seorang diri. Lagi-lagi kamar mandi tanpa lampu. Hahaha! Aku jadi tertawa sendiri dalam hati. Di lantai 5 rumah Bojonggede, kamar mandiku tanpa lampu. Lha kok di Utankayu aku mendapati kamar mandi tanpa lampu juga!
Keluar kamar mandi aku memeriksa ruangan. Aku keluar teras. Kupandangi suasana sekeliling. Rumah, rumah dan rumah belaka yang kudapati. Dulu di ujung kiri rumah Utankayu masih terdapat halaman kosong dimana Pak Pram menghabiskan waktu untuk membakar sampah. Kini telah disulap (Pak Pram menyebutnya “istana”), menjadi sebuah rumah mewah yang dipergunakan sebagai bengkel mobil. Melihat bentuk bangunannya yang mewah, orang bakal sangsi kalau itu bengkel mobil.
Sebelah kanan rumah Utankayu merupakan kediaman anggota KPU: E. Suasana betul-betul sunyi. Aku merokok sebatang sembari berpegangan di pilar teras. Teras ini selain dijadikan tempat menjemur pakaian, juga terdapat meja kaca bulat besar dirubungi kursi rotan. Sebuah white board tertempel manja di dinding. Ada tulisan tentang tajwid Qur’an di sana. Sepertinya ini tempat mengaji cucu-cucu Pram.
Bosan di luar aku masuk ruang tengah. Foto-foto Pram berserakan di setiap dinding. Ada foto Pram bersama mantan Presiden Adam Malik dan Hasyim Rachman. Sisanya foto-foto Pram bersama keluarga. Melihat lampu ruang tengah tampak suram, kuputuskan membaca naskah JRP-JD di kamar saja. Terasa lebih terang.
Kamar ini kamar cucu Pram. Isinya mainan melulu. Entah ada berapa ribu mainan di dalamnya. Dindingnya ditempeli foto-foto artis perempuan Mandarin terkenal. Tapi tak satu pun kukenal. Kunyalakan kipas angin. Maklum, aku tak biasa tinggal di Jakarta yang panas itu. Kipas angin menjadi satu syarat tersendiri bagiku. Aku mulai menaiki ranjang. Dua naskah JRP-JD pun mulai kugasak dan kulalap.
Banyak coretan pada naskah asli JRP-JD yang merupakan naskah hasil ketikan Pram. Melihat tulisannya merupakan koreksi coretan Pram sendiri. Naskah ini menggunakan kata ganti orang pertama: aku, sebagai si pencerita. Sudah sejak saat itu aku menemukan 4 kesalahan penulisan ‘aku’ menjadi ‘saya’ pada naskah asli tersebut. Tapi tanpa koreksi dari Pram sendiri. Kalau lolos sampai naik cetak tentu kan mengkhawatirkan.
Aku membaca dan terus membaca. Aku sudah tak ingat kini jam berapa. Yang pasti kantuk mulai datang mengetuk pintu sadarku. Dua naskah JRP-JD pun tergolek entah bagaimana. Kipas terus berputar. Malam ini aku tidur di rumah Utankayu. Aku pun terlelap. Bermimpi tentang seorang lelaki yang berjalan di tengah savana. Matahari terasa galak menyengat. Keringat menelusuri setiap lekuk tubuhnya.
Tapi di ujung sana tampak ada seorang gadis menunggu si lelaki. Menunggu di bawah rimbunnya pohon. Gadis itu bukan gadis tercantik yang pernah dilihat si lelaki. Tapi ia begitu manis serta sedap untuk dipandang berlama-lama. Menyejukkan hati. Mendamaikan jiwa. Di tangannya ada selendang berwarna biru. Si lelaki ingin meraihnya. Tapi tampak terasa jauh. Jauh sekali… Ia sudah berjalan beratus musim, tapi rasanya gadis itu tak teraih. Ia terus berjalan, gadis itu tetap saja terasa jauh. Si lelaki mulai kelelahan meski tetap terus berjalan.
Tiba-tiba aku sudah terbangun saat matahari mulai mengintip Jakarta. Cerita tentang lelaki dan savana dan gadis dengan selendang biru pun turut lenyap seketika. Aku hanya bisa menghembuskan nafas untuk kemudian tidur kembali. Dasar pemalas!
Rumah Malka, 27 September 2005
Selasa, 12.36 wib

