Archive for October, 2005

Masih Kamu

 

ternyata masih melulu kamu yang duduk bersemadi di ujung sana,

tanpa pamrih, tanpa keluhan, tidak disertai berbagai keinginan

ternyata masih melulu kamu yang berdiri memandangiku di sana,

tidak mengejar, tidak dikejar, tidak mendahului, tidak didahului

ternyata masih melulu kamu yang bersandar di sana,

tanpa cinta, tanpa cumbu, tanpa lenguh, tanpa peluh

ternyata masih melulu kamu yang tersenyum di sana

dengan seribu makna yang tak pernah kita rumuskan hulu-hilirnya

tiga belas tahun bukanlah masa yang sebentar

untuk memahami bahwa dunia bukanlah milik orang-orang sentimentil

bukan juga waktu yang terlalu lama untuk tetap mengerti

bahwa apa yang terjadi selama ini:

merupakan kwantitas sekaligus kwalitas yang tiada ada bandingannya

kau selalu ada untuk aku

kau pun siap menghilang untuk aku

masih juga kau yang memapahku kembali ketika kuterjatuh

juga masih engkau yang memberikan bahu saat aku menangis

kau orang paling mengerti atas kesepianku yang tak pernah tuntas ini

tapi bukankah setiap orang pun pernah mengalami masa-masa surut?

kumohon, betul-betul kuminta:

meski kita begitu saling menyayangi,

jangan pernah terbit sederet kalimat cinta yang memabukan dari mulutmu

karena hanya kaulah satu-satunya yang tersisa yang tinggal kumiliki

yang tidak pernah mengotori perjalanan bersih ini

dengan seribu kalimat yang selalu berakhir sia-sia itu

jika kita berani melanggarnya satu kalipun saja,

maka tumpaslah satu-satunya sisa yang kubanggakan

hanya karena engkaulah satu-satunya yang bisa berpikir obyektif tanpa pamrih

karena jika tidak demikan,

kau hanyalah satu dari deretan panjang yang tak berkesudahan

lantas bagaimna caranya aku membedakan kau dengan mereka?

aku tak mengizinkan itu terjadi!

jika kita berani melanggarnya satu kalipun saja,

maka selesai sudah pemaknaanku tentang suka cinta

tumpas pula segala keinginanku atas ribuan pemaknaan suka cinta

yang selalu saja bergelimpangan digerogoti peran

yang selalu saja bertumbangan dimakan ego

yang selalu saja berhamburan diausi kebutuhan

yang selalu saja berserakan dilalap keinginan

yang selalu saja berakhir sia-sia

dan waktu masih tetap terus berjalan

hingga kita menentukan sikap atas hidup kita sendiri

yang tersisa hanyalah hingga datangnya hari pernikahanmu

yang kau sendiri tak pernah memikirkannya sekalipun

entah kapan!

namun jika waktu itu pun tiba (kau tetap manusia normal toh?)

maka tibalah saatnya bagiku melepaskan seluruh perjalanan ini

melepas kau pergi

bersama suamimu yang terkasih

yang kau nikahi di hadapan Hyang Widi dengan segala cinta yang suci

di luar pura aku berjalan sendiri, tanpa kau, tanpa kau, tanpa kau sahabatku

: satu-satunya manusia yang tak pernah menginginkan apa-apa dariku

bukankah kita selama ini sepakat

bahwa keinginan adalah sumber penderitaan?*

 

17 Oktober 2005

 

* kalimat ini dari lagu Matahari, Iwan Fals

Memetakan Perbukuan di Tanah Jawara

book-2.jpg

RumahDunia.net, 12 Oktober 2005, 12.23

Oleh Aji Setiakarya

Beberepa pekan yang lalu, sepulang dari Jogjakarta saya singgah di Kota Bandung untuk mengunjungi seorang kawan; Heru Hikayat, perupa dan juga penulis asal Bandung. Selama dua hari saya berada di rumah Bang Heru. Saya berdiskusi kecil tentang buku, kepenulisan, komunitas baca, seni dan budaya Bandung. Berbicara tentang buku dan komunitas baca, akhirnya kami berbicara tentang toko-toko buku yang ada di Bandung. Jadilah Bang Heru bercerita mengenai toko buku alternatif yang telah menuai sukses dan diantaranya sudah saya kenal lewat media; Tobucil, Rumah Malka dan Ultimus.

Heru Hikayat menyuruh saya mengunjungi toko buku tersebut. Sebagai bahan perbandingan saya di Banten, katanya. Mendengar cerita dan anjuran bang Heru, saya sebagai “manajer” Kedai Buku Jawara*, tertarik. Saya ingin melihat pengelelolaan, pendisplayan, pelayanan sampai dengan pengunjung yang datang ke sana.

Continue Reading »

Sedikit Catatan Peluncuran Buku Tragedi Kemanusiaan 1965-2005

Oleh Daniel Mahendra

Buku Tragedi Kemanusiaan 1965-2005 diluncurkan pada hari Kamis 29 September 2005 pukul 18.00 wib di PDS HB Jassin TIM Jakarta. Hingga pukul 12.00 siang buku baru berangkat dari percetakan untuk dikirim ke Penerbit Malka.

Jangan ditanya bagaimana kebat-kebitnya aku menunggu datangnya buku. Selain kualitas cetakan, jarak berangkat menuju ke TIM menggelontori pikiranku. Dengan tol Cipularang jarak memang semakin singkat. Tapi kuperkirakan akan tiba keluar tol saat jam pulang kantor. Olala, akan betapa macetnya Jakarta. Continue Reading »

Bumi Manusia, Akhirnya!

Akhirnya, Bumi Manusia cetakan tahun 2005 kelar!

Pagi itu (Selasa, 3 Oktober 2005) Mas Yudhi (Yudhistira A Toer) datang ke Bandung.

“Aku bawa Bumi Manusia!” katanya di telpon.

Wow! Aku bersorak girang.

Ada adik ipar Mas Yudhi yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Aku meluncur ke sana. Ia keluarkan dua pucuk Bumi Manusia. Satu untukku. Satu lagi untuk Nadia. Karena perkunjungan besuk, jelas Mas Yudhi tak bisa mampir ke Malka.

Akhirnya cetak ulang seri pertama Tetralogi muncul! 

Continue Reading »

Ruang Baca Menolak Terkucil

Gatra, Nomor 47, Senin, 3 Oktober 2005

TAK puas dengan hubungan sebatas penjual dan pembeli, para pegiat toko buku di Bandung kini menawarkan sajian lain. Toko Buku Kecil yang terletak di Jalan Kiai Gede Utama 8, Bandung, misalnya, menawarkan beragam kanal untuk memikat pengunjung. Di sana kini ada klab menulis, klab diskusi, klab nonton, dan klab hobi. “Siapa saja bisa gabung. Modalnya cuma minat dan semangat,” ujar Tarlen Handayani, sang pemilik.Toko Buku Kecil, yang biasa disebut Tobucil, menggalakkan kegiatan-kegiatan itu dengan tujuan menggairahkan literasi lokal. “Intinya, mengajak orang gemar membaca,” kata Tarlen kepada M. Herri Ardi dari Gatra. Untuk mencapai tujuan itu, banyak jalan ditempuh, dari kegiatan yang berhubungan erat dengan buku sampai hal-hal yang tampaknya tak terkait dengan buku sama sekali.

Continue Reading »