Ketika Memutuskan Hidup Independen Secara Total

(Sebuah Catatan Omong Kosong)

Memutuskan sesuatu atas apa yang hendak kita ambil memang bukan persoalan gampang. Paling tidak bagiku. Itu merupakan pengambilan sikap pula kukira. Sikap kita terhadap hidup, juga sikap kita terhadap diri sendiri.

Ketika pada akhirnya betul-betul memutuskan hidup dari usaha sendiri, memang ada kenikmatan tersendiri. Baik itu perjuangannya, prosesnya, maupun hasilnya. Tapi juga bukan persoalan mudah. Meski kenikmatannya betul-betul luar biasa. Secara total, aku bisa lebih menikmati hidup ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Saat memutuskan berhenti dari posisi (kata orang sih!) Pemimpin Redaksi di sebuah tabloid bisnis “P” bulan Oktober 2004 lalu, bukan merupakan soal gampang bagiku. Gajinya, untuk ukuran orang berkarir, memang biasa saja. Tapi bagiku, uang jutaan untuk ongkos sebulan penuh tentu sangat-sangat dapat kuandalkan. Aku bisa nyicil motor dengan uang sendiri (aku pernah diberi motor dan mobil oleh orang tua, apa hebatnya?), bisa beli buku secara berlebih, bisa bantu-bantu kebutuhan mama di rumah (bapak sudah tak ada), bisa sedikit-sedikit nabung, juga yang terpenting: bisa kusisihkan untuk investasi menerbitkan buku bagi usaha penerbitanku.

Saat kerja di tabloid “P”, uang makan sehari-hari jelas ditanggung, uang transport (bensin) bisa klaim. Tentunya aku bisa bersyukur kalau mengatakan bahwa: saat itu sedikitnya aku jauh dari kekurangan uang. Meski yang namanya cukup memang tak ada parameternya. Kalau tak pernah bersyukur atas apa yang didapatkan, tentu orang akan terus dan terus merasa kurang. Meski gaji sebulannya puluhan juta sekalipun. Namanya juga manusia. Bersyukur memang jalan terbaik dan melegakan hati.

Tapi karena ada back-up gaji itulah, usahaku di luar pekerjaan kantor kurasa seperti setengah-setengah. Sejak bergabung di tabloid “P” tahun 2003 silam, yang tampak hanyalah Penerbit Malka (yang kudirikan tahun 2001), serta Malka-Open Mind Brand (produksi kaos bergambar sastrawan), plus Malka Distributor Buku Independen.

Aku malah tak bisa menghitung berapa keuntungannya. Aku dengan mudah menginvestasikan uangku pada penerbitan buku serta produksi kaos. Perhitungan keuntungan? Aku bahkah tak pernah memikirkannya. Jadinya soal uang kembali, sepintas seperti masa bodoh. Yang kupikiran saat itu hanyalah berbuat dulu. Tentu saja menjalankan usaha seperti itu sungguh sangat tak sehat. Namanya juga sebuah usaha, betapa pun tak berorientasi pada profit semata, tetap saja: sebuah usaha harus dijalankan dengan perhitungan berimbang. Beruntung aku bisa belajar dari pengalaman itu. Namun tetap saja aku merasa usahaku di luar kantor seperti berjalan setengah-setengah.

Bersambung ke Majikan Atas Diri Sendiri (2)