Pram 81 Tahun
Secuil Catatan Perjalanan
Tak banyak yang bisa kucatat dari acara ulang tahun Pram ke-81. Senin, 6 Februari 2006 lalu di Teater Kecil, TIM, Jakarta. Hanya karena desakan beberapa kawan yang membuatku tetap musti melunasi catatan perjalanan ini.
Dalam seminggu ini aku bolak-balik ke Jakarta. Tanggal 1 Februari 2006 kemarin mengiringi Pram ke RRI pusat Jakarta. Juga dalam rangka ulang tahun Pram. Turut hadir Parni Hadi (kini Direktur RRI), Daniel Dhakidae, dan Hepi Salma.Setelah acara di RRI Jakarta, aku minta turun sopir di Stasiun Gambir. Dan mobil yang berisi Pram, Mbak Astuti, Mas Yudhi dan Mujib pun meninggalkan aku.
Kini aku di Jakarta lagi. Aku berangkat dengan kereta api siang. Rencana turun di Stasiun Jatinegara agar lebih dekat ke rumah Pram di Utan Kayu, kuurungkan. Dengan bajaj aku menuju TIM di Cikini dari Gambir.
Sesampai di TIM (kurang lebih pukul 18.00), nongkrong dulu di tempat makan. Ngobrol dengan Mas Aji (Ags. Arya Dipayana –Teater Tetas). Kutinggalkan mereka sejenak. Aku ngeloyor ke Teater Kecil. Masih belum banyak orang. Ruangan luar diisi dengan bursa buku, juga pameran cover buku-buku Pram. Tak banyak yang bisa kukomentari dari pameran cover buku Pram dari berbagai penerbit dan bahasa dan negara ini. Selain sumbernya dari perpustakaan Pram sendiri di Bojonggede, beberapa saat lalu aku sempat ikut membicarakan rencana pameran cover ini dengan Mbak Astuti dan Mujib.
Aku nongkrong di stand Majalah Matabaca. Ada mbak Melvi di situ. Aku dipaksa mengambil cepat-cepat 2 edisi Matabaca yang memuat wawancara Matabaca denganku. 2 edisi Matabaca yang memuat wawancaraku belum kudapat sama sekali. Saat teman-teman di Bandung memberitahu lewat SMS tentang edisi Matabaca tersebut, aku malah belum melihatnya sama sekali (Toko Buku Malka baru kedapatan majalah Matabaca langsung dari distribusi Matabaca mulai edisi Februari 2006).Tiba-tiba kulihat Awie memasuki ruangan. Kukejar dia. Sempat terjadi sedikit pembicaraan dengannya tentang pameran cover buku ini. Pram dan keluarga belum datang (dalam hati aku menyesal tidak turun di Jatinegara dan langsung menuju Utan Kayu –hal yang selalu kulakukan setiap ultah Pram).
Aku kembali ke kedai makan. Bergabung bersama teman-teman di sana. Tak berapa lama aku menuju DKJ (Dewan Kesenian Jakarta). Ngobrol cukup lama dengan Mbak Ratna Sarumpaet. Aku sudah khawatir bakal ketinggalan acara. Cukup lama di DKJ. Juga mampir ke ruang Mbak Alin, kekasih penyair Yonathan Rahardjo.
Akhirnya kami pun turun dan berjalan ke Teater Kecil. Sudah banyak kawan yang nongol di sana. Aku menemui Mbak Astuti dan keluarga. Ada Ibu Maemunah, Mbak Rita (Setyaning Rakyat), Mbak Rina, Mbak Tatyana, dan Mas Yudhistira. Semua anak-anak Pram dari Ibu Maemunah. Cucu-cucu Pram pun banyak yang hadir.
Agus dan Ratna, dua mahasiswa UI jurusan perpustakaan yang setiap hari Sabtu selalu dapat ditemui sedang “mempercantik” koleksi perpustakaan Pram di Bojonggede, menyapaku. Lengkap dengan Sisi, cucu Pram, yang setiap hari kerja di perpustakaan Bojonggede. Hepi Salma menghampiriku, memperkenalkan kakak perempuannya. Kulihat dari pintu masuk Richard Oh, bos QB, melambai ke arahku. Mas Andreas Harsono (Pantau) sempat menyalamiku. Terakhir bertemu saat bincang buku 9 Elemen Jurnalistik di Bandung dulu. Ada Arnellis dan Dicky yang kukenal dari milis membacapramoedya.
Akhirnya aku hanya menghabiskan obrolan dengan Hepi Salma.
“Aku jam sepuluh ada life di TPI, Mas, dan aku diminta ikut tampil juga di acara Pram ini. Masih sempet nggak ya?”
Aku hanya mengangkat bahu.”Aku baca apaan dong, Mas?” tanyanya.”Ha?!” kaget juga aku. “Kamu nggak tau bakal mbaca apa nanti?”
“He-eh.”
“Walah! Ya udah mbaca Gadis Pantai aja seperti di RRI kemarin…” usulku.
“Duh, mbacaku jelek, Mas…”
“Orang kan nggak liat cara mbaca kamu, Hepi…” jawabku. Tapi tentu dalam hati. Hehe!
Saat masih mengobrol dengan Hepi Salma, kulihat Pram dikerubungi orang-orang. Begitu sudah sepi aku mendekatinya. Kuucapkan selamat ulang tahun sembari mencium kedua pipinya.”Kapan dari Bandung?” tanyanya.”Tak lama baru sampai,”
Ia hanya terkekeh seperti biasa.
Taufik Razhen pun menggiring Pram masuk ke ruangan acara. Orang-orang makin banyak dan berkerumun. Setelah hadirin masuk, acara pun dimulai. Di layar diputar tayangan video 81 kalimat-kalimat yang diambil dari karya maupun wawancara Pram. Lengkap dengan foto-foto Pram. Cukup lama tayangan ini. Setelah itu MC dengan Jeans-nya yang robek-robek pun mulai membacakan prolognya. MC mengajak semua orang menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dan bertepuk memberi ucapan pada Pram. Hadirin pun berdiri. Pram yang duduk di bagian paling belakang (atas) pun ikut berdiri melambaikan tangan.
Acara pertama diisi dengan penampilan grup musik (reggae?) yang cukup asyik. Ada harmoni suasana yang bisa kunikmati di sana. Sayang, aku tak mencatat acara ini, termasuk nama-nama grup musiknya. Maafkan. Entah kenapa, ada rasa malas mencatat acara ultah Pram kali ini.
Penampil kedua: Rieke Diyah Pitaloka, membacakan sejumlah puisi. Aksinya menarik. Ia melantunkan sebuah tembang sejak dari arah belakang ruangan sampai ke atas panggung. Lalu ia membaca puisi-puisinya yang diambil dari buku kumpulan puisi terbarunya terbitan GPU. Usai membacakan puisi, ia menghadiahi Pram bukunya itu.
Acara selanjutnya seorang pengamen membawakan tembang dengan judul BBM dengan gitar akustik. Karena tidak terniatkan menulis catatan ini, jadinya aku betul-betul lupa nama si penampil. Sekali lagi maaf.
Acara berikutnya, adalah acara yang membuatku keluar ruangan pada akhirnya. Sebuah grup punk. Gayanya memang menarik dan atraktif. Tapi setelah lagu pertama dimulai, serta merta puluhan anak punk merapat ke panggung. Mereka menari ala punk (maaf aku lupa istilahnya). Suasana menjadi gaduh, hiruk pikuk, tidak terarah belum lagi ditingkahi musik keras seperti itu.
Aku masih bertahan di dalam ruangan. Yang menari di bibir panggung makin atraktif. Makin menjadi. Makin tak karuan. Maaf, tentu saja ini semua merupakan pendapatku pribadi sebagai individu. Aku bukan tidak suka dengan penampilan si pemusik, suka sekali malah, juga para “penggembira” yang menari di bibir panggung. Hanya saja semua ini terjadi di acara ultah Pram, rasanya jadi jengah dan aku tak mendapatkan makna apa-apa dari penampilan satu ini.
Sekali lagi ini murni pendapat pribadi sebagai individu. Sudah barang tentu orang lain tak musti setuju dengan pendapatku ini. Aku berani taruhan kalau Pram di ujung atas sana sama sekali tak mendengar apa-apa dari musik yang dimainkan. Sudah dapat dipastikan: yang Pram lihat dari tempat duduknya: anak muda yang sedang berjingkrak-jingkrak!
Aku pun memutuskan ngeloyor keluar ruangan. Di luar kudapati Sihar Ramses Simatupang dan Badri. Aku lebih memilih nongkrong dengan mereka di luar. Cukup lama kami menghabiskan obrolan di luar.
Saat kulongok ke dalam, Pram sudah mulai berorasi dan tanya jawab dengan hadirin dipandu oleh Taufik Razhen. Aku bisa bernafas lega untuk kembali masuk ruangan. Sihar kulihat sudah mulai mengeluarkan catatan.
“Akan kutulis sesuatu yang seru di ultah Pram kali ini!” ujarnya dengan mata penuh rencana.
“Tentang penampilan punk tadi?”
“Hehe! Lihat saja nanti!”
“Husy, mau usil kamu?”
Dia hanya nyengir.
Sihar memang bekerja di Harian Sinar Harapan.
Tanya jawab pun berlangsung dengan seru dan alot. Yeni Rosa Damayanti mempersoalan kenapa Pram menjual hak film Bumi Manusia sebesar Rp 1,5 milyar rupiah. Yeni yang tadinya salut pada Pram atas karya-karya serta perjuangannya, menjadi sedih dan menuduh Pram mulai berlaku kapitalis terhadap karyanya sendiri.
Hal ini menjadi topik yang seru ketimbang pertanyaan-pertanyaan lain yang sempat terlontar. Pram sendiri menjawab, bahwa itu merupakan hak publik untuk tidak setuju. Pram berpendapat, siapa yang membela dia saat buku-bukunya dilarang, dibakar, difotokopi, adakah? Apakah saat itu saya mendapatkan royalti dari buku-buku yang banyak difotokopi? Ada yang membela saya? ujar Pram.
Hadirin yang lain pun meningkahi dengan pro dan kontra. Ada yang berpendapat, angka Rp 1,5 milyar untuk copyright Bumi Manusia yang difilmkan sangatlah kecil dibandingkan harga copyright penulis-penulis luar negeri yang novelnya difilmkan oleh Hollywood. Yeni berharap Pram tidak menjadikan karyanya sebagai produk yang dikapitalisasi.
Kulihat Mbak Faiza Mardzoeki, Istri Max Lane (penterjemah Tetralogi dalam English), angkat bicara. Max sendiri ada di sebelahnya. Menurut Faiza, ia saat ini sedang berencana mengangkat Bumi Manusia ke dalam bentuk panggung dengan judul Nyai Ontosoroh. Dengan lugas ia mengakui, Pram tidak meminta bayaran apapun atas novelnya tersebut untuk diadaptasi dalam bentuk pementasan teater. Max Lane sendiri pun ikut unjuk bicara.
Diskusi makin seru. Hal-hal yang terakhir ini (tanya jawab dengan Pram dalam diskusi) yang cukup memberikan ongkos pikiranku dalam acara ultah malam ini. Bersyukur Pram masih mau naik panggung dan melakukan dialog dengan hadirin. Karena meski semua yang diucapkan Pram di atas panggung telah lagi kudengar ratusan kali dari mulut Pram sendiri, tapi paling tidak ada yang bisa membekas dalam hati dan pikiran untuk acara ultahnya ke-81 ini.
Acara pun usai. Hadirin mulai keluar ruangan. Tak sedikit yang mencegat Pram untuk minta tanda tangan. Keluarga Pram mulai bersiap-siap pulang.”Ke Utan Kayu, Daniel?” ajak Ibu Maemunah. Aku bersorak girang mendapat tempat menginap.”Ayo ikut Daniel!” tambah Mbak Rina, anak kedua Pram dari Ibu Mae.Dan malam pun ditutup dengan selimut hitamnya…
Jakarta, 6 Februari 2006
(awalnya catatan ini hanya untuk di-publish di milis:

